Konten dari Pengguna

Languishing dalam Perspektif Sumber Daya Manusia

Abdul Azis

Abdul Azis

Dosen Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Azis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wanita cemas. Foto: metamorworks/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita cemas. Foto: metamorworks/Shutterstock

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah languishing menjadi topik yang banyak dibahas dalam bidang manajemen sumber daya manusia. Istilah languishing ini dipopulerkan oleh sosiolog Corey Keyes dengan memiliki pengertian kondisi psikologis di mana seseorang tidak mengalami gangguan mental yang serius, namun juga tidak merasa benar-benar bahagia, bersemangat, atau berkembang.

Languishing sering kali tidak disadari oleh penderitanya dikarenakan masih mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari seperti belajar, bekerja, maupun berinteraksi dengan orang lain. Tetapi di balik aktivitas tersebut, mereka akan memiliki kecenderungan pada diri pribadi dengan merasakan kurang antusias, memiliki kehampaan, dan sulit menemukan makna dalam kehidupan.

Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama tentunya akan mempengaruhi produktivitas kerja, kreativitas, kesehatan, bahkan hubungan sosial. Oleh karena itu, pemahaman mengenai languishing menjadi hal penting, baik bagi individu dan organisasi agar mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan secara psikologis.

Languishing tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai faktor psikologis, sosial, lingkungan, dan organisasi. Setiap individu dapat mengalami penyebab yang berbeda, tergantung pada kondisi kehidupan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun karakteristik kepribadiannya. Dalam banyak kasus, languishing berkembang secara perlahan sehingga sering kali tidak disadari hingga mulai memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas.

Ciri-Ciri Languishing

Ilustrasi kecemasan. Foto: Aleksandra Iarosh/Shutterstock

Languishing sering kali sulit dikenali karena gejalanya tidak sejelas depresi atau gangguan kecemasan. Berikut adalah beberapa ciri-ciri languishing beserta penjelasannya:

1. Merasa Hidup Berjalan Datar

Languishing menimbulkan perasaan bahwa kehidupan berjalan datar dengan tujuan hidup yang tanpa bermakna. Hari demi hari terasa sama, sehingga individu merasa kehidupannya monoton. Perasaan ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan apabila tidak segera diatasi.

Individu tidak selalu merasa sedih, tetapi juga tidak merasakan kebahagiaan atau kepuasan diri. Mereka seperti menjalani kehidupan dalam "mode otomatis" (autopilot).

2. Kehilangan Semangat dalam Beraktivitas

Tanda utama languishing adalah menurunnya semangat untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya terasa menyenangkan. Individu merasa aktivitas sehari-hari hanya menjadi rutinitas yang harus dijalani tanpa adanya rasa antusias.

Mereka tetap bekerja atau belajar, tetapi hanya sekadar memenuhi kewajiban, bukan karena memiliki motivasi untuk mencapai prestasi atau mengembangkan diri.

3. Produktivitas Menurun

Produktivitas merupakan salah satu aspek yang paling terdampak oleh languishing. Individu tetap hadir di tempat kerja atau mengikuti kegiatan belajar, tetapi hasil kerjanya tidak optimal. Mereka cenderung mengerjakan tugas dengan kecepatan yang lebih lambat dan kualitas yang menurun. Dalam konteks organisasi, kondisi ini dikenal sebagai presenteeism, yaitu hadir secara fisik di tempat kerja tetapi tidak mampu memberikan performa terbaik.

4. Kehilangan Tujuan dan Makna Hidup

Orang yang mengalami languishing sering merasa bahwa apa yang mereka lakukan tidak lagi memiliki tujuan yang jelas. Ketika seseorang kehilangan makna dalam aktivitasnya, motivasi intrinsik akan menurun sehingga aktivitas sehari-hari hanya dilakukan sebagai rutinitas.

5. Mudah Merasa Lelah

Kelelahan pada individu yang mengalami languishing bukan karena disebabkan oleh aktivitas fisik yang berat, melainkan dipengaruhi oleh kelelahan emosional dan mental. Mereka merasa energi cepat habis walaupun pekerjaan yang dilakukan relatif ringan. Pada Kondisi ini, individu membutuhkan waktu istirahat yang lebih lama, tetapi tetap merasa tidak segar ketika kembali beraktivitas.

6. Menarik Diri dari Lingkungan

Languishing dapat menyebabkan seseorang menjadi kurang tertarik dalam mengikuti kegiatan sosial, berkumpul bersama teman, ataupun berpartisipasi dalam aktivitas kelompok. Hubungan sosial yang sehat merupakan faktor penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis, dikarenakan Ketika individu mengisolasi diri, risiko munculnya masalah kesehatan secara mental dapat meningkat.

Dampak Negatif Languishing

Ilustrasi kecemasan. Foto: SeventyFour/Shutterstock

Languishing sering dianggap sebagai kondisi yang tidak berbahaya karena individu yang mengalaminya masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, apabila dibiarkan berlangsung dalam waktu yang lama, kondisi ini dapat memberikan berbagai dampak negatif terhadap individu, organisasi, maupun lingkungan sosial.

Dampak tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga produktivitas kerja, perkembangan karier, serta kualitas hubungan interpersonal seseorang. Berikut penjelasan mengenai berbagai dampak negatif languishing:

1. Menurunnya Produktivitas Kerja

Salah satu dampak nyata dari languishing adalah menurunnya produktivitas. Individu akan kehilangan energinya secara psikologis sehingga kecepatan, kualitas, dan kuantitas hasil kerja menurun. Karyawan yang mengalami languishing tetap hadir di tempat kerja, tetapi bekerja dengan motivasi yang rendah.

Individu cenderung hanya menyelesaikan tugas minimum sesuai dengan tuntutan pekerjaan tanpa menunjukkan kreativitas atau inisiatif tambahan. Kondisi ini dikenal sebagai presenteeism, yaitu hadir secara fisik tetapi tidak sepenuhnya produktif.

2. Menurunnya Motivasi Kerja dan Belajar

Languishing menyebabkan motivasi intrinsik seseorang mengalami penurunan. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan penuh semangat berubah menjadi rutinitas yang terasa membosankan. Individu tidak lagi terdorong untuk mencapai hasil optimal, meningkatkan kompetensi, ataupun mengembangkan kariernya.

3. Meningkatkan Risiko Burnout

Languishing dapat menjadi tahap awal sebelum seseorang mengalami burnout. Ketika individu terus bekerja dalam kondisi kehilangan motivasi, merasa lelah secara emosional, dan tidak memperoleh dukungan yang memadai, tekanan psikologis akan terus menumpuk. Burnout ditandai dengan kelelahan emosional, sikap sinis terhadap pekerjaan, serta menurunnya rasa percaya diri terhadap kemampuan sendiri.

4. Gangguan Hubungan Sosial

Languishing dapat menyebabkan gangguan hubungan sosial. Mereka menjadi kurang tertarik berkomunikasi, berkolaborasi, atau mengikuti kegiatan bersama keluarga maupun rekan kerja. Kurangnya interaksi sosial dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, serta berkurangnya dukungan emosional.

4. Meningkatnya Absensi dan Turnover

Dalam organisasi, languishing dapat meningkatkan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) maupun keinginan untuk keluar dari pekerjaan (turnover intention). Individu sering mencari alasan untuk tidak masuk kerja karena kehilangan semangat dan merasa pekerjaannya tidak lagi memberikan kepuasan.

5. Menurunnya Kesehatan Fisik

Languishing yang berlangsung lama dapat menyebabkan gangguan tidur, sakit kepala, kelelahan kronis, gangguan pencernaan, hingga menurunnya daya tahan tubuh.

6. Menurunnya Kinerja Organisasi

Apabila banyak karyawan mengalami languishing secara bersamaan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu tetapi juga oleh organisasi secara keseluruhan. Produktivitas menurun, kualitas pelayanan berkurang, inovasi terhambat, serta kerja sama tim menjadi kurang efektif.

Cara Mengatasi Languishing

Ilustrasi kecemasan. Foto: Yakobchuk Viacheslav/Shutterstock

Mengatasi languishing tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari keluarga, teman, organisasi, dan masyarakat. Pendekatan yang komprehensif akan membantu seseorang beralih dari kondisi languishing menuju flourishing, yaitu kondisi ketika individu mampu berkembang secara optimal, memiliki hubungan sosial yang sehat, produktif dalam bekerja, serta merasakan kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan :

1. Menemukan Kembali Tujuan Hidup (Purpose in Life)

Salah satu penyebab utama languishing adalah hilangnya arah dan makna hidup. Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi kembali tujuan hidup serta menentukan sasaran yang ingin dicapai.Tujuan hidup memberikan arah bagi seseorang dalam mengambil keputusan dan menjalani aktivitas sehari-hari. Individu yang memiliki tujuan yang jelas cenderung lebih termotivasi, optimis, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

2. Menciptakan Aktivitas yang Memberikan Makna

Melakukan aktivitas yang memiliki nilai dan manfaat akan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Kegiatan yang bermakna akan membantu individu merasakan bahwa dirinya memiliki kontribusi terhadap orang lain dan lingkungannya. Perasaan bermanfaat inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kebahagiaan.

3. Menjaga Keseimbangan Kehidupan dan Pekerjaan (Work-Life Balance)

Kesibukan bekerja sering kali menyebabkan seseorang mengabaikan kehidupan pribadi. Padahal kenyataannya keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan waktu istirahat merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan mental. Work-life balance berarti memberikan proporsi waktu yang seimbang antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain menghindari membawa pekerjaan ke rumah secara berlebihan, menggunakan hak cuti untuk beristirahat, menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga, mengatur jam kerja secara efektif, dan melakukan hobi di luar pekerjaan. Dengan menjaga keseimbangan tersebut, individu memiliki kesempatan untuk memulihkan energi fisik maupun emosional.

4. Mengembangkan Kompetensi Diri

Belajar merupakan cara untuk meningkatkan rasa percaya diri sekaligus mengurangi kejenuhan. Ketika seseorang memperoleh keterampilan baru, ia akan merasa lebih siap menghadapi tantangan serta memiliki harapan terhadap masa depan.

5. Membangun Kebiasaan Bersyukur

Psikologi positif menjelaskan bahwa rasa syukur merupakan salah satu faktor yang meningkatkan kesejahteraan psikologis. Melatih rasa syukur dapat dilakukan dengan mengapresiasi keberhasilan sekecil apa pun, mengucapkan terima kasih kepada orang lain, dan menghargai proses yang telah dilalui. Kebiasaan ini membantu individu lebih fokus pada hal-hal positif dibandingkan hanya memikirkan kekurangan yang dimiliki.

Peran Organisasi dalam Mengatasi Languishing

Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), organisasi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kesejahteraan psikologis karyawan. Lingkungan kerja yang sehat tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat loyalitas dan keterikatan karyawan terhadap organisasi. Beberapa strategi yang dapat diterapkan organisasi meliputi:

1. Membangun Budaya Kerja yang Positif

Budaya organisasi yang terbuka, saling menghargai, dan mendukung kolaborasi akan menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety), sehingga karyawan merasa nyaman menyampaikan ide, pendapat, maupun kesulitan yang dihadapi.

2. Memberikan Apresiasi atas Kinerja

Penghargaan, baik dalam bentuk finansial maupun nonfinansial, dapat meningkatkan motivasi dan rasa dihargai. Umpan balik positif dari atasan juga membantu memperkuat kepercayaan diri karyawan.

3. Memberikan Kesempatan Pengembangan Karier

Kesempatan mengikuti pelatihan, promosi jabatan, rotasi pekerjaan, dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan optimisme karyawan terhadap masa depannya.

4. Menerapkan Kepemimpinan yang Suportif

Pemimpin yang empatik, komunikatif, dan mampu memberikan dukungan emosional akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan meminimalkan risiko languishing.

5. Mengelola Beban Kerja Secara Proporsional

Beban kerja yang sesuai dengan kemampuan karyawan, target yang realistis, serta waktu istirahat yang cukup akan mengurangi kelelahan emosional dan meningkatkan produktivitas.

Mengatasi languishing memerlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh, yaitu dengan memperhatikan aspek psikologis, sosial, fisik, dan lingkungan kerja. Individu dapat memulai dengan menetapkan tujuan hidup yang jelas, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, memperkuat hubungan sosial, menerapkan pola hidup sehat, serta mengembangkan kompetensi diri.

Di sisi lain, organisasi memiliki tanggung jawab untuk menciptakan budaya kerja yang positif, memberikan dukungan terhadap kesehatan mental, dan membangun kepemimpinan yang peduli terhadap kesejahteraan karyawan.

Melalui sinergi antara upaya individu dan organisasi, kondisi languishing dapat dicegah maupun diatasi sehingga individu mampu mencapai kondisi flourishing, yaitu keadaan ketika seseorang merasa hidupnya bermakna, memiliki motivasi yang tinggi, mampu berfungsi secara optimal, serta menikmati kehidupan dengan penuh semangat dan kepuasan.