5 Hal yang Terjadi Jika Manusia Memaksa Memakai 100 Persen Kemampuan Otak

Seorang dokter yang hobi menulis, berpetualang dan haus akan ilmu pengetahuan
Konten dari Pengguna
26 Februari 2023 19:12
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Setyo Ari Cahyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi otak manusia. Foto: pixabay/TheDigitalArtist
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi otak manusia. Foto: pixabay/TheDigitalArtist
Mengakses otak 100 persen tidak menjadikan kita manusia super.
Pada umumnya manusia hanya menggunakan 10 persen kemampuan otaknya. Lucy, tokoh film Hollywood berhasil mencapai kemampuan otak 100 persen. Dia bisa mengendalikan waktu, telekinesis, telepati melalui jaringan komunikasi digital, dan akhirnya dia menjelma menjadi superkomputer.
Otak manusia sebenarnya telah bekerja (load) sebanyak 100 persen. Namun, hanya 10 persen kemampuan kita dalam pengendalian terhadap otak ini. Sebab, banyak sistem tubuh kita bekerja secara otomatis tanpa kita sadari seperti jantung berdetak, paru mengembang, mulut mengeluarkan air liur, dan banyak lagi hal yang diatur oleh sistem autonomous nerve system kita.
Lantas, apa yang terjadi jika kita memang benar-benar bisa memakai otak kita 100 persen? Alih-alih kemampuan superhero yang kita dapat, tapi justru terdengar cukup fatal. Inilah lima hal yang setidaknya akan terjadi jika kita mampu mengakses 100 persen kapasitas otak kita.

1. Kerumitan Proses Otak Bikin Kejang

Ilustrasi otak manusia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi otak manusia. Foto: Shutterstock
Sebagaimana sudah terbukti sekarang, menggunakan 100 persen dari otak kita bukanlah suatu hipotetis, semua otak kita sudah digunakan. Jika tidak maka akan cepat hilang, karena otak berusaha untuk efisiensi dan bagian yang tidak digunakan akan terbuang.
Semua rangsangan yang masuk, semua bagian otak yang berwarna putih dan abu-abu itu digunakan sekaligus, itu akan menjadi kejang besar dan kemungkinan besar kita akan mati setelah beberapa saat.
Mengatur 100 persen otak kita itu, itu berbeda. Itu pada dasarnya mengatakan, bagaimana jika kita secara sadar dapat mengendalikan semua fungsi dan aktivitas di otak kita. Kedengarannya luar biasa, super kuat, dan namun sebenarnya benar-benar fatal.

2. Mengatur Detak Jantung Sesuai Keinginan Bikin Gampang Lelah

Ilustrasi jantung. Foto: Explode/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jantung. Foto: Explode/Shutterstock
Kita tidak ingin menyadari dan mengendalikan semua yang terjadi di tubuh dan faktanya kita memang tidak mampu mengendalikan segalanya. Contoh sederhana, kita bernapas otomatis tetapi kita juga mengembangkan kemampuan untuk secara sadar mengendalikan pernapasan kita. Itu berguna dalam situasi di mana pernapasan mungkin berbahaya atau tidak mungkin, juga membantu kita berenang.
Sekarang coba kendalikan detak jantungmu. Anda sekarang mengendalikan jantung Anda, sambil terus mencobanya. Jantung akan cepat menjadi rusak dan berhenti, lalu organisme mati.

3. Mata Super Capek

Bagaimana dengan penglihatan atau pendengaran yang lebih rumit? Kamu benar-benar ingin mengatur seluruh proses visual dari foton (partikel cahaya) sampai ke penerjemahan pandangan. Mengambil dan menyusun penglihatan ke dalam elemen dasarnya, menganalisis elemen-elemen tersebut melalui dua mata untuk mengekstrak semua informasi. Kamu akan merasakan kelelahan 1 menit setelah membuka mata.
Sama berlaku untuk indra lainnya. Bagaimana dengan ritme kehidupan? Itu akan membunuhmu juga jika kamu mengacaukannya, kita harus menjaga gelombang sinus itu pergi.

4. Telinga Lambat Mendengar

ilustrasi telinga wanita. Foto: Flickr
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi telinga wanita. Foto: Flickr
Dunia dipenuhi oleh ribuan bahkan jutaan suara yang berbeda. Setidaknya di lingkungan saat ini kita berdiri, kita harus secara otomatis mendengarkan suara dengan frekuensi terbesar dan menganggapnya sebagai suara yang lebih penting didengarkan.
Manusia mendengarkan suara dengan frekuensi 20-20.000 Hertz. Suara lingkungan sekitar yang biasa kita dengar tiap hari malah berkisar hanya 250 Hz-6.000 Hz. Suara ditangkap oleh daun telinga, dan diteruskan dengan tulang penguat di telinga tengah, lalu dihantarkan syaraf ke otak dan diterjemahkan sebagai bunyi yang kita dengar.
Jika otak kita secara sadar mengetahui dan menelusuri prosesnya kita akan tampak seperti orang tuli karena menerjemahkan bermacam suara dan memilah frekuensinya itu seperti anak kecil tersesat berada di kerumunan pasar dan mencari ibunya, kita tidak secara cepat mengartikan bunyi itu apa dan darimana sumbernya.

5. Bikin Kita Gampang Terbunuh

Ilustrasi pohon roboh. Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pohon roboh. Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Pada saat dihadapkan kondisi yang mengancam, otak memberikan stimulus cepat dan aktif untuk tubuh otomatis menghindarinya, tanpa harus memikirkan terlebih dahulu dan memproses bahaya itu terlalu lama. Apa jadinya jika kita mengendalikan refleks itu? Terlambat, kita mungkin akan terperosok jurang atau dahan patah jika harus mempelajari kondisi ancaman itu kelewat lama.
Otak kita melakukan dan mengatur begitu banyak hal dalam tubuh kita, jumlah yang sangat banyak akan membanjiri pikiran kita, dan penambahan pengambilan keputusan yang datang dengan regulasi sadar pasti akan mengarah pada kematian yang lebih cepat.