Skandal Dior Korea Selatan

Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Konten dari Pengguna
20 Februari 2024 6:55 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto: https://www.shutterstock.com/editorial/image-editorial/south-korean-first-lady-kim-keon-hee-spotted-14003621p
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: https://www.shutterstock.com/editorial/image-editorial/south-korean-first-lady-kim-keon-hee-spotted-14003621p
ADVERTISEMENT
Marie Antoinette adalah seorang ratu yang memicu terjadinya Revolusi Perancis. Ketika dia diberitahu bahwa para petani Perancis tidak mampu membeli roti, dia mengungakan (dan ini membuatnya terkenal), "Biar saja mereka makan kue."
ADVERTISEMENT
Apa kesamaan Ibu Negara Korea Selatan saat ini dengan sang ratu bersejarah ini? Layaknya Mary Antoinette, Kim Keon Hee boleh jadi memicu revolusi. Itulah yang diungkapkan oleh beberapa anggota partai suaminya. Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol berada pada posisi sulit. Dia harus memilih antara mendukung partainya atau membela istrinya. Ini menyangkut sebuah tas Lady Dior bernilai USD 2250.
Kembali pada bulan September 2022, sebuah transaksi direkam secara diam-diam. Orang menyebutkan 'operasi sengatan’ (sting operation). Seorang pendeta berdarah Korea-Amerika menemui Ibu Negara Kim Kon Hee.
Dia bisa mengatur pertemuan ini bukan saja karena si pendeta punya koneksi dengan keluarga Kim Kon Hee, tetapi diduga juga karena dia berjanji membawakannya hadiah. Pendeta itu membeli tas Dior senilai 3 juta won Korea Selatan (USD 2250). Si pendeta bahkan merekam pembelian dan label harga.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya pendeta itu pergi menemui Ibu Negara Kim Kon Hee di kantornya. Dia memberinya tas dan mengatakan itu adalah hadiah dan Kim Kon Hee menerimanya sebelum melanjutkan pertemuan. Ini terjadi pada bulan September 2022. Tetapi video tersebut menjadi viral November lalu. Ia telah diedit dan diunggah oleh saluran berita Liberal Korea Selatan. Tak ayal ini telah memicu badai politik.
Awalnya People Power Party, partainya sang Presiden, menolak untuk mengomentarinya. Partai ini berdalih ini hanyalah setingan. Rekaman rahasia itu dianggap jebakan dan beberapa pendukung partai tersebut setuju dengan ini. Tetapi tetap saja banyak yang bertanya mengapa Ibu Negara menerima hadiah yang mahal?
Korea Selatan memiliki undang-undang anti-korupsi. UU ini menegaskan bahwa pejabat negara dan pelayan publik serta pasangannya tidak boleh menerima hadiah bernilai lebih dari 1 juta Won (USD 750) dan dilarang menerima pemeberian senilai 3,1 juta Won (USD 2250) dari satu orang dalam setahun.
ADVERTISEMENT
Ibu Negara Korea Selatan melanggar kedua aturan ini sekaligus. Ini membuat Presiden Yoon Suk Yeol berada dalam dilemma. Sang Presiden bersikeras bahwa tas itu disimpan sebagai milik pemerintah. Tapi penjelasannya tidak membuat skandal itu mereda. Sebaliknya ia menjadi berita utama di Korea Selatan.
Kini banyak anggota partai Presiden mempertaranyakannya. Penjabat ketua partai baru-baru ini mengatakan skandal itu bisa menjadi masalah publik. Ia memicu perdebatan, termasuk tuntutan agar presiden mundur. Namun perdebatan kini telah selesai. Tetapi beberapa minggu lalu seorang anggota partai lain menyamakan Ibu Negara dengan Mary Antoinette.
Masalah ini mendatangkan aib bagi presiden. Ini menunjukkan keretakan di kalangan partai yang berkuasa. Kasus ini menempatkan partai pada posisi yang kurang menguntungkan menjelang pemilihan legislatif pada bulan April. Meskipun Yoon Suk Yeol akan tetap menjadi presiden sampai tahun 2027, partainya sudah menjadi minoritas di Parlemen.
ADVERTISEMENT
Skandal Dior ini berisiko membuka kesempatan bagi kubu oposisi untuk membalikkan parlemen Korea Selatan. Itulah sebabnya presiden secara terbuka berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan anggota partai oposisi.
Tapi apakah ini akan berhasil? Apakah ini akan cukup untuk mempengaruhi sentimen pemilih atau akankah skandal Dior Ibu Negara menjadi lebih terkenal seperti kue Mary Antoinette dan menjatuhkan rezim?