Hikmah Persaingan Saudara Kandung

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persaingan saudara kandung (sibling rivalry) tak terhindarkan tapi penting. Negara-negara kerap terlibat berperang untuk hal-hal yang tidak penting. Perusahaan telah menghasilkan pelbagai penemuan. Film berlomba menjadi blockbusters. Tapi ragam persaingan terbesar yang tak kalah menarik adalah persaingan sesama saudara kandung.
Qabil dan Habil, Pangeran William dan Pangeran Harry, Kim dan Kourtney Kardashian, Dexter dan Dee Dee. Contohnya ada di mana-mana, bahkan mungkin di keluarga Anda sendiri. Menjadi saudara kandung adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Ketika saudara kandung berbenturan, dunia menjadi tidak menentu.
Sejumlah pertanyaan penting yang acapkali diajukan adalah siapa yang memulai pertengkaran? Siapa yang benar? Siapa yang menjadi anak favorit? Dan boleh jadi pertanyaan penting selanjutnya adalah apakah pertengkaran kakak adik sesuatu yang biasa? Haruskah kakak adik menjadi pesaing satu sama lain?
Sains memiliki jawaban dan ini perlu diperhatikan oleh para orang tua yang lelah dengan anak-anak mereka yang sukar tidak diatur. Persaingan di antara saudara kandung ternyata baik untuk anak-anak. Ia mengajarkan bagaimana hidup atau bekerja dengan orang lain. Persaingan ini juga menjadi ‘kursus kilat’ untuk mengelola emosi, seperti iri, kebencian dan kemarahan.
Anggap saja ia sebagai pelatihan kerja awal. Sebuah penelitian dari Universitas Cambridge mengatakan bahwa persaingan antar saudara kandung memilki banyak manfaat. Ia meningkatkan perkembangan mental dan emosional.
Persaingan ini juga menumbuhkan kedewasaan, meningkatkan keterampilan sosial, seperti negosiasi, membujuk dan memecahkan masalah dan mengajarkan pelajaran tentang seluk-beluk bahasa. Dengan kata lain, persaingan di antara saudara kandung tidak hanya tidak bisa dihindari. Ia bisa mendidik.
Tentu saja persaingan yang tidak terkendali berdampak negatif. Tetapi jika dikelola dengan baik, persaingan ini tidak hanya meninggalkan dampak positif bagi pertumbuhan awal anak-anak. Ini juga baik untuk hubungan saudara kandung.
Lebih lanjut penelitian tersebut mengungkapkan bahwa persaingan kakak adik ini akan memperkuat ikatan. Anak-anak yang saling berantam di rumah lebih cenderung saling mendukung di ruang publik. Artinya, anak-anak boleh jadi saling bermusuhan di rumah tetapi menjadi sekutu di dunia luar.
Ini bisa membingungkan karena ikatan saudara lebih kompleks daripada yang kita bayangkan. Ketika teriakan pertengkaran berujung dengan aksi maka sulit untuk mengetahui mengapa anak-anak bertengkar, terutama karena saudara kandung memang sering berantam.
Pertengkaran ini dapat terjadi hingga delapan kali dalam satu jam. Semakin sering mereka bertengkar, semakin banyak mereka berdebat. Ini lebih sering terjadi ketika anak-anak ini berasal dari jenis kelamin yang sama, dan bahkan lebih sering lagi ketika usia mereka terpaut kurang dari dua tahun.
Apa yang menjadi sumber pertengkaran? Banyak, bisa saja mainan baru, pakaian atau makanan. Tapi mereka tidak sebenarnya bertengkar. Persaingan di antara saudara kandung memenufi fungsi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Sains menyebut ini diferensiasi. Ini mendorong anak-anak mencari tahu apa yang istimewa tentang diri mereka sendiri, karena anak -anak ingin menjadi yang paling istimewa bagi orang tua mereka.
Jika si kakak menyukai pemain tenis, maka adiknya akan menghindari olahraga tenis, atau mencoba menjadi lebih baik dalam permainan tenis melebihi kakaknya.
Ini membantu membentuk kepribadian dan minat anak-anak. Ia juga meningkatkan karier mereka kelak dan dalam beberapa kasus membuat peluang keberhasilan bagi kakak-adik tersebut.
Apakah persaingan kakak adik ini akan berakhir? Pengalaman ini biasanya sangat intensif di masa awal dan pertengahan kanak-kanak. Konflik menurun saat menginjak remaja dan menunjukkan tren mendatar pada masa berikutnya.
Lama kelamaan pengalaman masa kecil ini bakal memperkuat kedekatan di masa dewasa dan sering kali menyumbang bagi aspek kesejahteraan kakak beradik secara keseluruhan.
Namun demikian, hanya karena konflik berkurang tidak berarti rasa dan nuansa kompetisi benar-benar hilang. Mereka bisa bersepakat dalam hal-hal besar, semisal kemauan untuk memberikan donasi.
Sebaliknya, bisa saja buat hal-hal yang dianggap kecil mereka belum menemukan titik kompromi, semisal tidak mau berbagi charger ponsel.
