Konten dari Pengguna

Bagaimana Kalau Direbus?

Abdulah Wisesa

Abdulah Wisesa

Wakil Sekretaris Dewan Kesenian Indramayu (DKI), membidangi pada Pengembangan Bahasa dan Sastra di Lembaga Basa dan Sastra Dermayu (LBSD), dan aktif di Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Pelayan sayur yang mencintai kata antaraksara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdulah Wisesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepiker Musala Al-Islam, Bulak Lor Jatibarang Indramayu. Foto: istimewa/Toing (27/2/2022)
zoom-in-whitePerbesar
Sepiker Musala Al-Islam, Bulak Lor Jatibarang Indramayu. Foto: istimewa/Toing (27/2/2022)

Taukah Anda, bahwasannya TOA tidak ada dalam KBBI, loh. Banyak dari kita bahwa TOA disebutnya pengeras suara. Pada kenyataannya, pernyataan ini kurang tepat. TOA adalah nama merek dagang elektronik. Lantas yang termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) apa? Tentunya sepiker yang artinya pengeras suara. Kosakata sepiker serapan dari bahasa Inggris, yaitu speaker.

Sepiker dan anjing tidaklah salah karena keduanya termasuk kelas kata nomina atau benda. Bahkan untuk digunakan bagaimana pun tak salah. Oleh sebab itu, siapa yang salah? Para penggunanya yang tidak mengerti atau menyalahi aturan yang berlaku, azan subuh dikumandang di masjid pada pukul sembilan pagi, misalnya. Dalam hal ini, sepiker tidak salah, tetapi yang mengumandangkanlah yang kurang tepat.

Sampai kapan berakhirnya pembahasan masalah sepiker dan anjing berakhir? Sudah redakah? Barangkali mereda dengan sendirinya atau ada tindakan yang intens, misalnya klarifikasi sekaligus meminta maaf kepada khalayak ramai melalui media. Hal ini bukan berarti menyudutkan Gus Yaqut.

"Zaman sekarang beda dengan zaman dahulu, zaman sekarang ongkosnya mahal'' penggalan lirik lagunya Iwan Fals-Penyanyi Jalanan. Zaman sekarang jangan ditanyakan lagi dengan berita, tinggal klik, maka terbukalah apa yang ingin diketahui. Berita apa saja sedang populer atau menarik untuk dikomentari. Sebagian dari pengguna media sosial selalu cepat menjustifikasikan: ini kurang beradab disampaikan, ini tidak pantas ditampilkan, di mana-mana cas-cis-cus. Sebagian pengguna lainnya tidak menjustifikasikan, tetapi mencari referensi atau tabayun. Kebanyakan dari kita yaitu ikut merayakan ketidaktahuan.

Anjing Menurut Syekh Nawawi Banten

Pada umumnya orang mengecap anjing menjijikkan, najis, dan tentunya haram untuk dimakan. Pada umumnya pula, kebanyakan umat Islam sangat berhati-hati apabila di sekitarnya ada anjing. Pasalnya, anjing termasuk binatang yang tingkat najisnya paling tinggi. Akan tetapi, dengan najisnya yang mahaberat, anjing memiliki nilai baik menurut Syekh Nawawi Banten.

Pada kitab fikih mazhab Imam Syafii, anjing ialah binatang yang dihukumi najis yang tidak ringan. Lantas apa saja yang diambil positifnya pada binatang yang menggonggong? Berikut Syekh Nawawi Banten dalam fikih yang bermazhab Imam Syafii dalam kitab Kasyifatus Saja, yaitu pada pasal Fi Bayani Al-Ayan An-Najisah.

  1. Anjing senantiasa dalam keadaan lapar. Merupakan sifat dan ciri-ciri orang-orang saleh.

  2. Untuk tidur pada malam hari, anjing hanya memakan waktu tidak banyak. Hal ini merupakan kebiasaan para ahli tahajud.

  3. Anjing tak akan pergi walaupun diusir oleh tuannya. Bahkan sering dipukul pun tak akan meninggalkan tuannya. Ini merupakan sifat orang-orang yang jujur dan setia dalam mengabdi dan menyembah.

  4. Ketika mati, anjing tidak meninggalkan warisan. Sifat ini merupakan orang-orang yang zuhud.

  5. Menerima pada tempat yang rendah. Sifat ini merupakan dari orang-orang yang rida atau ikhlas atas derajat yang diberikan Allah dan orang lain.

  6. Anjing melihat pada setiap orang yang memperhatikannya hingga memberikan sesuap makanan. Ini merupakan bagian dari budi pekerti atau akhlak orang-orang miskin.

  7. Ketika dilempari debu, ia tidak marah dan tidak dendam. Merupakan sifat dari orang-orang yang berbelas kasih.

  8. Apabila tempat tinggalnya telah ditempati hewan lain, maka anjing akan berpindah ke tempat yang lain. Hal Ini merupakan sifat orang-orang terpuji.

  9. Anjing menerima makanan walau hanya sesuap makanan, maka senantiasa menerima untuk memakannya. Ini merupakan sifat dari orang-orang kanaah atau menerima apa yang diberikan oleh Allah dan orang lain.

  10. Ke mana saja pergi, anjing tidak pernah membawa bekal. Ini merupakan tanda-tanda dari sifat orang-orang yang bertawakal.

Sepuluh poin yang nilainya berpengaruh baik antara hamba kepada Sang Pencipta. Alangkah baiknya seorang tokoh atau kita untuk becermin dahulu sebelum menyampaikan kepada khalayak ramai. Tentunya menyampaikan dengan eufemisme yang baik. ''Cermin tidak menipu penampilan" kata pengarang novel Salah Asuhan, Abdul Muis.

Analogi Azan yang Kurang Tepat

Kumandang azan bukan sekadar menandakan masuknya waktu salat saja, melainkan untuk bayi yang baru lahir, orang kesurupan, ketika bepergian jauh (musafir), dan seterusnya. Saat ziarah, pernah menyaksikan jamaah lain mengumandangkan azan sebagai zikir. Lafaz-lafaz azan menggemuruh dalam sunyi.

Pada media sosial ramai dengan azan yang dianalogikan dengan anjing. Oleh karena itu, sebagian dari kita tak acuh dengan ramainya berita mengenai azan. Sebagiannya lagi acuh dengan ketidakwajaran yang disampaikan oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Entah video itu dipotong atau tidak, tetaplah kurang tepat.

Aturan mengenai azan sebenarnya sudah diatur pada tahun 1987. Hanya saja ketidaktahuan kita akan informasi tersebut. Hal ini berawal dari surat edaran salah satu poin penting—diatur dalam surat edaran untuk mengatur durasi takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di masjid/musala pada saat malam takbiran yang dapat dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bagian luar sampai pukul 22.00 waktu setempat. Dari sini, mencuat sampai mengenai azan.

Pada SE Menag No 5. Tahun 2022, penggunaan pengeras suara di masjid dan musala dengan tujuan meningkatkan ketenteraman, ketertiban, dan keharmonisan antarwarga. Dengan demikian yang dimaksud dari Menag yaitu mengatur volume sesuai kebutuhan, maksimal 100 dB.

Seandainya waktu Gus Dur melontarkan Al-Quran itu porno pada masa sekarang atau sudah adanya media sosial, besar kemungkinan seperti yang dialami Menag: digoreng sampai matang. Mengingat kekurangan minyak goreng yang belum pulih di negara yang kaya ini, bagaimana kalau direbus saja?

Puisi Bagian dari Obat

Berangkat dari sepiker yang masih hangat setelah direbus, teringat puisinya K.H. A. Mustofa Bisri atau yang biasa akrab dipanggil Gus Mus dari Rembang, Jawa Tengah. Puisi bagian dari obat untuk menenteramkan jiwa yang sedang lelah. Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah juga pernah membacakan puisinya Gus Mus dan hampir saja dilaporkan oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) karena penggalan puisi pada bait "Kau bilang Tuhan sangat dekat. Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat." Puisi setidaknya untuk wawas diri.

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana

Kau ini bagaimana

Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggil-Nya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap wallahualam bissawab

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kuplilih, kau bertindak sendiri semaumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana

Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau

Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana

Atau aku harus bagaimana

Rembang, 1987.

Perspektif menghadapi kehidupan bukan sekadar enaknya kongko-kongko di lepau. Ada waktunya untuk tidak enak dalam menjalani seni kehidupan. Jalan tidak seterusnya mulus, suatu saat akan berlubang.