Orang Bisu Mampu Bicara lewat AI

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anne, seorang wanita Amerika berusia 47 tahun, menderita stroke 18 tahun yang lalu. Hal ini membuatnya lumpuh. Dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Dia juga tidak bisa mengetik. Dia hanya berkomunikasi dengan sintesizer ucapan, mesin yang sangat lambat yang digunakan oleh banyak orang sepertinya.
Bagaimana cara kerjanya? Pasien mengeja kata menggunakan gerakan mata atau wajah. Mesin lalu melacaknya dan memilih huruf dengan cukup lambat, menghasilkan sekitar 14 kata per menit. Ini tentu membuat frustrasi penderitanya dan menjadikan kegiatan percakapan yang natural tidak mungkin terjadi. Tapi sekarang berkat kecerdasan buatan (AI), Anne dapat berbicara melalui avatar digital. AI ini menerjemahkan sinyal otaknya ke dalam ucapan dan ekspresi wajah. Alat ini bahkan berbicara dengan suara Anne sendiri.
Ini semacam alat yang mampu membaca pikiran. Ia adalah terobosan besar. Lalu bagaimana alat ini bekerja? Sebuah tim dokter menanamkan elektroda persegi panjang seukuran kartu kredit di permukaan otak Anne. Elektroda ini mencegat sinyal otak, yang mengendalikan gerakan wajah kita. Jadi apa yang terjadi dalam kasus Anne? Elektroda membantu menerjemahkan sinyal otak ke dalam avatar digital. Ia bisa tersenyum dan mengerutkan kening. Ia juga berbicara seperti Anne.
Ini adalah kemajuan ilmiah luar biasa. Para ahli mengatakan ini bisa membantu mengubah kehidupan ribuan orang yang kehilangan kemampuan untuk berbicara karena strok atau penyakit sistem saraf, seperti ALS. Secara global satu dari empat orang dewasa menderita stroke. Ini adalah penyebab utama kecacatan. Untuk setiap seratus ribu orang, sekitar lima orang mengalami ALS di seluruh dunia. Kedengarannya jumlah kecil, tetapi mereka yang menderita penyakit ini berpotensi kehilangan suara secara permanen.
Untuk para pasien seperti itu maka AI bisa menjadi sebuah anugerah. Ini adalah teknologi baru dan belum sempurna. Ia memecahkan atau menejemahkan kode kata-kata yang salah 28 kali dalam satu waktu. Ia menghasilkan sekitar 78 kata per menit, jumlah ini masih kurang 110 kata yang biasanya diucapkan dalam sebuah percakapan yang natural. Namun alat ini mampu menghasilkan 14 kata lebih banyak per menit dibandingkan yang diucapkan oleh sintesizer ucapan lainnya.
Teknologi juga belum dapat digunakan secara praktis oleh pasien. Ia masih membutuhkan bantuan tim peneliti untuk mengoperasikannya. Apa yang ada sekarang ibarat mesin Ferrari tanpa mobil. Alat ini bekerja saat tim peneliti mengakomodasi seluruh proses. Tanpa tim peneliti alat ini tidak akan berhasil. Pasien juga belum bisa membawanya pulang.
Tapi ini adalah momen penting. Jika berhasil, ia dapat membuat perangkat nirkabel yang secara langsung ditanamkan ke dalam tengkorak manusia dan memungkinkan pasien secara mandiri mengendalikan perangkat ini. Penelitian masih berlangsung tetapi jika berhasil, teknologi ini dapat menciptakan kembali suara-suara manusia yang selama ini hilang karena strok dan penyakit saraf lainnya.
