Dosen di Era AI: Mengajar Pengetahuan atau Mengajarkan Cara Berpikir?
Tulisan dari Islam Ali Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang mahasiswa mendapat tugas membuat analisis. Dahulu, ia mungkin harus mencari buku, membaca jurnal, mencatat, lalu menyusun argumentasi. Kini, dengan beberapa kalimat perintah kepada kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), sebuah tulisan dapat muncul dalam hitungan detik.
Persoalannya bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mahasiswa masih berpikir ketika menggunakan AI?
AI telah masuk ke ruang pendidikan. Ia digunakan untuk mencari informasi, merangkum bacaan, menerjemahkan artikel, menyusun gagasan, hingga membantu menganalisis data. Perubahan ini tidak mungkin dihentikan hanya dengan larangan.
Justru karena itu, perguruan tinggi perlu mengubah cara pandang.
Dosen Tidak Perlu Bersaing dengan AI
Selama ini dosen sering diposisikan sebagai sumber utama pengetahuan. Namun, ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui teknologi, peran tersebut perlu berkembang.
Dosen tidak perlu berlomba dengan AI dalam memberikan informasi. AI mampu bekerja jauh lebih cepat dalam mengolah dan menyajikan informasi. Dosen perlu melakukan sesuatu yang tidak kalah penting: mengajarkan mahasiswa bagaimana menilai informasi.
Ketika mahasiswa memperoleh jawaban dari AI, pertanyaan dosen seharusnya tidak berhenti pada, “Apakah tugas ini dibuat oleh AI?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Dari mana sumbernya? Apakah informasinya benar? Apa kelemahan argumennya? Mengapa jawaban tersebut dapat dipercaya? Bagaimana jika konteks persoalannya berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong mahasiswa untuk berpikir, bukan sekadar menerima.
Jangan Hanya Melarang
Kekhawatiran terhadap AI tentu beralasan. Penggunaan tanpa kontrol dapat memunculkan persoalan plagiarisme, ketergantungan, kesalahan informasi, dan integritas akademik.
Namun, melarang AI sepenuhnya bukan solusi jangka panjang.
Mahasiswa akan memasuki dunia kerja yang semakin banyak menggunakan teknologi AI. Perguruan tinggi justru perlu mengajarkan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Karena itu, tugas dan sistem penilaian juga perlu berubah. Mahasiswa jangan hanya diminta menghasilkan tulisan yang jawabannya mudah ditemukan oleh AI. Mereka perlu diberi persoalan yang membutuhkan observasi, pengalaman, argumentasi, analisis konteks, dan pengambilan keputusan.
Penilaian pun dapat menilai proses. Mahasiswa bukan hanya menyerahkan hasil tulisan, tetapi mampu menjelaskan bagaimana argumen dibangun, sumber digunakan, dan kesimpulan dipertahankan.
Dengan cara itu, AI tidak menjadi musuh pendidikan, tetapi alat untuk memperkuat pembelajaran.
Pendidikan Harus Tetap Memanusiakan
Pada akhirnya, perdebatan tentang AI bukan semata-mata persoalan teknologi. Ini adalah persoalan tentang makna pendidikan.
Jika pendidikan hanya bertujuan menghasilkan jawaban, AI memang menjadi tantangan besar. Tetapi jika pendidikan bertujuan membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, menguji informasi, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab, maka AI justru menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan.
Kita tidak membutuhkan mahasiswa yang hanya pandai bertanya kepada AI. Kita membutuhkan mahasiswa yang mampu menilai jawaban, mempertanyakan informasi, dan berani mengatakan bahwa sebuah jawaban belum tentu benar.
Begitu pula, kita tidak membutuhkan dosen yang berusaha menjadi lebih cepat daripada AI dalam memberikan pengetahuan.
Kita membutuhkan dosen yang mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: mengajarkan manusia bagaimana berpikir.
Sebab, ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, kemampuan untuk mempertanyakan dan mempertanggungjawabkan jawaban justru menjadi semakin berharga.

