China Hilangkan Israel dari Peta Digital

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terkait perang antara Hamas dan Israel, China sangat ingin berperan dalam mengatasi peperangan ini. Tidak lama setelah pasukan pembebasan Hamas melepaskan roket pertama ke Israel, China langsung mengirimkan utusan khusus untuk Asia Barat.
Dia menawarkan upaya untuk menengahi peperangan yang sebetulnya adalah pembersihan etnik (ethnic cleansing) yang dilakukan oleh pemerintah zionis Israel terhadap warga Palestina.
Perlu dicatat, wilayah Timur Tengah sebetulnya jauh dari lingkungan pengaruh China. Tapi, Presiden Xi Jinping ingin menjadi lebih dari sekedar penonton. Dia hendak menjadi pemain di wilayah ini; seseorang yang dapat membentuk dan memengaruhi hasil yang diinginkan.
Tetapi agaknya keinginan itu mungkin tidak terjadi lagi. Hal ini terungkap setelah China melakukan aksi terbarunya; mereka menghapus Israel dari peta digital . Raksasa teknologi China mulai melakukannya.
Kalau kita menatap layar internet, Israel tidak ada lagi dalam peta dunia yang dikeluarkan China. Kita bisa melihat perbatasan dan kota yang disengketakan. Ada pembagian wilayah yang jelas; demarkasi yang tegas antara wilayah Israel dan wilayah Palestina. Negara-negara lain bisa diidentifikasi.
Ada Lebanon, Suriah, Yordania, dan Mesir, tetapi tidak ada Israel. Ini bukan Google Maps karena Google Maps diblokir di China. China memiliki dua perusahaan yang menyediakan layanan pemetaan, yakni Bidu dan Alibaba. Keduanya telah menghapus Israel.
Para pengguna internet di China tidak dapat menemukan Israel di peta. Ada yang menduga ini semacam software bug, tapi banyak yang melihat ini adalah salvo politik. Hal tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan warganet di China.
Lenyapnya Israel dalam peta dunia tengah menjadi trending di pelbagai platform di China. Bahkan persoalan ini menjadi berita utama di seluruh dunia. Kedua raksasa teknologi ini hanya bersikap diam dan tidak mau repot-repot menjelaskan apa yang tengah terjadi.
Sulit untuk percaya bahwa ini sekadar software bug karena China sangat serius mengeluarkan petanya. Peta adalah alat bagi China. Negara Tirai Bambu itu menggunakan peta untuk menegaskan klaim teritorialnya dan juga untuk menyampaikan posisi kebijakannya.
Perusahaan internet hanya menegaskan klaim dan kebijakan Partai Komunis China. Dengan arti kata, peta ini mencerminkan pandangan dunia China. Kini peta itu tidak lagi memuat Israel. Lalu, pesan apa yang hendak Beijing sampaikan dengan pilihan keputusan ini?
Ketika dimintai konformasi tentang hal ini, Kementerian Luar Negeri China memberikan tanggapan yang tidak jelas dengan menyatakan bahwa China dan Israel telah menjalankan hubungan diplomati yang normal.
Negara-negara yang relevan dengan kepentingan China ditandai oleh peta. Dengan pernyataan ini apakah itu berarti Israel bukan negara yang relevan bagi China? Lagi-lagi pihak China tidak memberikan jawaban yang tegas.
Bila kita bertanya di mana posisi China terkait peang antara Hamas dan Israel? China hanya menyatakan kenetralannya. Pihak China menghimbau gencatan senjata sesegera mungkin bagi perlindungan terhadap warga sipil dan pembentukan negara Palestina merdeka.
Gerakan anti-Semitisme meningkat di China dan tampaknya mendapat dukungan negara. Internet China yang dengan ketat dikendalikan oleh pemerintah kini dibanjiri dengan kebencian terhadap Israel.
Sikap ini didorong oleh tokoh-tokoh berpengaruh, seperti Hu Xijin, mantan editor The Global Times. Ketika baru-baru ini seorang Menteri Israel mengkritik Hizbullah yang ikut menyerang Israel, Hu Xijin berkomentar, “Oh calm down, Israel I'm worried you wipe the Earth out of the solar system” (Tenanglah Israel, saya khawatir kamu akan memusnahkan Bumi dari tata surya—New York Times, 28 Oktober 2023).
Media massa di China banyak menyuarakan kemarahan dan kebencian kepada Israel. Baru-baru ini sebuah televisi pemerintah mengadakan diskusi tentang bagaimana orang-orang Yahudi mengontrol kekayaan di Amerika Serikat.
Jelas ini benar merupakan cerminan dari bagaimana China melihat Israel lewat hubungannya dengan AS. China memiliki pandangan bahwa Israel merupakan sekutu dekat Amerika, dan karenanya tidak bisa menjadi sahabat China.
Ini merupakan keyakinan populer. Begitulah bagaimana China memandang Israel, Beijing bisa saja menyensor ujaran kebencian itu dan memusatkan upayanya untuk membangun hubungan dengan Israel. Tapi nyatanya pemerintah China tidak melakukannya.
Semua ini—menghapus Israel dari peta dunia dan opini publik China yang miring tentang Israel—menunjukkan sikap dan keberpihakan diam-diam pemerintah China. Mau tak mau, Israel harus memperhatikannya.
Ketika mengunjungi China pada 2017, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanjahu, menyatakan bahwa hubungan antara Israel dan China layaknya pernikahan sorgawi (a marriage made in heaven). Kini ucapan itu hanya berumur jagung dan tidak relevan lagi.
