Konten dari Pengguna

Jangan Panik! Ini Cara Menyelamatkan Korban Jeratan Benang Layangan

Donny Nurhamsyah

Donny Nurhamsyah

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi potensi cidera di jalan raya karena benang layangan (Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi potensi cidera di jalan raya karena benang layangan (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Leher Terjerat Benang Layangan, Ancaman Sunyi yang Mematikan di Jalan Raya

Kematian seorang pengendara motor di Karawang akibat leher terjerat benang layangan kembali membuka mata publik tentang bahaya yang kerap dianggap sepele. Di tengah aktivitas harian yang padat, ancaman ini hadir tanpa peringatan-tipis, nyaris tak terlihat, namun mematikan.

Dalam perspektif keperawatan kegawatdaruratan, kasus ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Cedera pada leher merupakan kondisi kritis yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu sangat singkat. Area leher dilalui pembuluh darah besar, saluran napas, serta saraf vital. Ketika benang layangan-terutama yang dilapisi bahan tajam seperti kaca-melukai bagian ini, risiko yang terjadi tidak hanya luka terbuka, tetapi juga perdarahan hebat dan gangguan jalan napas yang bisa berujung fatal dalam hitungan menit.

Pada kondisi seperti ini, waktu menjadi faktor penentu. Keterlambatan penanganan, bahkan hanya beberapa menit, dapat membuat korban kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup. Sayangnya, dalam banyak kejadian, pertolongan pertama sering kali belum dilakukan secara tepat.

Dalam situasi tersebut, masyarakat yang berada di lokasi kejadian memegang peran penting sebagai penolong pertama. Langkah awal yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan segera mendekati korban dengan hati-hati. Perhatikan apakah korban masih bernapas dan apakah terdapat perdarahan, terutama di area leher.

Jika terdapat luka terbuka dengan perdarahan, tindakan paling krusial adalah segera memberikan tekanan langsung pada luka. Gunakan kain bersih, pakaian, atau bahan apa pun yang tersedia untuk menekan sumber perdarahan. Tekanan yang adekuat dapat membantu menghentikan aliran darah dan mencegah korban mengalami syok akibat kehilangan darah yang masif. Pastikan aman diri dengan menggunakan sarung tangan atau bahan yang tidak berpotensi menjadi jalur penularan infeksi.

Di saat yang sama, pastikan jalan napas korban tetap terbuka. Jika korban tampak kesulitan bernapas, bantu dengan posisi yang aman tanpa banyak menggerakkan leher, mengingat risiko cedera yang lebih luas. Korban juga sebaiknya tidak dipindahkan secara berlebihan, kecuali dalam kondisi yang membahayakan.

Setelah tindakan awal dilakukan, korban harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Dalam konteks ini, kecepatan dan ketepatan respons menjadi faktor yang sangat menentukan.

Dari sudut pandang keperawatan, kejadian ini termasuk dalam kategori cedera yang sebenarnya dapat dicegah. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci, terutama terkait bahaya penggunaan benang layangan berlapis kaca di area publik. Aktivitas bermain layangan di sekitar jalan raya bukan hanya berisiko bagi pelaku, tetapi juga membahayakan pengguna jalan lainnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan tidak hanya bergantung pada pengendara, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat. Diperlukan peran bersama, baik dalam bentuk edukasi maupun pengawasan, untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Pada akhirnya, dalam situasi darurat, tindakan sederhana seperti menekan luka untuk menghentikan perdarahan dapat menjadi pembeda antara hidup dan kehilangan. Masyarakat bukan sekadar saksi, tetapi dapat menjadi penolong pertama yang menentukan nasib seseorang.