Konten dari Pengguna

Bangkitkan Lagi Semangat Belajar Bahasa Indonesia di Australia!

Dominggus Suebu

Dominggus Suebu

Diplomat at Ministry of Foreign Affairs Indonesia. Member of Sesdilu Batch 79

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dominggus Suebu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hubungan Indonesia-Australia. (Shutterstock/ft)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hubungan Indonesia-Australia. (Shutterstock/ft)

Di tengah meningkatnya peran strategis Indonesia di kawasan Asia-Pasifik, kemampuan berbahasa Indonesia seharusnya menjadi aset penting bagi Australia. Namun kenyataannya, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia justru terus menurun. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan perubahan preferensi siswa, tetapi juga mencerminkan tantangan yang lebih dalam: jarak kultural yang semakin melebar antara dua negara bertetangga ini.

Dari Puncak ke Jurang Penurunan

Pada dekade 1990-an, bahasa Indonesia sempat menjadi salah satu bahasa asing paling populer di Australia. Namun kini, jumlah siswa yang mempelajarinya menurun drastis, hingga 80 persen dalam dua dekade terakhir, menurut penelitian University of Melbourne.

Di negara bagian Victoria misalnya, hanya sekitar 3 persen siswa yang melanjutkan pelajaran bahasa Indonesia hingga tingkat akhir sekolah menengah (Year 12). Sekolah-sekolah ternama seperti Scotch College di Melbourne bahkan telah menutup program bahasa Indonesia mereka, setelah lebih dari setengah abad berjalan.

Scotch College sudah terapkan kurikulum Bahasa Indonesia sejak tahun 1960-an. ABC News: Simon Tucci

Keputusan seperti ini menimbulkan keprihatinan, bukan karena satu program berhenti, melainkan karena mencerminkan tren nasional yang lebih luas: bahasa Indonesia kehilangan tempatnya di ruang kelas Australia.

Mengapa Bahasa Indonesia Mulai Ditinggalkan?

Ada beberapa faktor yang mendorong penurunan ini. Pertama, “kebijakan pendidikan yang terdesentralisasi”, membuat bahasa asing yang diajarkan di sekolah ditentukan oleh masing-masing institusi. Ketika sumber daya terbatas, bahasa Indonesia kerap kalah prioritas dibanding bahasa Mandarin, Jepang, atau Prancis.

Kedua, “Persepsi publik” juga berperan besar. Bahasa Indonesia sering dianggap tidak “bergengsi” atau kurang relevan dengan karier masa depan. Banyak siswa menganggapnya terlalu mudah di tahap awal, tapi kehilangan tantangan dan daya tarik di tingkat lanjut.

Ketiga, “keterbatasan guru dan materi ajar” turut memperparah keadaan. Banyak sekolah kesulitan mendapatkan pengajar berkualifikasi, sementara materi pelajaran dinilai usang dan tidak menarik bagi generasi digital yang terbiasa dengan konten visual dan budaya pop. Seorang analis dari Australian Institute of International Affairs menyebut, “sate dan batik sudah tidak cukup untuk menarik minat siswa tahun 2025.”

Bukan Sekadar Soal Bahasa

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga jembatan untuk memahami cara berpikir, nilai, dan budaya suatu bangsa. Ketika Australia kehilangan kemampuan untuk berbahasa Indonesia, sesungguhnya yang hilang adalah kemampuan untuk memahami tetangganya secara lebih mendalam.

Dalam konteks diplomasi dan kerja sama regional, hal ini menjadi ironi. Pemerintah kedua negara gencar memperkuat hubungan strategis di bidang ekonomi dan pendidikan. Namun di sisi lain, di ruang kelas, fondasi paling dasar dari hubungan antarbangsa, ikatan itu justru melemah.

Sebuah artikel dari “Indonesia at Melbourne” bahkan menyimpulkan, “Australia mendengar, tetapi tidak mendengarkan.” Artinya, relasi yang tampak dekat di level diplomasi belum sepenuhnya diimbangi dengan kedekatan kultural dan linguistik.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Ada tiga hal mendesak yang bisa menjadi langkah awal:

1. Perlakukan bahasa Indonesia sebagai aset strategis, bukan sekadar pilihan akademik.

Pemerintah Australia perlu menempatkan pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya sebagai kurikulum dan perekat people-to-people, namun sebagai investasi ekonomi jangka panjang.

2. Modernisasi cara pengajaran

Bahasa Indonesia harus diajarkan dengan cara yang kontekstual, menarik, dan relevan. Integrasi media digital, film, musik, dan budaya populer Indonesia dapat menghidupkan kembali minat siswa.

3. Kerja sama yang lebih aktif dengan Indonesia.

Program pertukaran guru, beasiswa pelatihan, dan inisiatif immersion budaya bisa memperkuat koneksi langsung. Pemerintah Indonesia juga perlu berperan aktif dalam mendukung pengajaran bahasa melalui skema pengiriman guru dan materi ajar terkini.

Program Duta Belajar Bahasa Indonesia (Indonesian Language Learning Ambassador - ILLA). Sumber: Kedubes Australia

Menjaga Percakapan Tetangga

Menurunnya pembelajaran bahasa Indonesia di Australia bukan sekadar masalah pendidikan; ini adalah ujian hubungan antarbangsa. Sebab, hubungan yang kokoh tidak hanya dibangun dari perjanjian dan proyek besar, tapi juga dari kemampuan untuk “berbicara dan memahami” dalam bahasa satu sama lain.

Jika tren ini dibiarkan, bisa jadi di masa depan generasi muda Australia hanya mengenal Indonesia melalui terjemahan dan kehilangan kemampuan untuk mendengar suara tetangganya secara langsung.

Saatnya Australia (dan Indonesia) memastikan bahwa kemitraan strategis di atas kertas juga hidup dalam ruang kelas. Sebab, masa depan hubungan kedua negara tidak hanya ditulis dalam bahasa diplomasi, tetapi juga dalam bahasa Indonesia itu sendiri.

KJRI Perth menginisiasi program Bahasa Indonesia Student Awards bagi siswa-siswi Western Australia yang menunjukan performa terbaik dalam mempelajari Bahasa Indonesia tiap tahun. Sumber: KJRI Perth