Konten dari Pengguna

Dosen IPB 'Pulang Kampung', Kembangkan Kebun Talun Jadi Destinasi Wisata

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eva Rachmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BOGOR -- Hutan bagi masyarakat Desa Malasari, Kabupaten Bogor, menyimpan sumber pangan, ruang hidup, sekaligus warisan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Salah satu bentuknya adalah kebun talun, sistem pengelolaan lahan khas masyarakat Sunda yang memadukan berbagai jenis tanaman dalam satu kawasan secara berkelanjutan.

Potensi inilah yang kini didorong untuk berkembang menjadi daya tarik wisata berbasis kearifan lokal melalui program Dosen Pulang Kampung IPB 2026. Program yang didanai oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAAI) IPB University tersebut mengangkat tema "Pengembangan Kebun Talun sebagai Daya Tarik Wisata Berbasis Kearifan Lokal untuk Ketahanan Pangan dan Mitigasi Bencana di Desa Malasari, Kabupaten Bogor."

Kegiatan berlangsung sejak 2 Agustus 2026 di wilayah kerja Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mahara dan dihadiri Sekretaris Desa Malasari Suryati, Ketua LPHD Mahara Ellyana, perwakilan kecamatan, lebih dari 15 anggota LPHD, sekitar 20 mahasiswa IPB University dari berbagai program studi, serta delapan mahasiswa Universitas Pakuan.

Sekretaris Desa Malasari, Suryati, menyebut program ini sebagai kesempatan untuk membawa "oleh-oleh" berupa ilmu pengetahuan yang dapat memperkuat potensi desa.

"Kami sangat terbuka menerima kehadiran para dosen IPB yang pulang kampung ke Desa Malasari," ujarnya.

Ketua LPHD Mahara, Ellyana, menjelaskan bahwa masyarakat Malasari telah lama menerapkan kearifan lokal dalam mengelola hutan melalui tiga zonasi, yakni leuweung tutupan, leuweung titipan, dan leuweung awisan atau leuweung garapan.

Kebun talun merupakan bagian dari kawasan leuweung garapan, tempat masyarakat menanam beragam jenis tanaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, apabila dikelola sebagai daya tarik wisata, nilai manfaat kebun talun tidak hanya meningkat dari sisi ekonomi, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Dalam kegiatan literasi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari empat departemen di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University membagikan berbagai pengetahuan mengenai pengembangan kebun talun. Tim tersebut terdiri atas Eva Rachmawati dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Sri Rahaju dan Priyanto dari Departemen Manajemen Hutan, Istie Sekartining Rahayu dari Departemen Hasil Hutan, serta Ati Dwi Nurhayati dari Departemen Silvikultur.

Materi yang disampaikan cukup beragam, mulai dari potensi kebun talun sebagai daya tarik wisata beserta contoh produk wisata yang dapat dikembangkan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK), hingga peran kebun talun dalam mitigasi bencana dan penyerapan karbon.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebun talun bukan hanya bernilai dari sisi produksi pangan. Dengan komposisi tanaman yang beragam, sistem ini juga mampu menjaga tutupan lahan, membantu mengurangi risiko bencana seperti longsor dan erosi, sekaligus berkontribusi terhadap penyimpanan karbon.

Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian menyerahkan enam media edukasi mengenai pengembangan kebun talun kepada Pemerintah Desa Malasari, LPHD Mahara, dan Tim Information Center Malasari. Media tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

Program ini juga melibatkan berbagai elemen lain. Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Pakuan bernama Fermenta memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik kepada masyarakat. Sementara itu, Tim Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) dari Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova) IPB menyerahkan bantuan bibit tanaman produktif dan konservatif untuk mendukung pengembangan kebun talun.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penanaman pohon bersama di area pelatihan yang berada di wilayah LPHD Mahara. Bagi Haji Suma, tuan rumah pelatihan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni penutup. Menanam pohon, katanya, adalah bentuk investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan.

"Menanam pohon itu seperti menabung pahala. Manfaatnya akan terus mengalir selama pohon itu hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang," ujarnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan mahasiswa, pengembangan kebun talun di Desa Malasari diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kelestarian hutan, tetapi juga membuka peluang baru melalui wisata berbasis kearifan lokal yang tetap berpijak pada budaya masyarakat setempat. (Eva - IPB University)

Pelaksanaan Sosialisasi Pengembangan Kebun Talun sebagai Destinasi Wisata (Sumber: HIMAKOVA)