Terpapar Langsung Kebakaran Karhutla? Ini Pertolongan Pertamanya

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertolongan Pertama yang Harus Dilakukan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Bagi orang yang berada dekat dengan titik kebakaran, ancamannya jauh lebih serius. Paparan langsung terhadap api, panas, dan asap dapat menyebabkan luka bakar, gangguan pernapasan, hingga kondisi yang mengancam jiwa.
Dalam situasi seperti ini, kepanikan dapat membuat seseorang mengambil tindakan yang justru meningkatkan risiko cedera. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah penyelamatan diri dan pertolongan pertama yang tepat sebelum bantuan medis tiba.
Sebagai dosen Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran, Donny Nurhamsyah menekankan bahwa prinsip pertama dalam menghadapi kejadian kebakaran adalah keselamatan penolong dan korban harus menjadi prioritas. Jangan sampai upaya menolong justru menambah jumlah korban.
1. Segera Menjauh dari Api dan Asap
Jika berada dekat dengan kebakaran karhutla, segera tinggalkan lokasi menuju tempat yang lebih aman. Jangan mencoba menerobos api atau memasuki area yang dipenuhi asap pekat untuk menyelamatkan barang.
Apabila memungkinkan, bergeraklah menjauhi api dan mengikuti jalur evakuasi yang aman. Perhatikan arah angin serta perubahan kondisi di sekitar karena arah dan penyebaran asap dapat berubah. Jangan menganggap area yang tidak terlihat terbakar pasti aman.
Jika jalur keluar tertutup api atau asap, jangan memaksakan diri melewatinya. Cari jalur alternatif yang aman dan hubungi petugas pemadam kebakaran atau tim penanggulangan bencana setempat.
Gunakan informasi dari petugas di lapangan untuk menentukan lokasi evakuasi. Masker biasa bukan perlindungan yang memadai untuk memasuki area kebakaran aktif.
2. Jika Pakaian Terbakar, Jangan Berlari
Salah satu situasi yang membutuhkan tindakan cepat adalah ketika pakaian seseorang terbakar.
Dalam kondisi tersebut, jangan berlari karena aliran udara dapat membuat api semakin membesar. Lakukan prinsip stop, drop, and roll:
Stop: berhenti bergerak.
Drop: segera menjatuhkan diri ke tanah.
Cover: lindungi wajah dengan tangan jika memungkinkan.
Roll: berguling berulang kali untuk membantu memadamkan api pada pakaian.
Jika membantu orang lain, pastikan tindakan dilakukan tanpa membahayakan diri sendiri. Gunakan alat atau bahan pemadam yang sesuai apabila tersedia dan aman digunakan.
Setelah api padam, segera periksa kondisi korban dan cari bantuan medis jika terdapat luka bakar atau dugaan cedera akibat menghirup asap.
3. Waspadai Cedera Akibat Menghirup Asap
Tidak semua cedera akibat kebakaran terlihat pada kulit. Seseorang dapat mengalami cedera inhalasi akibat menghirup asap, gas berbahaya, atau udara yang sangat panas.
Gejalanya dapat berupa batuk, suara serak, napas berbunyi, sesak napas, nyeri dada, atau kebingungan. Luka bakar pada wajah, rambut hidung yang hangus, serta jelaga di sekitar hidung atau mulut juga dapat menjadi petunjuk adanya paparan asap yang serius.
Namun, tanda tersebut tidak selalu muncul bersamaan. Kondisi pernapasan juga dapat memburuk setelah paparan awal, sehingga seseorang yang terlihat baik-baik saja belum tentu bebas dari cedera.
Jika terdapat dugaan menghirup asap dalam kebakaran, segera pindahkan korban ke udara bersih apabila aman dilakukan dan cari evaluasi medis. Jangan menunggu sampai sesak napas berat muncul.
Jika korban mengalami kesulitan bernapas, penurunan kesadaran, atau bibir kebiruan, segera hubungi layanan kegawatdaruratan setempat.
4. Lakukan Pertolongan Pertama pada Luka Bakar
Jika korban mengalami luka bakar akibat api atau panas, hentikan proses pembakaran terlebih dahulu dan pastikan korban berada di tempat aman.
Untuk luka bakar termal, alirkan air bersih yang sejuk pada area yang terbakar selama sekitar 20 menit. Lakukan sesegera mungkin. Hindari mendinginkan seluruh tubuh, terutama jika area luka luas, karena korban dapat mengalami penurunan suhu tubuh.
Lepaskan cincin, jam tangan, atau benda ketat di sekitar area luka sebelum terjadi pembengkakan, apabila benda tersebut tidak melekat pada kulit. Jangan menarik pakaian yang menempel pada luka bakar.
Setelah pendinginan, tutup luka secara longgar dengan balutan bersih yang tidak melekat. Jangan mengoleskan pasta gigi, mentega, minyak, atau bahan tradisional yang belum terbukti aman. Hindari pula penggunaan es secara langsung karena dapat memperburuk kerusakan jaringan.
Luka bakar yang luas, dalam, mengenai wajah atau leher, tangan, kaki, alat kelamin, atau disertai gangguan pernapasan memerlukan penanganan medis segera.
Pada luka bakar yang luas, jangan menunda evakuasi hanya untuk menyelesaikan pendinginan. Mintalah bantuan darurat dan cegah korban kehilangan panas tubuh sambil menunggu pertolongan.
5. Kenali Kondisi yang Membutuhkan Bantuan Darurat
Dalam penanganan awal, kondisi korban perlu dinilai secara cepat. Segera cari pertolongan medis apabila ditemukan:
Sesak napas berat atau kesulitan berbicara karena kehabisan napas.
Penurunan kesadaran, kebingungan, atau pingsan.
Luka bakar luas atau luka bakar pada wajah dan leher.
Suara serak yang baru muncul setelah kebakaran, terutama jika disertai kesulitan bernapas.
Nyeri dada atau bibir tampak kebiruan.
Dugaan cedera akibat ledakan, trauma, atau paparan panas ekstrem.
Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera panggil bantuan darurat. Lakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan gunakan AED apabila tersedia, sesuai pelatihan yang dimiliki. Pastikan lokasi aman sebelum mendekati korban.
Jangan memberikan makanan atau minuman kepada korban yang mengalami penurunan kesadaran atau diduga mengalami luka bakar berat.
6. Jangan Menjadi Korban Berikutnya
Keinginan menolong orang lain merupakan hal yang baik. Namun, penolong tanpa perlindungan dan keterampilan yang memadai dapat ikut terjebak dalam kebakaran.
Jangan memasuki area kebakaran aktif tanpa pelatihan, perlengkapan, dan koordinasi dengan petugas yang berwenang. Serahkan pemadaman dan penyelamatan di area berbahaya kepada petugas terlatih.
Masyarakat dapat membantu dengan memberikan informasi lokasi kejadian, mengarahkan orang menjauhi bahaya, membuka akses bagi petugas, dan mengikuti instruksi evakuasi.
Dalam keperawatan gawat darurat dan kritis, prinsip keselamatan, penilaian awal, pengenalan tanda bahaya, dan respons yang tepat waktu merupakan bagian penting dalam penanganan korban. Prinsip yang sama dapat diterapkan masyarakat melalui edukasi pertolongan pertama yang benar.
Karhutla perlu ditangani bukan hanya dengan memadamkan api, tetapi juga dengan meminimalkan korban dan memastikan orang yang terdampak mendapatkan pertolongan yang tepat.
Pesan utamanya sederhana yaitu menjauh dari bahaya, jangan mengambil risiko yang tidak perlu, berikan pertolongan pertama sesuai kemampuan, dan segera cari bantuan medis ketika terdapat tanda cedera serius.
