Konten dari Pengguna

Tas Siaga Bencana: Persiapan Sederhana yang Bisa Menyelamatkan Keluarga

Donny Nurhamsyah

Donny Nurhamsyah

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tas siaga bencana. Dok: AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tas siaga bencana. Dok: AI

Bencana tidak selalu memberikan waktu bagi kita untuk bersiap. Gempa bumi dapat terjadi tanpa peringatan, kebakaran dapat menyebar dengan cepat, dan banjir dapat membuat akses menuju tempat aman terputus. Dalam situasi seperti itu, keputusan yang harus diambil sering kali sederhana, tetapi sangat menentukan: menyelamatkan diri, membawa anggota keluarga ke tempat aman, dan memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia setelah evakuasi.

Sayangnya, banyak keluarga baru memikirkan perlengkapan darurat setelah bencana terjadi. Dokumen penting masih tersimpan di lemari, obat-obatan belum disiapkan, senter tidak diketahui keberadaannya, dan ponsel kehabisan daya ketika komunikasi justru sangat dibutuhkan.

Persoalan ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tentang mengetahui potensi bencana, tetapi juga tentang menyiapkan tindakan nyata sebelum keadaan darurat terjadi.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga adalah menyiapkan Tas Siaga Bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa Tas Siaga Bencana merupakan kumpulan kebutuhan dasar rumah tangga yang disiapkan sebelum bencana untuk digunakan dalam keadaan darurat. Perlengkapan ini ditujukan untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar ketika harus mengungsi atau ketika bantuan belum tersedia. Persediaan untuk sekitar 72 jam atau tiga hari menjadi salah satu acuan yang digunakan dalam panduan tersebut.

Donny Nurhamsyah, menjelaskan sebagai dosen Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran, menyiapkan tas siaga merupakan bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan keluarga. Langkah ini sederhana, relatif mudah dilakukan, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap rumah tangga, tambahnya.

Mengapa Setiap Keluarga Perlu Memiliki Tas Siaga Bencana?

Indonesia menghadapi berbagai ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga erupsi gunung api. Setiap jenis bencana memiliki karakteristik dan kebutuhan evakuasi yang berbeda.

Ketika terjadi bencana, akses terhadap air bersih, makanan, listrik, komunikasi, dan layanan kesehatan dapat terganggu. Keluarga mungkin harus meninggalkan rumah dalam waktu singkat atau tinggal sementara di tempat pengungsian.

Dalam kondisi tersebut, tas siaga membantu menyediakan perlengkapan dasar yang dapat segera dibawa. Keluarga tidak perlu mengumpulkan barang satu per satu ketika situasi sudah mendesak.

Namun, perlu dipahami bahwa tas siaga bukan jaminan seseorang akan terhindar dari dampak bencana. Tas ini merupakan salah satu komponen kesiapsiagaan yang perlu dilengkapi dengan pengetahuan tentang risiko, jalur evakuasi, titik kumpul, informasi peringatan dini, dan rencana komunikasi keluarga.

Tas siaga juga tidak boleh menghambat penyelamatan diri. Jika terjadi gempa yang berpotensi tsunami dan terdapat perintah evakuasi atau tanda bahaya yang mengharuskan segera mengungsi, jangan membuang waktu mencari tas. Keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas.

Apa Saja yang Harus Ada di Dalam Tas Siaga Bencana?

Tas siaga sebaiknya berupa tas yang kuat, mudah dibawa, dan cukup nyaman untuk dibawa saat berjalan. Tidak perlu membeli perlengkapan mahal sejak awal. Keluarga dapat memulainya dengan barang-barang yang sudah tersedia di rumah, kemudian melengkapi kebutuhan secara bertahap.

Berikut beberapa perlengkapan yang perlu dipertimbangkan.

1. Air minum dan makanan tahan simpan

Siapkan air minum dan makanan yang dapat disimpan tanpa mudah rusak, sesuai kebutuhan anggota keluarga. Pilih makanan yang praktis dikonsumsi dan perhatikan kebutuhan khusus, seperti makanan bayi atau anggota keluarga dengan kondisi kesehatan tertentu.

Persediaan perlu direncanakan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama sekitar tiga hari apabila akses terhadap bantuan belum tersedia. Jumlah dan jenisnya harus disesuaikan dengan kapasitas tas, kebutuhan keluarga, dan kondisi bencana yang mungkin dihadapi.

2. Obat-obatan pribadi dan perlengkapan P3K

Masukkan obat rutin yang diperlukan anggota keluarga, dengan memperhatikan aturan penyimpanan dan tanggal kedaluwarsa. Sertakan perlengkapan P3K dasar, seperti kasa steril, plester, perban, dan sarung tangan sekali pakai jika tersedia.

Bagi anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis, kebutuhan obat perlu direncanakan secara khusus. Simpan pula salinan resep atau catatan obat yang digunakan jika diperlukan untuk membantu pelayanan kesehatan.

3. Dokumen penting yang terlindungi

Siapkan salinan identitas, kartu keluarga, informasi asuransi kesehatan, serta dokumen penting lain yang dibutuhkan. Simpan dalam wadah kedap air agar lebih terlindungi dari hujan atau genangan.

Salinan digital yang tersimpan secara aman juga dapat membantu, tetapi jangan hanya mengandalkan dokumen digital karena akses internet dan listrik mungkin terganggu.

4. Pakaian ganti dan perlengkapan kebersihan

Masukkan pakaian ganti, pakaian dalam, jas hujan, dan perlengkapan kebersihan pribadi. Pertimbangkan pula kebutuhan pembalut, popok, tisu, sabun, serta perlengkapan khusus untuk bayi, lansia, atau penyandang disabilitas.

Kebutuhan ini sering dianggap sepele, padahal dapat membantu menjaga kenyamanan dan kebersihan selama mengungsi.

5. Alat penerangan dan sarana komunikasi

Sediakan senter atau lampu kepala beserta baterai cadangan. Ponsel, pengisi daya, dan power bank juga perlu disiapkan untuk membantu menerima informasi dan menghubungi keluarga.

Jika tersedia dan sesuai kebutuhan, radio portabel dapat menjadi alternatif untuk memperoleh informasi ketika jaringan telekomunikasi terganggu. Simpan daftar nomor kontak darurat dalam bentuk tertulis sebagai cadangan.

6. Peluit, uang tunai, dan perlengkapan pendukung

Peluit dapat membantu memberikan sinyal ketika membutuhkan pertolongan. Uang tunai secukupnya juga dapat berguna apabila layanan pembayaran elektronik tidak tersedia.

Perlengkapan tambahan dapat berupa masker, alat kebersihan, dan kantong kedap air. Pilih barang berdasarkan risiko yang dihadapi, bukan sekadar memenuhi daftar sebanyak-banyaknya.

Panduan BPBD Kabupaten Temanggung dan buku saku BNPB memberikan contoh perlengkapan dasar tersebut. Daftar akhirnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan setiap keluarga.

Tas Siaga Tidak Boleh Sekadar Disimpan

Menyiapkan tas bukan berarti kesiapsiagaan keluarga sudah selesai. Tas yang berisi makanan kedaluwarsa, baterai habis, atau obat yang tidak lagi layak digunakan justru dapat menimbulkan masalah ketika dibutuhkan.

Karena itu, lakukan pemeriksaan secara berkala. Pastikan makanan dan obat masih layak digunakan, baterai berfungsi, ponsel dan power bank dapat digunakan, serta pakaian sesuai kebutuhan.

Simpan tas di lokasi yang mudah dijangkau oleh anggota keluarga, tetapi tidak menghalangi jalur keluar. Pastikan semua anggota keluarga mengetahui letaknya dan memahami kapan tas tersebut perlu dibawa.

Keluarga juga perlu membicarakan siapa yang membantu anak-anak, siapa yang mendampingi lansia atau penyandang disabilitas, dan bagaimana jika anggota keluarga terpisah saat evakuasi.

Latihan sederhana dapat dilakukan di rumah. Cobalah mengambil tas, bergerak menuju jalur keluar, dan menuju titik kumpul yang telah disepakati. Dari latihan tersebut, keluarga dapat mengetahui apakah tas terlalu berat, apakah barang penting mudah ditemukan, dan apakah rencana evakuasi sudah realistis.

Kesiapsiagaan harus dipraktikkan, bukan hanya direncanakan.

Sesuaikan Tas dengan Ancaman Bencana

Tidak ada satu tas siaga yang sepenuhnya cocok untuk semua situasi. Keluarga yang tinggal di kawasan rawan tsunami memiliki kebutuhan berbeda dengan keluarga yang menghadapi ancaman banjir atau kebakaran.

Bagi masyarakat di kawasan pesisir, termasuk Pangandaran, kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan tsunami perlu menjadi perhatian. Tas siaga dapat membantu selama evakuasi, tetapi tidak boleh membuat masyarakat menunda bergerak menuju tempat aman ketika peringatan atau tanda bahaya mengharuskan evakuasi segera.

Dalam menghadapi banjir, dokumen dan barang elektronik perlu dilindungi dari air. Pada situasi kebakaran, waktu untuk menyelamatkan diri sangat terbatas sehingga tas harus mudah dijangkau dan tidak menjadi alasan untuk kembali ke dalam bangunan.

Keluarga dengan bayi, lansia, penyandang disabilitas, atau anggota yang membutuhkan obat rutin juga perlu menyesuaikan isi tas dengan kebutuhan mereka.

Prinsipnya sederhana, yaitu tas siaga harus mendukung keselamatan, bukan menambah beban ketika evakuasi.

Membangun Budaya Siaga Dimulai dari Rumah

Kesiapsiagaan bencana tidak selalu harus dimulai dari program besar atau perlengkapan yang mahal. Langkah pertama dapat dilakukan di rumah melalui percakapan sederhana tentang risiko bencana di lingkungan sekitar, penentuan jalur evakuasi, penyepakatan titik kumpul, penyimpanan nomor darurat, dan penyiapan tas siaga.

Kebiasaan ini perlu dibangun bersama. Anak-anak perlu mengetahui cara mencari tempat aman, lansia perlu memperoleh dukungan yang sesuai, dan seluruh anggota keluarga harus memahami rencana yang telah disepakati.

Sekolah, perguruan tinggi, tempat kerja, dan pemerintah daerah juga memiliki peran dalam memperkuat edukasi serta latihan kesiapsiagaan. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dilakukan ketika situasi darurat benar-benar terjadi.

Sebagai bagian dari edukasi keperawatan gawat darurat dan kritis, saya memandang bahwa pencegahan dan kesiapsiagaan merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat. Pertolongan medis memang diperlukan ketika seseorang mengalami cedera, tetapi persiapan sebelum bencana dapat membantu keluarga mengambil langkah awal dengan lebih terarah.

Kita memang tidak dapat menentukan kapan bencana akan terjadi. Namun, kita dapat mempersiapkan diri agar tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan mendadak ketika keadaan darurat datang.

Tas Siaga Bencana bukan sekadar tas berisi barang, melainkan bagian dari rencana keluarga untuk menghadapi keadaan darurat. Mulailah dari rumah, siapkan sesuai kebutuhan, periksa secara berkala, dan pastikan seluruh anggota keluarga mengetahui cara menggunakannya. Karena kesiapsiagaan terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang benar-benar disiapkan dan siap digunakan.