Konten dari Pengguna

Gen Z di Amerika Serikat Enggan Menjadi Tentara

Donny Syofyan

Donny Syofyan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Shutterstock

Tentara Amerika Serikat sekarang tidak hanya disibukkan menghadapi musuhnya yang paling tangguh, Cina atau Rusia, tetapi juga Gen Z. Ini serius. Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1996 dan 2010. Generasi ini dikenal dengan Tik Tok dan avocado toast. Sekarang mereka menunjukkan respons yang tidak hangat atas peluang pekerjaan yang mengenakan sepatu bot tempur. Gen Z tidak ingin masuk tentara. Tak ayal ini menyebabkan krisis perekrutan di militer AS.

Ada beberapa faktor yang perlu dicermati. Pertama, ini menyangkut diakhirinya wajib militer pada 1973. Sebelum 1973, wajib militer diberlakukan kepada warga AS. Setelah 1973 wajib militer ditiadakan dan bersifat menjadi sukarela. 50 tahun telah berlalu, sekarang militer AS menghadapi krisis perekrutan terburuk dalam sejarah. Kita bisa berbicara tentang angkanya. Militer gagal memenuhi target rekrutmen. Tanda-tanda telah muncul sebelumnya, tetapi tahun 2023 ini jumlahnya sangat buruk.

Angkatan Darat diperkirakan tidak mampu merekrut 15.000 prajurit baru, Angkatan Laut sebesar 10.000 dan Angkatan Udara 3.000. Jadi ketiga angkatan ini diyakini tidak mampu memenuhi target rekrutmen sekitar 28.000 orang. Militer AS kini memiliki 1,4 juta personel aktif. Jadi ada defisit 30.000 rekrutmen.

Ini mungkin tidak terlihat seperti masalah besar tetapi Pentagon tidak berpikir begitu. Militer AS Ini adalah tentara terbesar ketiga di dunia dari segi jumlah. Penurunan angka dapat menghalangi pertahanan AS.

Lalu, apa yang bisa menjelaskan kekurangan tersebut? Beberapa faktor tradisional, seperti pasar tenaga kerja yang kuat dan insentif yang lebih baik di sektor swasta. Tetapi faktor terbesar adalah Gen Z. Mereka sama sekali tidak tertarik pada dinas militer. Pentagon bahkan melakukan survei tentang ini. Mereka berbicara dengan orang kaum muda. Hanya 9% dari anak-anak muda ini yang tertarik masuk militer. Itu level terendah sejak 2007.

Tentara AS mengambil bagian dalam latihan militer bersama Freedom Shield antara Korea Selatan dan AS di Pocheon, Korea Selatan, Minggu (19/3/2023). Foto: Jung Yeon-je / AFP

Para pemimpin militer mengatakan mereka berjuang untuk mencapai target. Itu karena sebagian besar calon rekrutan tidak memenuhi standar. Data menunjukkan bahwa kaum muda sama sekali tidak tertarik. Mereka tidak melihat masa depan di angkatan bersenjata. Para kritikus mengatakan ini sebagai wujud kurangnya patriotisme, tetapi Gen Z Amerika punya pendapat lain. Mereka mengatakan patriotisme ala militer sudah kuno alias ketinggalan zaman.

Bagi Gen Z mengabdi kepada negara bukan hanya dengan menjadi tentara. Ada banyak jalan lain, seperti layanan sosial atau aktivisme politik. Mereka lebih cenderung untuk yang seperti ini. Ditambah lagi ada stabilitas ekonomi. Pasar tenaga kerja yang kuat secara historis dikaitkan dengan rendahnya perekrutan untuk militer.

Saat ini pasar tenaga kerja AS baik-baik saja. Ini menjadikan pesona militer kurang greget. Tidak mengherankan apa yang menjadi pilihan para pemuda. Hal lainnya adalah kurangnya kesadaran. Sebagian besar dari mereka tidak tahu apa dan bagaimana dengan menjadi tentara, waktu yang dihabiskan atau apa manfaatnya sebagai tentara.

Pada 2018 Angkatan Darat AS meluncurkan kampanye marketing. Mereka menginvestasikan sekitar US$ 4 miliar untuk kegiatan pemasaran, sebuah rencana dalam jangka waktu 10 tahun untuk menarik kaum muda. Tapi sejauh ini upaya itu belum kunjung membuahkan hasil.

Gen Z masih tidak menyambut hangat undangan itu. Bahkan jika Gen Z ini ingin masuk tentara, banyak yang bakal gagal memenuhi persyaratan. Anak-anak muda ini tidak memenuhi persyaratan yang terkait dengan kesehatan fisik dan mental. Banyak yang kelebihan berat badan.

Pasukan militer berjaga di Gedung Putih, Amerika Serikat, Sabtu (6/6). Foto: EUTERS / Lucas Jackson

Menurut John Hopkins, lebih dari setengah anak-anak muda Amerika yang berusia antara 18 dan 25 tahun kelebihan berat badan. Karenanya mereka tidak bisa mendaftar. Ditambah rekor anak-anak muda yang memiliki gangguan mental. Mereka tengah mencari bantuan lewat terapi. Orang yang punya isu mental bakal langsung terdiskualifikasi untuk masuk militer. Meskipun Gen Z ingin masuk tentara, mereka tidak bisa diterima karena faktor ini.

Apa yang dilakukan militer AS merespons keadaan ini? Tidak ada aturan apa pun yang diubah untuk saat ini. Pihak militer mulai memanfaatkan Tik Tok dengan pelbagai video semisal, "Get ready with me for a day in service" atau "Know Your Army." Pada dasarnya pihak militer mencoba segalanya. Beberapa angkatan menawarkan banyak insentif kepada kaum muda. Sayangnya lagi-agi hasilnya belum menggembirakan.

Tapi ada sesuatu yang menarik. Angkatan Udara AS baru-baru ini melonggarkan aturan untuk tato di tangan dan leher, serta pemakaian ganja pada masa lalu. Anda tidak akan didiskualifikasi dalam rekrutmen meskipun Anda pernah menggunakannya di masa lalu.

Ternyata relaksasi aturan ini sedikit meningkatkan angka rekrutmen. Boleh jadi itulah kuncinya. Saat kehidupan di militer dipenuhi kedisiplinan dan aturan ketat, beberapa hal agaknya perlu pembaruan. Seperti di zaman sekarang ini, kebutuhan dan pencarian akan terapi mental tidak dapat lagi dinilai sebagai kelemahan.

Haruskah Anda didiskualifikasi masuk militer karena pernah menggunakan obat terlarang di masa lalu? Ini menjadi hal yang perlu direnungkan. Militer AS dikenal memusatkan kekuatannya pada jaringan dan keragaman. AS membolehkan wanita dan komunitas LGBT untuk bekerja di militer. Tetapi secara historis jumlah mereka rendah.

Militer AS perlu kerja keras untuk memperbaiki ini. Militer AS juga pernah menjadi institusi yang mengilhami kisah kepahlawanan, seperti yang sering kita tonton dalam banyak film Hollywood. Namun kini kisah-kisah itu hanya sekadar masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri bagi Gen Z. Jika militer AS ingin bertahan dan relevan, adaptasi menjadi keniscayaan.