Denny JA bersiap ke Rusia menerima BRICS Literature Award

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya benar-benar terkejut kala mendengar bahwa Denny JA kini masuk dalam daftar 10 besar dunia calon penerima BRICS Literature Award 2025, sebuah penghargaan bergengsi yang digagas oleh jaringan sastra negara-negara BRICS dan diumumkan di Rusia. Pengakuan ini menandai langkah penting bagi sastra Indonesia di panggung internasional.
Apa itu Penghargaan BRICS Literature Award?
BRICS Literature Award lahir dari semangat kebersamaan negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) untuk merayakan keberagaman sastra dunia. Penghargaan ini bukan sekadar trofi, melainkan simbol bahwa karya sastra mampu menembus batas politik dan geografis, menyatukan manusia lewat bahasa dan imajinasi.
Rusia, sebagai tuan rumah, menekankan pentingnya literature diplomacy—bahwa puisi, prosa, dan esai dapat menjadi jembatan antarbangsa.
Mengapa Denny JA?
Denny JA dikenal sebagai pelopor puisi esai, sebuah genre yang memadukan kekuatan narasi dengan kedalaman refleksi sosial. Karya-karyanya tidak hanya berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang isu-isu kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme. Ia masuk dalam 10 besar dunia calon penerima penghargaan ini, diumumkan langsung oleh Co-Chairman BRICS Literature Network, Vadim Terekhin, di Jakarta pada Oktober 2025. Kehadirannya di panggung internasional adalah bukti bahwa suara dari Asia Tenggara mampu bergema di forum global.
Bayangkan seorang penyair yang menulis dengan tinta yang bukan sekadar hitam, melainkan bercahaya. Denny JA menorehkan kata-kata yang menjadi lentera, menuntun pembaca menembus gelapnya zaman. Karyanya adalah jembatan: dari Indonesia menuju dunia global, dari ruang pribadi menuju panggung dunia.
Penghargaan ini bukan hanya tentang satu nama, melainkan tentang Indonesia yang hadir di meja sastra internasional. Seperti perahu yang berlayar di samudra kata, Denny JA membawa harapan bahwa sastra kita mampu berdialog dengan dunia. Denny JA menjadi satu-satunya penyair Indonesia yang masuk nominasi 10 besar dunia. Karya-karyanya dianggap relevan dengan tema besar BRICS: pluralisme, demokrasi, dan kemanusiaan. Kehadirannya di panggung ini menandai Indonesia sebagai bagian dari percakapan sastra global.
Seyogyanya penghargaan yang diterima oleh Denny JA menjadi inspirasi bagi siapapun yang tertarik dengan dunia sastra, tak terkecuali saya yang pada tahun 2004 pernah meluncurkan buku saya 'Merpati di Trafalgar Square' dan sempat dibahas di beberapa majalah dan radio kala itu. Namun, hingga kini saya tak pernah menulis fiksi lagi, lebih banyak buku referensi untuk kesehatan. Nah, kembali ke Denny JA seharusnya bisa dijadikan 'role model', pengingat bahwa sastra bukan sekadar hiburan, melainkan cermin jiwa bangsa. Bahwa seorang penulis dari tanah air bisa berdiri sejajar dengan para maestro dunia. Bahwa setiap kata yang ditulis dengan kejujuran dan keberanian dapat menembus batas negara, bahkan meraih pengakuan global.
BRICS Literature Award.
BRICS Literature Award adalah penghargaan sastra internasional yang digagas oleh jaringan sastra negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan). BRICS Literature Award lahir dari forum budaya BRICS yang ingin memperkuat diplomasi melalui sastra.
Pengumuman nominasi dilakukan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, pada 27 Oktober 2025, dengan kehadiran tokoh sastra dan diplomasi dari Rusia dan Indonesia. Sebelumnya, daftar panjang nominasi diumumkan di The 2nd BRICS Forum Traditional Values di Brasil, 17 September 2025.
Tujuan Penghargaan
• Menghubungkan bangsa: Sastra dipandang sebagai jembatan antarbudaya, mempertemukan nilai tradisi dengan modernitas.
• Mengapresiasi karya lintas negara: Memberikan panggung bagi penulis dari berbagai latar belakang untuk diakui secara global.
• Mendorong inovasi sastra: Genre baru seperti puisi esai yang dipelopori Denny JA menjadi bukti bahwa eksperimen sastra bisa mendapat pengakuan internasional.
Penghargaan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah perayaan kata. Puisi, prosa, dan esai mampu menembus batas politik, menjadi bahasa universal yang menyatukan manusia.
BRICS Literature Award adalah simbol diplomasi budaya melalui sastra, dan pencapaian Denny JA di dalamnya menjadi inspirasi bahwa karya dari Indonesia bisa berdialog dengan dunia.
Apa Dampak bagi Indonesia?
• Pengakuan internasional: Masuknya Denny JA dalam 10 besar dunia calon penerima BRICS Literature Award menegaskan bahwa sastra Indonesia mampu bersaing di panggung global. Ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan literasi Nusantara.
• Diplomasi budaya: Sastra menjadi alat diplomasi yang lembut (soft power). Kehadiran Indonesia di forum BRICS melalui karya sastra memperkuat posisi bangsa dalam percakapan budaya internasional.
• Inspirasi generasi muda: Prestasi ini memberi teladan bahwa penulis Indonesia bisa menembus batas negara. Anak-anak muda yang menulis puisi, cerpen, atau novel akan melihat bahwa karya mereka berpotensi mendapat pengakuan dunia.
Apa Dampak bagi Dunia Sastra?
• Diversifikasi genre: Kehadiran puisi esai sebagai genre baru memperkaya khazanah sastra global. Dunia sastra mendapat bukti bahwa inovasi dalam bentuk dan gaya bisa diterima secara luas.
• Dialog lintas budaya: BRICS Literature Award mempertemukan penulis dari berbagai tradisi sastra. Hal ini menciptakan ruang dialog antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas.
• Sastra sebagai jembatan: Penghargaan ini menegaskan bahwa sastra bukan sekadar seni kata, melainkan jembatan antarbangsa. Ia mampu menyatukan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perbedaan politik dan ekonomi.
Penghargaan BRICS bagi Denny JA bukan hanya kemenangan personal, melainkan kemenangan sastra Indonesia. Ia membuka jalan bagi karya-karya lain dari Nusantara untuk berdialog dengan dunia, sekaligus memperkaya percakapan global tentang kemanusiaan.
Berikut sepuluh sastrawan dunia yang masuk short list BRICS Literature Award 2025. Pemenang akan diumumkan pada November 2025 di Rusia:
1. Ana Maria Gonçalves (Brazil) – Penulis dan aktivis anti-rasisme. Novelnya Um Defeito de Cor disebut karya terbaik Brasil dalam satu dekade terakhir.
2. Alexey Varlamov (Rusia) – Rektor Institut Sastra Gorky. Ia juga novelis psikologis peraih Solzhenitsyn dan Big Book Award.
3. Sonu Saini (India) – Filolog dan penerjemah Rusia–India. Ia juga merupakan dosen JNU; pionir pengajaran bahasa Rusia berbasis teknologi.
4. Ma Boyong (Tiongkok) – Penulis populer genre sejarah-fantasi. Karyanya The Longest Day in Chang’an diadaptasi menjadi serial sukses.
5. Nthabiseng JahRose Jafta (Afrika Selatan) – Penyair dan pendiri Poetic Blues Festival. Promotor multibahasa dan penerbit Sun Peo.
6. Reem Al Kamali (UEA) – Novelis dan jurnalis budaya. Karyanya Rose’s Diary dinominasikan International Prize for Arabic Fiction.
7. Abere Adamu (Etiopia) – Penulis dan politisi. Karyanya menelusuri sejarah nasional dan spiritualitas Etiopia.
8. Mansour Alimoradi (Iran) – Penulis ensiklopedia budaya rakyat Iran Tenggara. Novelnya Mid-Day Incantations dinobatkan terbaik tahun 2021.
9. Denny JA (Indonesia) – Pencipta genre puisi esai; tokoh sastra dan filantropi Asia Tenggara. Ia pernah dinominasikan Nobel Sastra.
10. Salwa Bakr (Mesir) – Novelis feminis; karya The Golden Chariot dan The Man from Bashmour. Ia menyoroti perjuangan perempuan marginal Mesir.
----------------------
Ditulis oleh Dr. Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, MPH, Ph.D
Pernah menulis puluhan cerpen di Femina, Her World dan Cosmpolitan namun tetap setia pada dunia kesehatan.
