Kecelakaan karena Ponsel

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk menggunakan ponsel? Menurut penelitian rata-rata orang menghabiskan sekitar 4,8 jam per hari. Percaya atau tidak—dengan rerata 4,8 jam sehari—orang menggunakan ponsel sekitar 33 jam seminggu atau 73 hari setahun.
Ini melahirkan kerusakan digital, seperti nyeri jempol (smartphone thumb), penyakit siku karena swafoto (selfie elbow) atau sakit leher karena SMS (texting neck). Ini adalah kondisi ortopedi nyata dengan nama-nama yang terdengar lucu.
Tapi semuanya cukup serius, terutama texting neck. Rata-rata kepala manusia memiliki berat sekitar 5 kg. Saat mengirim pesan teks, seorang mendorong lehernya ke depan dengan menoleh ke bawah dengan sudut 45 derajat.
Saat itu aktivitas ini menghasilkan berat sekitar 22 kg di tulang belakang, empat kali tekanan yang dianggap normal. Otot serviks terpapar ketegangan lebih banyak dan berlanjut sepanjang 33 jam seminggu. Ini akan mengundang pelbagai masalah lainnya.
Selain itu, jika Anda menggunakan ponsel saat berjalan, Anda berisiko mengalami kecelakaan. Ini sebetulnya tidak mengejutkan banyak pihak, dan penelitian pun menegaskannya.
Orang-orang yang mengirim SMS saat berjalan lebih cenderung mengalami kecelakaan. Kecelakaan terkait telepon meningkat di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat di mana kecelakaan mengalami lompatan 20% sejak 2020. Studi mengatakan kaum milenial adalah pihak paling rentan terhadap kecelakaan tersebut.
Kelompok ini terjerat dengan aneka masalah akhir-akhir ini: PHK massal, krisis biaya hidup, dan krisis populasi. Jadi masuk akal saat mereka menjadikan ponsel sebagai ikhtiar melarikan diri dari kenyataan (escapism). Tak jarang mereka tersandung kabel atau menabrak perabot. Terkadang skenario yang lebih mengkhawatirkan terjadi seperti, kecelakaan di jalan.
Sekitar 270.000 pejalan kaki meninggal setiap tahun di dunia. Penggunaan ponsel adalah penyebab utama di balik angka kematian ini. Dalam dua dekade terakhir, misalnya, cedera yang dialami pejalan kaki karena ponsel meningkat sebesar 800% di AS. Begitu seriusnya masalah ini, banyak negara memiliki undang-undang yang melarang penggunaan ponsel di waktu dan tempat tertentu.
Honolulu telah melarang SMS saat berjalan di jalan raya, begitu pula kota Jepang. Sebuah kota di Korea Selatan memasang balok laser di penyeberangan jalan untuk mengingatkan pejalan kaki yang menggunakan ponsel. Sebuah kota di China membuka jalur ponsel 30 m di jalan untuk pejalan kaki yang sibuk di ponsel mereka.
Tapi ini bukan hanya masalah bagi pejalan kaki yang matanya kerap melekat pada layar ponsel. Ini juga persoalan utama bagi pengemudi. Kecelakaan di jalan raya menewaskan lebih dari satu juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Ia menjadi penyebab kematian terbesar kedelapan di dunia. Pengemudi yang menggunakan ponsel empat kali lebih mungkin untuk mengalami kecelakaan.
Sebagai misal, 2021 mencatat sekitar 2000 kecelakaan jalan terjadi di India karena penggunaan ponsel saat mengemudi. Terlepas dari statistik yang mencengangkan, kecanduan ponsel meresap ke mana-mana. Lebih dari 30% warga Inggris kecanduan telepon, lalu India 39% dan 47% orang Amerika.
Ini menjadi masalah serius sehingga memiliki nama sendiri, Nomofobia (NO MObile PHoneBIA) atau ketakutan irasional karena tidak dapat menggunakan ponsel. Kenyataannya memang ponsel ada mana-mana.
Di dunia modern, kehidupan kita sering bergantung pada ponsel sebab ia adalah gawai yang berguna. Namun perlu dicatat bahwa terlalu banyak hal tidak berdampak bagus (too much of anything is good for nothing). Maka jangan lupa untuk melihat ke atas sesekali, karena kecanduan ponsel amat merugikan kesehatan.
