Racun di Balik Anak Kesayangan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang tua yang suka menyimpan rahasia. Tanpa disadari banyak orang tua meletakkan anak-anaknya dalam lorong kegelapan. Mereka berbohong kepada anak-anaknya hari demi hari, kadang-kadang tanpa disadari. Tapi sekarang saatnya untuk menghapus semua kerusakan ini.
Studi menunjukkan sebagian besar orang tua memang memiliki anak favorit, anak kesayangan. Jika Anda dianggap sebagai anak memalukan dalam keluarga, ini adalah mimpi buruk. Jika Anda anak emas, belum tentu Anda akan berbahagia.
Ini menjadi situasi kalah-kalah (lose-lose). Sebelum kita melihat krisis di balik ini, mari kita cermati dulu apa yang menjadi dasar fenomena orang tua yang punya anak kesayangan, atau apa yang dinamakan parental favoritism.
Parental favoritism—ketimpangan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya—terjadi ketika seorang anak diperlakukan berbeda dibandingkan dengan saudaranya. Anak favorit mendapat perlakuan istimewa.
Boleh jadi sebagian besar orang tua tidak setuju atau mengakui bahwa mereka melakukannya. Mereka mengakui tidak pernah pilih kasih. Tapi data memperlihatkan bahwa ketimpangan kasih sayang terjadi pada sekitar 65 persen keluarga. Ini terjadi di seluruh dunia di berbagai budaya.
Fenomena ini tersebar luas sehingga psikolog memiliki nama untuk fenomena tersebut. Mereka menyebutnya perawatan diferensial orang tua (parental differential treatment). Ini lebih dari sekadar kehidupan keluarga yang khusus. Ini dapat menyebabkan kerusakan luas pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Pertanyaannya, siapa anak emas (golden child) dan siapa yang kurang disukai? Banyak yang percaya bahwa urutan kelahiran berperan. Anak pertama adalah anak emas. Tapi nyatanya ini tidak selalu benar dan tepat.
Sebuah penelitian menunjukkan anak-anak yang lahir terakhir lebih mungkin dipilih sebagai anak kesayangan. Lalu, apa yang menyebabkan ketimpangan kasih sayang ini? Faktor terkuat adalah perasaan orang tua bahwa anak tertentu mirip dengan mereka.
Meskipun demikian ini bukan formula yang pasti. Favoritisme itu sangat subjektif. Terkadang apa yang disebut anak favorit atau kesayangan adalah mereka yang menerima lebih banyak perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Di lain waktu ini menyangkut anak-anak yang tidak menjalani kedisiplinan yang ketat.
Penelitian lain mengatakan anak-anak yang menerima perlakuan kasih sayang istimewa dari saudaranya justru berpeluang besar menghadapi konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya, seperti cenderung rendah diri, depresi, kecemasan dan perilaku berisiko.
Sebuah studi di China mengungkapkan ketimpangan kasih sayang dapat meningkatkan kecanduan gawai di kalangan remaja. Sebuah studi di Kanada mengatakan ketimpangan kasih sayang bisa menghambat ikatan keluarga.
Anak-anak yang kurang disukai akan mengalami kesulitan membangun hubungan, tidak hanya dengan orang tuanya tetapi dengan saudaranya yang dinamakan anak emas dalam keluarga.
Menurut sains, hubungan saudara kandung yang baik penting untuk kebahagiaan seumur hidup. Ketimpangan kasih sayang tidak hanya berakhir di masa anak-anak masih kecil, masalah ini bakal terus menghantui hingga dewasa.
Perlakuan orang tua seperti ini juga bisa menyebabkan tingkat depresi yang lebih tinggi ketika anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa. Namun masalahnya tidak terbatas pada kesehatan mental.
Ketika masih anak-anak, favoritisme pengasuhan dapat berarti waktu lebih sedikit yang dihabiskan seorang bersama orang tuanya. Favoritisme pengasuhan bisa berarti dukungan keuangan yang tidak setara bagi anak tertentu dibandingkan dengan saudaranya.
Pada dasarnya menjadi anak emas dapat menyebabkan tekanan emosional. Anak-anak kesayangan atau yang lebih disukai rentan terhadap depresi.
Mereka juga menanggung beban konflik dengan saudara kandung yang kurang kasih sayang dan perhatian. Selama masa dewasa, anak-anak favorit ini sering berurusan dengan beban yang tidak setara karena mereka biasanya mengambil peran pengasuhan dari orang tua mereka.
Semua bentuk ketimpangan ini merusak keluarga. Pertanyaannya adalah mengapa orang tua tidak bisa berhenti pilih-pilih kasih? Biasanya karena mereka tidak sadar melakukannya.
Para ahli mengakui bahwa memperlakukan semua anak secara sama juga mustahil. Selalu ada perbedaan dan kebutuhan. Solusinya adalah adanya kesadaran diri terhadap potensi masing-masing anak sehingga tidak menciptakan situasi yang tidak adil.
Favoritisme pengasuhan diturunkan dari generasi ke generasi. Menyadari perbedaan dalam perlakuan dapat membantu memecahkan rantai setan ketimpangan ini. Lagipula bermain-main dengan ketimpangan ini adalah sebuah tindakan berbahaya bagi anak-anak.
