Apakah mencapai kedamaian Palestina dan Israel perlu 200 tahun lagi?

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belajar dari Perang Salib: Apakah mencapai kedamaian Palestina dan Israel perlu 200 tahun lagi? Perlukah mendukung upaya Presiden Prabowo Subianto dalam Board of Peace yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump?
Dalam sejarah umat manusia, sedikit konflik yang begitu panjang dan berdarah seperti Perang Salib. Hampir 200 tahun lamanya, manusia saling membunuh atas nama Tuhan, tanah suci, dan kebenaran mutlak. Generasi demi generasi tumbuh dengan keyakinan bahwa membunuh “yang lain” adalah ibadah, tugas yang teramat suci karena Tuhan. Namun jika kita bertanya dengan jujur hari ini: apa yang benar-benar diwariskan oleh Perang Salib? Perdamaian? Keadilan? Ataukah hanya kuburan massal dan dendam yang tak pernah selesai?
Penderitaan berulang sejak tahun 1948!
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa makin relevan ketika kita menatap konflik Israel–Palestina belakangan ini. Kita menyaksikan penderitaan yang berulang, korban sipil yang terus berjatuhan, dan narasi keagamaan yang kembali dipakai untuk membenarkan kekerasan. Maka pertanyaan moralnya menjadi tajam dan tak terhindarkan: apakah kita ingin konflik ini berlangsung selama itu juga—200 tahun—sambil terus mengklaim bahwa Tuhan ada di pihak kita?
Semua agama besar di dunia, tanpa kecuali, mengajarkan kesucian nyawa manusia. “Jangan membunuh” bukanlah prinsip opsional. Dalam Islam, membunuh satu jiwa yang tak bersalah disamakan dengan membunuh seluruh umat manusia. Dalam Kekristenan, kasih kepada sesama—bahkan kepada musuh—diletakkan sebagai hukum tertinggi. Dalam Yudaisme, menyelamatkan satu nyawa berarti menyelamatkan seluruh dunia. Jika demikian, lalu di mana letak kesalehan ketika bom dijatuhkan di atas rumah-rumah warga sipil?
Pejuang perdamaian sering dicela sebagai tidak tahu sejarah
Sejak saya berada di Palang Merah Indonesia, dan berinteraksi dengan salah satu tokoh perdamaian dunia, bapak Jusuf Kalla, saya semakin memahami bahwa kami, orang-orang yang bekerja di konteks kemanusiaan (humanitarian work), wajib banyak bersabar.
Orang-orang yang menyerukan perdamaian sering dicurigai lemah iman atau tidak berpihak. Padahal justru sebaliknya: dibutuhkan iman yang matang untuk menahan diri dari kebencian. Mudah sekali berteriak “perang suci” dari kejauhan; jauh lebih sulit berani berkata, “cukup, hentikan.” Cinta damai bukan pengkhianatan terhadap agama, melainkan ujian tertingginya. Sebab agama, jika benar datang dari Tuhan, seharusnya memanusiakan manusia—bukan mengubah mereka menjadi target sah.
Board of Peace
Namun setiap kali dialog diusulkan, ia ditertawakan. Dialog dianggap buang-buang uang, buang waktu, dan tidak realistis. Kita lupa satu hal sederhana: perang adalah pemborosan terbesar yang pernah diciptakan manusia. Ia membakar anggaran, menghancurkan masa depan, dan melahirkan trauma lintas generasi. Tidak ada doa yang bisa menghidupkan kembali anak-anak yang mati, dan tidak ada khotbah yang mampu menyembuhkan jiwa yang tumbuh di tengah ketakutan.
Perang Salib berlangsung hampir 200 tahun bukan karena manusia tidak tahu bahwa membunuh itu salah, melainkan karena mereka terus meyakinkan diri bahwa kekerasan mereka “berbeda” dan “suci”. Inilah bahaya terbesar agama ketika ia direbut oleh amarah dan kekuasaan. Tuhan dijadikan stempel, kitab suci dijadikan slogan, dan nurani dikorbankan demi kemenangan simbolik.
Jika hari ini kita terus menolak dialog, terus memuja kekerasan sebagai solusi, maka kita sedang menyiapkan panggung bagi tragedi yang sama. Anak-anak Palestina dan Israel yang hari ini hidup di bawah bayang-bayang bom akan tumbuh dengan satu pelajaran pahit: bahwa dunia tidak adil dan kekerasan adalah bahasa yang paling didengar. Inilah cara perang memastikan dirinya abadi.
Apakah agama sesungguhnya telah dijadikan alat penaklukan? Alat politik?
Pertanyaannya sederhana namun mengguncang jiwa yang lembut: apakah Tuhan benar-benar membutuhkan pembelaan berupa darah manusia? Atau justru manusialah yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan kegagalannya mengasihi?
Perdamaian bukan berarti melupakan keadilan. Tetapi keadilan yang sejati tidak lahir dari tumpukan mayat. Dialog mungkin tidak sempurna, mungkin menyakitkan, dan mungkin memaksa kita menelan ego kolektif. Namun dibandingkan dua abad perang, dialog adalah satu-satunya pilihan yang masih memberi harapan.
Jika Perang Salib belum cukup untuk mengajarkan kita, maka kita patut bertanya dengan jujur: apakah yang kurang—pelajaran sejarahnya, atau keberanian moral kita untuk berhenti membunuh atas nama Tuhan yang katanya Maha Pengasih? Mari kita melakukan refleksi.
----------------
Penulis: Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, saat ini berkesempatan melakukan kerja-kerja kemanusiaan di Palang Merah Indonesia Pusat. Ia mempelajari dengan mengamati ucapan dan laku dari salah satu tokoh perdamaian Bapak Jusuf Kalla, yang saat ini menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia. Tulisan ini adalah pandangan pribadinya, bukan mewakili institusi manapun.
Dr.CSP Wekadigunawan, MPH, Ph.D lebih banyak berkecimpung di penelitian-penelitian kesehatan. Namun, ia sejak sekolah dasar suka mempelajari agama dan sejarahnya. Weka, demikian banyak orang memanggilnya, dibanding nama Prajna, ingin sekali Palestina dan Israel segera mencapai kesepakatan damai.
