Mengapa Banyak CEO Mengundurkan Diri?

Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Konten dari Pengguna
22 November 2023 7:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto: https://www.shutterstock.com/image-illustration/on-blackboard-chalk-write-quit-266239664
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: https://www.shutterstock.com/image-illustration/on-blackboard-chalk-write-quit-266239664
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada tahun 2021 seorang profesor Amerika memprediksi akan adanya eksodus massal yang berkelanjutan. Dia mengatakan banyak orang akan meninggalkan pekerjaan karena pandemi. Dia menyebut fenomena ini great resignation (pengunduran diri besar-besaran).
ADVERTISEMENT
Dia benar. Pada tahun 2021 tercatat banyak orang keluar dari pekerjaan mereka. Di AS, angkanya mencapai 47 juta. Kini sudah 2 tahun berlalu. Tingkat pengunduran diri dari pekerjaan secara keseluruhan di AS mencapai situasi normal prapandemi. Pengunduran diri besar akhirnya berakhir, kecuali C-suite.
Pengunduran para CEO menunjukkan tren kenaikan. Lihat saja angkanya. Pada paruh pertama tahun 2021, sekitar 76 CEO meninggalkan jabatan mereka secara global.
Ini menjadi masalah serius, angka 76 orang dalam 6 bulan tersebut lebih tinggi dari totalitas yang melakukan hal yang sama pada 2020. Ini sebuah lompatan 23% sejak 2018. Pakarnya menyebut fenomena ini sebagai C-suite turnover spike.
Bagi banyak CEO, tahun ini merupakan tahun terburuk dalam beberapa dekade. Sejauh ini lebih dari 1.400 berhenti dari pekerjaan mereka, 1400 CEO keluar dari pelbagai perusahaan AS. Itu yang tertinggi dalam dua dekade terakhir. Angka ini menunjukkan kenaikan nyaris 50% dibandingkan tahun lalu.
Ilustrasi resign dari perusahaan. Foto: Getty Images
Lalu, perusahaan seperti apa yang banyak mengalami turnover? Sektor pemerintah dan nirlaba adalah yang terburuk, sektor teknologi berada di urutan kedua. Sejumlah CEO wanita juga telah meninggalkan dewan direksi, sebuah peningkatan 19% dari periode yang sama dibandingkan tahun lalu
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya adalah mengapa banyak CEO mundur dari jabatan mereka? Alasan spesifiknya biasanya dirahasiakan, tetapi menurut para ahli ada beberapa alasan di balik keputusan pengunduran diri ini. Banyak CEO yang mengalami kelelahan dan rusaknya hubungan mereka dengan keluarga.
Sebagai misal, ini berlaku terhadap mantan CEO YouTube Susan Diane Wojcicki. Dia mengundurkan diri setelah 9 tahun menjalankan posisi tersebut. Dia menyebut sudah waktunya baginya untuk "memulai bab baru yang berfokus pada keluarga dan kesehatannya" (start a new chapter focused on her family and health). Setiap orang perlu rehat, butuh istirahat.
Stres juga memukul para staf, karyawan dan pekerja muda. Survei mengatakan 42% manajer menghadapi kelelahan secara teratur. Kepayahan ini terbentuk atau terbangun dari waktu ke waktu. Sudah menjadi rahasia umum CEO menghabiskan banyak waktu untuk menapaki karier puncak di perusahaan, tetapi sekarang banyak yang memilih keluar. Tap itu bukan satu-satunya alasan. Tenaga kerja AS juga menyusut. Kini lebih banyak baby boomer yang mencapai usia pensiun, yakni mereka yang lahir sekitar pertengahan abad ke-20. Mereka disebut baby boomer.
ADVERTISEMENT
Selain itu, CEO hari ini rata-rata 8 tahun lebih tua dibandingkan dua dekade lalu. 22% dari semua CEO yang mundur adalah pensiunan. Dalam beberapa kasus, CEO yang memilih mengundurkan diri karena tindakan dan kesadaran sendiri. Berkat ‘Gerakan Me Too’ (Me Too Movement), pengawasan terhadap perilaku di tempat kerja ditingkatkan. Tuntutan akan keragaman meningkat dan inklusi meluas. Dewan direksi mulai lebih memperhatikan kebutuhan tersebut.
Tahun ini CEO and Chairman CBOE Global Markets Edward Tilly dan CEO BP Bernard Looney harus mengundurkan diri. Mengapa? Keduanya gagal mengungkapkan hubungan pribadi mereka dengan karyawan.
Apa pun alasannya, fenomena pengunduran diri ini kian menumpuk dengan cepat. Sejauh ini AS mengalami lonjakan pengunduran diri besar-besaran. Untuk negara lain situasinya masih belum jelas mengingat data tidak banyak tersedia. Kajian tentang keadaan C-suite di dunia pasca pandemi masih terus dilakukan.
ADVERTISEMENT
Tapi banyak penelitian mengungkapkan bahwa di seluruh dunia masa jabatan CEO rata-rata mencapai 12 tahun beberapa dekade yang lalu. Tapi kini durasinya menurun menjadi sekitar 5 hingga 7 tahun. Para CEO secara global mengundurkan diri lebih cepat dari sebelumnya.