Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM: 3 Salah Kaprah yang Bikin Perusahaan Rugi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dea Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Dea Asri Puspita

Perencanaan SDM yang buruk bisa membuat perusahaan rugi, seperti dalam ilustrasi berikut. Bayangkan sebuah toko pakaian daring yang tiba-tiba kebanjiran pesanan menjelang akhir tahun. Pemiliknya panik, lalu merekrut belasan staf gudang dalam seminggu. Tiga bulan kemudian pesanan mereda, tetapi gaji tetap harus dibayar. Sebagian staf juga ternyata kurang cocok dengan pekerjaannya dan mulai mengundurkan diri.

Cerita seperti ini sering terjadi, dan akar masalahnya sama: keputusan rekrutmen diambil terburu-buru tanpa perencanaan SDM yang matang. Salah kaprah inilah yang masih banyak dialami perusahaan, dari yang kecil sampai yang besar.

3 Kesalahan Umum dalam Perencanaan SDM

Sumber: AI Generated

Salah Kaprah Pertama: Perencanaan SDM Hanya Soal Hitung-hitungan

Perencanaan SDM sering dipahami sebagai urusan menentukan jumlah karyawan. Padahal intinya lebih luas. Perusahaan perlu memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan, membandingkannya dengan stok SDM yang sudah dimiliki, lalu memutuskan langkah untuk menutup selisihnya.

Di titik inilah perencanaan SDM menjadi proses pengambilan keputusan. Ada banyak pilihan: merekrut orang baru, melatih karyawan lama, memindahkan posisi, atau justru menahan perekrutan. Setiap pilihan punya biaya dan konsekuensi.

Tiga Pertanyaan yang Perlu Dijawab

Supaya keputusan tidak asal, ada tiga pertanyaan dasar yang bisa dijadikan pegangan.

1. Apa sebenarnya masalahnya? Karyawan sering keluar bisa berarti gaji kurang layak, beban kerja tidak seimbang, atau proses seleksi yang salah sasaran. Kalau penyebabnya keliru ditebak, solusinya ikut meleset. Mendengar masukan dari banyak pihak membantu agar keputusan tidak berat sebelah.

2. Berapa dan seperti apa orang yang dibutuhkan? Kebutuhan ini diperkirakan dari data, seperti tren penjualan, volume produksi, dan beban kerja. Bagi perusahaan yang datanya belum rapi, pengalaman dan penilaian para manajer tetap bisa menjadi pegangan. Idealnya, keduanya dipakai bersama: data untuk mengukur, pengalaman untuk menimbang hal yang tidak tertangkap angka.

3. Apakah rencananya sejalan dengan arah bisnis? Rencana SDM yang berdiri sendiri akan sulit dijalankan. Jika perusahaan berencana membuka cabang baru atau beralih ke digital, kebutuhan SDM harus dihitung sejak awal, bukan setelah rencana itu berjalan.

Salah Kaprah Kedua: Data Saja Sudah Cukup

Sebagian orang menganggap keputusan berbasis data otomatis benar. Kenyataannya, data hanyalah bahan mentah. Angka baru berguna setelah diolah dan dipahami sesuai konteksnya.

Di sisi lain, keputusan yang hanya mengandalkan firasat juga berisiko. Perusahaan bisa kelebihan orang di satu bagian dan kekurangan di bagian lain, yang berujung pada pemborosan. Karena itu, pendekatan yang paling masuk akal adalah menggabungkan analisis data dengan pertimbangan yang matang.

Salah Kaprah Ketiga: Sekali Dibuat, Selesai

Dunia kerja berubah cepat. Teknologi baru muncul, selera pasar bergeser, dan kebutuhan keterampilan ikut berubah. Rencana SDM yang bagus tahun lalu belum tentu cocok untuk tahun ini.

Maka setelah dijalankan, rencana perlu dievaluasi. Beberapa pertanyaan sederhana bisa membantu. Apakah posisi kosong sudah terisi? Apakah biaya tenaga kerja turun? Apakah tingkat keluar-masuk karyawan membaik? Hasil evaluasi kemudian menjadi masukan untuk memperbaiki keputusan berikutnya. Dengan begitu, perencanaan SDM berjalan sebagai siklus yang terus berputar, bukan pekerjaan yang selesai sekali.

Kesimpulan

Kembali ke toko daring tadi. Dengan perencanaan, pemiliknya mungkin memilih pekerja musiman untuk lonjakan akhir tahun, atau melatih staf yang ada agar bisa menangani banyak tugas. Biayanya lebih terkendali, dan karyawannya pun lebih siap.

Pelajarannya sederhana: SDM adalah aset terpenting sebuah organisasi, sehingga keputusan tentangnya layak dipikirkan matang. Merencanakan dengan cermat memang butuh waktu, tetapi biayanya jauh lebih ringan dibandingkan memperbaiki kesalahan rekrutmen. Jadi, apakah perusahaanmu sudah terbebas dari tiga salah kaprah di atas?

Referensi:

Pratama, A. (2022). Manajemen Sumber Daya Manusia (Untuk Pemerintahan dari Teori ke Praktik). Penerbit Widina.

Hasibuan, M. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Nawawi, H. (2010). Perencanaan SDM. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.