Konten dari Pengguna

People Pleaser: Dilema antara Kebaikan bagi Orang Lain dan Tindakan Cinta Diri

Abdul Azis

Abdul Azis

Dosen Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Azis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan yang memaksakan diri terus menyenangkan orang lain. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan yang memaksakan diri terus menyenangkan orang lain. Foto: Shutterstock

People pleasing merupakan perilaku kecenderungan secara psikologis di mana seseorang terus-menerus berusaha untuk menyenangkan, atau memenuhi harapan orang lain, dan bahkan jika bertentangan dengan kebutuhan, serta berkorban untuk kenyamanan pribadinya sendiri.

Biasanya seorang people pleaser memiliki kecenderungan untuk sulit menolak permintaan orang lain, menghindari konflik demi menjaga hubungan tetap “baik-baik saja”, mencari validasi atau penerimaan dari lingkungan sekitar, bahkan sering merasa bersalah jika tidak membantu atau membuat orang lain kecewa.

Tentunya hal tersebut akan memberikan dampak negatif bagi seseorang yang memiliki kecenderungan people pleaser di mana orang tersebut akan lelah emosional dan fisik, kehilangan jati diri, memiliki rasa frustasi dan dendam tersembunyi, relasi kehidupan yang dimanfaatkan orang lain, hingga tumbuhnya rasa tidak dihargai.

Biasanya penyebab seseorang menjadi people pleaser adalah karena pengalaman masa kecil yang penuh tuntutan sehingga kepatuhan dianggap sebagai keutamaan, takut dengan adanya penolakan atau bahkan ditinggalkan, dan kurang rasa percaya diri.

Cara mengatasi kebiasaan people pleasing:

1. Jangan enggan untuk berkata “tidak” dengan sopan

Mulailah dari pemenuhan kebutuhan diri sendiri, tanpa merasa bersalah untuk mengabaikan orang lain.

2. Tingkatkan jati diri dan kepercayaan diri

Fokus pada pengembangan kompetensi, memahami nilai-nilai dan pribadi, bukan hanya pendapat orang lain.

3. Prioritaskan kebutuhan diri sendiri

Memberi pada orang lain tetap baik, tapi bukan berarti harus mengabaikan diri sendiri.

Menjadi orang yang peduli dan perhatian kepada orang lain adalah hal yang positif, tetapi tidak ketika itu mengorbankan diri sendiri. Mari belajar menyeimbangkan antara memberi dan menjaga jati diri di mana hal tersebut merupakan langkah penting menuju hidup yang sehat, jujur, dan bermakna. Ingat, Anda tidak harus menyenangkan semua orang untuk menjadi dihargai.