Konten dari Pengguna

Diperjalankan

Donny Kurniawan

Donny Kurniawan

Arek Malang Indonesia

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17:1).

Mendalami dan menghayati bahwa manusia sesungguhnya adalah makhluk yang diperjalankan. Dalam sholat, manusia hanya bisa meminta untuk selalu ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu menjalankan segala perintah Allah, menjalankan sekuat tenaga apa yang disukai Allah, dan menjauhi segala larangan Allah, menjauhi sekuat tenaga apa yang tidak disukai Allah. Dalam kehidupan dan aktifitas sehari-hari manusia hanya bisa berjalan dengan cara diperjalankan oleh Allah.

Dalam perjalanan, kita tidak akan pernah tau apa yang ada dimasa depan. Layaknya ruangan gelap tanpa cahaya, kita hanya bisa mengkalkulasi kira-kira apaa yang ada didepan. Batasan pengetahuan kita akan “depan” sangat amat minim. Oleh karena itu bantuan Allah-lah yang hanya bisa kita andalkan. Bukan “kesombongan” pengetahuan kita akan ramalan, kalkulasi, dan perkiraan apa yang ada didepan.

Tetapi selam perjalanan kita menuju kebaikan, selalu ada nilai-nilai yang dapat kita ambil. Dan percaya tidak percaya, nilai-nilai yang kita dapatkan selama perjalanan menuju kebaikan adalah nilai yang selalu baik. Jika dirasa tidak baik, maka ia kebaikan yang manyamar. Jika dirasa belum baik, maka pengetahuan kita akan nilai utamanya masih belum kita resapi. Dan nilai-nilai itu adalah bukti kebesaran-Nya.

Jika anda naik motor menuju ke kantor, panca indra apa yang and gunakan dengan sangat untuk menjauhi dari kecelakaan, salah jalan, dan sebagainya? Menurut saya indra yang digunakan adalah indra pendengaran dan penglihatan. Semua kendaraan di depan anda, anda lihat dengan mata anda. Kanan kiri dan belakang anda, anda awasi dengan pendengaran anda. Pemberitahuan tentang bahaya juga kita representasikan dengan klakson, alarm, yang notabene adalah suara. Hematnya, ada yang lebih mengenal pendengaran, dan penglihatan yaitu yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sebaik-baiknya 2 indra kita tersebut, semua itu terbatas. Tanpa izinNya pun, kita tidak akan bisa apa-apa. Tanpa menyadari bahwa ada yang Maha mendengar dan melihat, keikhlasan tidak akan pernah kita dapatkan.

Seringkali kita mengeluh terhadap kejadian-kejadian yang kita alami dalam perjalanan tersebut. Kita terkadang sangat sombong dengan men-Tuhankan perhitungan kita. Kita seringkali lupa dan menolak bahwa kalkulasi tercepat dan terjauh dalam skala ruang dan waktu serta nilai adalah yang Maha Menciptakan. Akhirnya manusia menjadi bersedih, marah, takut, ngersulo dan lain sebagainya.

Sungguh sebenarnya sudah cukup usaha kita sebaik-baiknya dalam berjalan. Karena sebenarnya, kita itu hanya diperjalankan. Memang ada yang tidak diperjalankan? Memang ada yang berjalan tanpa izinNya?