Konten dari Pengguna

Hujan Mulai Turun, Dampak Karhutla Belum Tentu Berakhir: Harus Tetap Waspada

Donny Nurhamsyah

Donny Nurhamsyah

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hujan mulai turun di tengah kebakaran hutan (Dok: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan mulai turun di tengah kebakaran hutan (Dok: AI)

Masyarakat Harus Tetap Waspada Dampak Karhutla, Meski Hujan Sudah Mulai Turun

Turunnya hujan setelah periode cuaca kering dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tentu membawa kelegaan. Udara yang terasa lebih sejuk dan berkurangnya debu di sejumlah tempat dapat menumbuhkan harapan bahwa situasi mulai membaik. Namun, ada satu hal yang perlu diingat: hujan tidak selalu berarti ancaman karhutla telah berakhir.

Kondisi kebakaran, sisa bara, sebaran asap, dan kualitas udara tidak serta-merta pulih bersamaan dengan turunnya hujan. Intensitas hujan, lamanya hujan berlangsung, karakteristik lahan, serta kondisi cuaca setelahnya turut menentukan seberapa efektif hujan membantu memadamkan kebakaran.

Pada lahan gambut, misalnya, api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api di permukaan tidak lagi terlihat. Karena itu, pemadaman perlu disertai pembasahan dan pemantauan sampai lokasi dinilai aman. Kementerian Kehutanan juga menegaskan pentingnya penanganan lanjutan pada kebakaran gambut untuk mencegah api kembali menyala.

Bagi masyarakat, pesan ini penting: jangan terburu-buru menganggap keadaan sudah aman hanya karena hujan mulai turun atau asap tidak lagi terlihat pekat.

Asap yang berkurang bukan jaminan udara sudah bersih

Salah satu dampak karhutla yang perlu diperhatikan adalah pencemaran udara akibat asap. Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, sakit kepala, mengi, hingga sesak napas. Pada orang yang memiliki penyakit jantung atau paru, paparan tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan. Dampaknya juga dapat dirasakan di wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran karena asap dapat terbawa angin.

Artinya, kondisi udara perlu dinilai berdasarkan informasi kualitas udara dan kondisi lingkungan, bukan semata-mata berdasarkan apa yang terlihat atau tercium oleh indra kita.

Tidak adanya bau asap bukan bukti bahwa udara sepenuhnya bebas polutan. Sebaliknya, jika asap masih terlihat atau kualitas udara memburuk, masyarakat perlu mengurangi paparan, terutama kelompok yang lebih rentan.

Siapa yang perlu mendapat perhatian lebih?

Dampak asap karhutla dapat dialami siapa saja, tetapi beberapa kelompok membutuhkan perlindungan lebih besar, antara lain:

  1. Anak-anak, karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan aktivitas fisik dapat meningkatkan paparan udara.

  2. Lansia, terutama yang memiliki penyakit penyerta.

  3. Ibu hamil, yang perlu mengurangi paparan polusi udara.

  4. Orang dengan asma, penyakit paru kronis, atau penyakit jantung, karena asap dapat memicu kekambuhan maupun memperburuk gejala.

  5. Petugas pemadam, relawan, dan pekerja luar ruang, yang berpotensi terpapar asap dalam durasi lebih lama.

WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan pentingnya mengurangi paparan asap, memantau informasi resmi, dan mengenali gejala gangguan kesehatan akibat asap kebakaran.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, perlindungan kelompok rentan tidak boleh menunggu sampai muncul peningkatan kasus gangguan pernapasan. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak kualitas udara mulai memburuk.

Apa yang perlu dilakukan setelah hujan mulai turun?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mencegah risiko lanjutan.

Pertama, tetap pantau informasi resmi. Masyarakat dapat mengikuti informasi cuaca dan potensi karhutla dari BMKG, serta informasi penanganan kebakaran dari BPBD dan instansi terkait. BMKG menyediakan pemantauan potensi karhutla, titik panas, dan sebaran asap yang dapat menjadi salah satu sumber informasi.

Kedua, batasi aktivitas di luar ruangan apabila udara masih berasap atau kualitas udara tidak sehat. Aktivitas fisik berat meningkatkan jumlah udara yang dihirup sehingga dapat memperbesar paparan partikel. Jika aktivitas di luar tidak dapat dihindari, gunakan respirator yang pas di wajah, seperti N95, sesuai petunjuk pemakaian. Masker tersebut membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tidak melindungi dari seluruh gas berbahaya.

Ketiga, jaga kualitas udara di dalam rumah. Jika asap masuk ke lingkungan, tutup pintu dan jendela selama kondisi di luar lebih buruk. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai. Hindari merokok atau membakar sampah di sekitar rumah karena aktivitas tersebut menambah polusi udara.

Keempat, jangan mendekati titik api atau lokasi yang masih mengeluarkan asap. Tanah yang terlihat basah belum tentu bebas bara, khususnya pada lahan gambut atau tumpukan bahan organik. Jika menemukan asap yang terus muncul dari suatu lokasi, laporkan kepada petugas dan jangan mencoba memadamkannya sendiri apabila situasinya berbahaya.

Kelima, kenali tanda bahaya pada tubuh. Batuk, iritasi mata, dan tenggorokan terasa tidak nyaman dapat muncul akibat paparan asap. Namun, sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau bibir kebiruan merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera. Orang dengan penyakit asma atau jantung juga perlu mencari pertolongan jika gejalanya memburuk.

Jangan menunggu sampai asap kembali pekat

Hujan merupakan perkembangan yang patut disyukuri, tetapi pemulihan lingkungan dan kesehatan masyarakat membutuhkan proses. Pengendalian karhutla harus memastikan titik api dan bara benar-benar padam, sementara pemantauan kualitas udara perlu dilakukan untuk mengetahui apakah paparan polutan masih menjadi masalah.

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam pencegahan. Tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, melaporkan titik api, serta mengikuti arahan petugas merupakan langkah nyata yang dapat membantu mengurangi risiko kebakaran berulang.

Dari sudut pandang keperawatan gawat darurat dan kesehatan masyarakat, kewaspadaan setelah karhutla merupakan bagian dari upaya mencegah dampak kesehatan yang lebih berat. Edukasi, pemantauan gejala, perlindungan kelompok rentan, dan akses terhadap pertolongan medis perlu tetap menjadi perhatian meskipun kondisi cuaca mulai membaik.

Hujan membawa harapan, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan. Jangan menjadikan hujan sebagai satu-satunya tanda bahwa situasi telah aman. Terus pantau informasi resmi, lindungi diri dari paparan asap, dan segera cari pertolongan jika muncul tanda gangguan kesehatan yang serius.