Konten dari Pengguna

Belajar dari Simulasi Bencana di Pangandaran: Mengapa 4C Menentukan Keselamatan?

Donny Nurhamsyah

Donny Nurhamsyah

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Simulasi Bencana Harus dilakukan untuk melatih kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Dokumentasi simulasi bencana meghathrust dan kebakaran di Kampus Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran pada Sabtu, 17 Oktober 2026 (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi simulasi bencana meghathrust dan kebakaran di Kampus Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran pada Sabtu, 17 Oktober 2026 (Dokumentasi Pribadi)

Bayangkan sebuah gempa mengguncang kawasan pesisir Pangandaran. Warga berusaha menyelamatkan diri, bangunan mengalami kerusakan, dan kebakaran terjadi di tengah situasi yang belum terkendali. Pada saat bersamaan, sejumlah korban membutuhkan pertolongan medis, sementara petugas harus menentukan prioritas evakuasi dan penanganan.

Dalam situasi seperti itu, apakah keselamatan korban cukup ditentukan oleh kecepatan petugas memberikan pertolongan?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Penanganan bencana membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan individu. Diperlukan kepemimpinan yang jelas, pengendalian operasi, koordinasi lintas sektor, serta komunikasi yang efektif. Tanpa keempat unsur tersebut, sumber daya yang tersedia dapat tidak termanfaatkan secara optimal, informasi menjadi simpang siur, dan proses penyelamatan menghadapi hambatan.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu pelajaran penting dari simulasi bencana gempa megathrust dan kebakaran yang dilaksanakan di Kampus Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran pada 17 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, unsur TNI dan Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat sekitar.

Lebih dari 100 mahasiswa terlibat dalam latihan yang dirancang untuk mempraktikkan respons terhadap situasi darurat, termasuk evakuasi dan penanganan korban berdasarkan tingkat kegawatdaruratan medis. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari integrasi Project Based Learning (PjBL) pada mata kuliah Keperawatan Bencana di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Nilai penting dari kegiatan ini bukan semata-mata keberhasilan menjalankan skenario, ungkap Donny Nurhamsyah sebagai Dosen Koordinator Mata Kuliah. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana seluruh pihak belajar bekerja dalam satu sistem penanganan bencana, tambahnya.

Pangandaran dan Pentingnya Kesiapsiagaan

Pangandaran merupakan kawasan pesisir yang memiliki aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat yang tinggi. Kondisi ini membuat kesiapsiagaan bencana perlu dipahami tidak hanya oleh petugas, tetapi juga oleh masyarakat, pelaku wisata, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Ancaman gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami perlu diantisipasi melalui edukasi, perencanaan evakuasi, dan latihan yang terstruktur. Skenario kebakaran juga penting karena dalam situasi bencana, kejadian sekunder dapat menambah kompleksitas penanganan dan meningkatkan risiko bagi korban maupun penolong.

Tentu saja, simulasi tidak dimaksudkan untuk memprediksi kapan gempa megathrust akan terjadi. Tujuannya adalah menguji kesiapan manusia, prosedur, komunikasi, dan kerja sama ketika menghadapi kemungkinan situasi darurat.

Kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui penyampaian materi di ruang kelas atau pemasangan papan informasi. Masyarakat dan petugas perlu memahami apa yang harus dilakukan, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana informasi disampaikan, dan bagaimana keputusan diambil ketika situasi berubah dengan cepat.

Di sinilah prinsip 4C menjadi relevan: Command, Control, Coordination, dan Communication.

1. Command: Komando yang Jelas Menentukan Arah Tindakan

Dalam situasi bencana, setiap pihak perlu mengetahui siapa yang memimpin operasi, siapa yang memberikan instruksi, dan kepada siapa laporan harus disampaikan.

Komando bukan berarti satu pihak melakukan seluruh pekerjaan. Komando berfungsi memastikan bahwa setiap unsur bergerak berdasarkan tujuan dan prioritas yang sama.

Bayangkan ketika terjadi gempa dan kebakaran secara bersamaan. Tim evakuasi harus mengeluarkan korban dari area berbahaya, petugas pemadam kebakaran menangani sumber api, sementara tim kesehatan melakukan penilaian kondisi korban dan memberikan pertolongan sesuai prioritas.

Jika tidak ada kejelasan komando, beberapa tim dapat mengerjakan hal yang sama, sementara kebutuhan lain justru terabaikan. Instruksi yang saling bertentangan juga dapat membahayakan petugas dan korban.

Karena itu, latihan kebencanaan perlu menguji kejelasan struktur komando, pembagian tanggung jawab, mekanisme pelaporan, dan proses pengambilan keputusan.

Dalam penanganan bencana sesungguhnya, struktur komando harus mengikuti sistem yang ditetapkan oleh otoritas penanggulangan bencana. Simulasi di lingkungan kampus menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana unsur pendidikan, kesehatan, keamanan, dan masyarakat bekerja di dalam sistem tersebut.

2. Control: Pengendalian agar Operasi Tetap Terarah

Komando memberikan arah, sedangkan control atau pengendalian memastikan pelaksanaan operasi berjalan sesuai rencana dan dapat disesuaikan ketika kondisi berubah.

Dalam situasi darurat, informasi mengenai jumlah korban, lokasi kejadian, kondisi akses, kebutuhan peralatan, dan perkembangan ancaman dapat berubah dengan cepat. Informasi tersebut perlu dipantau agar keputusan yang diambil tetap sesuai dengan situasi di lapangan.

Sebagai contoh, jalur evakuasi yang semula aman dapat menjadi tidak dapat digunakan akibat kebakaran atau kerusakan bangunan. Tim di lapangan harus segera melaporkan perubahan tersebut agar jalur alternatif dapat ditentukan.

Pengendalian juga diperlukan dalam pengelolaan korban. Dalam konteks keperawatan bencana, triase membantu menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan, bukan semata-mata berdasarkan urutan kedatangan atau siapa yang paling keras meminta pertolongan.

Korban yang mengalami gangguan pernapasan berat atau perdarahan masif, misalnya, membutuhkan penilaian dan penanganan segera sesuai kondisi klinis dan protokol yang berlaku.

Dengan demikian, pengendalian bukan sekadar mengawasi pekerjaan. Pengendalian merupakan proses memastikan bahwa keputusan, sumber daya, dan tindakan lapangan tetap selaras dengan kebutuhan yang paling mendesak.

3. Coordination: Tidak Ada Satu Sektor yang Dapat Bekerja Sendiri

Bencana berskala besar tidak dapat ditangani oleh satu institusi saja. BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda, tetapi saling berkaitan.

Petugas pemadam kebakaran, misalnya, berfokus pada penanganan kebakaran dan keselamatan di area terdampak. Tim evakuasi membantu memindahkan korban dari lokasi berbahaya. Tenaga kesehatan melakukan penilaian, triase, stabilisasi awal, dan rujukan sesuai kebutuhan. Sementara itu, unsur keamanan dapat membantu pengamanan lokasi dan pengaturan akses.

Semua peran tersebut harus terhubung.

Tanpa koordinasi, tim kesehatan dapat mengalami keterlambatan memasuki area evakuasi. Petugas penyelamat mungkin tidak mengetahui jumlah korban yang sudah dipindahkan. Bantuan logistik juga berisiko tidak sampai kepada pihak yang paling membutuhkan.

Simulasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan memberikan kesempatan untuk menguji hubungan kerja tersebut sebelum menghadapi keadaan darurat yang sebenarnya.

Keterlibatan masyarakat juga tidak boleh dipandang sebagai pelengkap kegiatan. Warga merupakan pihak yang paling dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya. Mereka dapat membantu mengenali kondisi sekitar, menyebarkan informasi yang telah diverifikasi, mengikuti jalur evakuasi, serta memberikan pertolongan awal sesuai kemampuan dan pelatihan.

Bagi Pangandaran, kolaborasi seperti ini penting untuk membangun kesiapsiagaan yang melibatkan kawasan permukiman maupun lingkungan pariwisata.

4. Communication: Informasi yang Tepat Dapat Menyelamatkan Nyawa

Di tengah situasi darurat, informasi yang terlambat, tidak jelas, atau keliru dapat menimbulkan kebingungan dan meningkatkan risiko.

Masyarakat perlu mengetahui kapan harus mengungsi, ke mana harus menuju, jalur mana yang aman, dan sumber informasi mana yang dapat dipercaya. Petugas juga membutuhkan komunikasi yang cepat dan akurat untuk menyampaikan kondisi korban, perubahan ancaman, kebutuhan sumber daya, dan perkembangan operasi.

Komunikasi kebencanaan bukan sekadar menyampaikan pesan. Pesan harus dapat dipahami, diterima oleh pihak yang tepat, dan menghasilkan tindakan yang sesuai.

Instruksi evakuasi, misalnya, perlu menggunakan bahasa yang jelas dan tidak menimbulkan banyak penafsiran. Informasi mengenai lokasi aman harus disampaikan secara konsisten melalui kanal yang dapat diakses masyarakat.

Dalam era media sosial, tantangan komunikasi semakin besar. Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dengan cepat dan memicu kepanikan. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti arahan dari sumber resmi dan tidak meneruskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

Latihan komunikasi juga perlu memperhatikan kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta wisatawan yang mungkin tidak mengenal kondisi geografis Pangandaran.

Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan diukur dari seberapa banyak pesan disampaikan, melainkan dari seberapa tepat informasi diterima dan ditindaklanjuti.

Project Based Learning: Dari Teori Menuju Pengalaman Lapangan

Integrasi simulasi ke dalam Project Based Learning pada mata kuliah Keperawatan Bencana memberikan dimensi pembelajaran yang berbeda dari perkuliahan konvensional.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep bencana, triase, evakuasi, dan pertolongan pertama. Mereka juga berhadapan dengan kebutuhan untuk mengambil keputusan, bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan pihak lain, dan menyesuaikan tindakan terhadap perubahan situasi.

Pembelajaran berbasis proyek juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi proses yang telah dilakukan. Setelah simulasi, mahasiswa dapat mendiskusikan apa yang berjalan baik, instruksi mana yang kurang jelas, apakah pembagian peran sudah efektif, serta bagaimana proses evakuasi dan penanganan korban dapat diperbaiki.

Evaluasi semacam ini penting. Keberhasilan simulasi seharusnya tidak hanya diukur dari terlaksananya skenario, tetapi juga dari kemampuan peserta mengidentifikasi kekurangan dan menyusun rencana perbaikan.

Bagi calon perawat, pengalaman tersebut relevan dengan tuntutan profesi. Dalam situasi bencana, perawat harus mampu melakukan penilaian awal, mengenali kondisi yang mengancam jiwa, memberikan intervensi sesuai kompetensi, dan bekerja bersama profesi serta institusi lain.

Namun, kompetensi klinis saja tidak cukup. Perawat juga perlu memahami alur komando, menjaga akurasi pelaporan, berkomunikasi secara efektif, dan menggunakan sumber daya secara tepat.

Dengan demikian, integrasi pembelajaran akademik dan simulasi lintas sektor dapat menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara bertanggung jawab.

Simulasi Harus Menjadi Awal, Bukan Akhir

Dokumentasi kegiatan simulasi bencana di Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran bersama stake holder (Dokumentasi Pribadi)

Penyelenggaraan simulasi bencana di Kampus Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran merupakan bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan melalui kolaborasi pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan.

Namun, satu kali latihan tentu tidak cukup untuk memastikan kesiapan menghadapi seluruh kemungkinan bencana. Kesiapsiagaan perlu dipelihara melalui latihan berkala, evaluasi, pembaruan prosedur, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Empat unsur 4C harus menjadi perhatian bersama: komando yang jelas, pengendalian yang efektif, koordinasi lintas sektor, dan komunikasi yang akurat. Keempatnya tidak berdiri sendiri. Komando tanpa komunikasi yang baik dapat menghasilkan instruksi yang tidak dipahami. Koordinasi tanpa pengendalian dapat membuat sumber daya tidak terarah. Sementara itu, komunikasi tanpa kejelasan tanggung jawab dapat menimbulkan kebingungan.

Karena itu, simulasi perlu menghasilkan pembelajaran yang dapat ditindaklanjuti, baik oleh institusi pendidikan, pemerintah daerah, petugas penanggulangan bencana, maupun masyarakat.

Bagi saya, inti kesiapsiagaan bukanlah membuat masyarakat merasa bahwa bencana dapat dikendalikan sepenuhnya. Kesiapsiagaan adalah memastikan bahwa ketika bencana terjadi, kita memahami risiko, mengetahui peran masing-masing, dan mampu mengambil tindakan yang tepat tanpa menambah bahaya.

Kita tidak dapat menentukan kapan bencana akan terjadi. Namun, kita dapat mempersiapkan bagaimana manusia, sistem, dan berbagai pihak meresponsnya.

Dalam kebencanaan, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat bertindak, tetapi juga oleh seberapa baik semua pihak bergerak dalam satu sistem yang terarah, terkoordinasi, dan saling terhubung.