Diplomasi Senyap di Ruang Tamu Jusuf Kalla

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah rumah yang teduh di kawasan Jakarta Selatan, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla kembali memainkan peran khasnya yakni menjadi jembatan komunikasi. Pagi itu sekitar pukul 10 pagi, Selasa 3 Maret 2026, ia menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dalam suasana hangat yang lebih menyerupai silaturahmi ketimbang pertemuan diplomatik resmi. Kerap pertemuan semacam ini disebut dengan quiet diplomacy/non-megaphone diplomacy atau diterjemahkan menjadi diplomasi senyap, yang memungkinkan semua pihak berbincang dan berdialog dengan lebih terbuka, namun tetap saling menghormati jika ada kerahasiaan yang tak boleh (untuk sementara waktu) diungkap ke media

Pertemuan berlangsung di ruang tamu yang tertata rapih dan nyaman, obrolan berlangsung penuh empati, selayaknya sahabat. Dubes Iran menyampaikan kondisi rakyatnya yang tengah menghadapi tekanan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Dengan nada penuh harap, ia berkata: “Kami berharap Indonesia, sebagai negara besar dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dapat menjadi jembatan. Rakyat kami sangat membutuhkan dukungan moral dan politik agar suara perdamaian lebih kuat terdengar.”
Jusuf Kalla mendengarkan dengan seksama, lalu menanggapi dengan ketenangan khasnya. “Indonesia selalu konsisten mendukung perdamaian. Kita tidak ingin melihat rakyat menderita karena konflik yang tak berkesudahan. Jika semua pihak bersedia, Indonesia siap membantu membuka ruang dialog,” ujarnya tanpa keraguan sedikitpun.
Percakapan itu mengalir tanpa protokol kaku. Di balik kesederhanaan rumah JK, diplomasi terasa lebih manusiawi. JK juga mengenakan batik berlengan panjang, tidak memakai jas resmi, untuk menandai perbincangan antar sahabat ini. Detail kecil seperti kedatangan Dubes dengan sedan mewah BMW Seri 7 justru menambah kontras yakni simbol status diplomatik bertemu dengan kesederhanaan seorang tokoh bangsa. Namun di dalam ruangan itu, simbol-simbol memudar, berganti dengan nilai kemanusiaan yang lebih nyata.
Peran Jusuf Kalla dalam percaturan diplomasi bukanlah hal baru. Ia dikenal sebagai arsitek perdamaian di dalam negeri, mulai dari konflik Poso, Ambon hingga Aceh, di mana ia berhasil meredakan ketegangan melalui pendekatan dialog dan kompromi. JK juga menjadi 'advisor' perdamaian di Afgahnistan dan Kolumbia. Rekam jejak itu membuatnya dihormati sebagai mediator yang mampu menghadirkan solusi di tengah kebuntuan. Kini, di usia senjanya, JK kembali menunjukkan relevansinya bahwa diplomasi tidak harus hadir di gedung-gedung megah, tetapi bisa dimulai dari ruang tamu seorang negarawan yang dipercaya.
Pertemuan Jusuf Kalla dengan Dubes Iran menjadi potret diplomasi senyap yang lahir dari ruang tamu seorang tokoh bangsa. Dengan pengalaman panjang sebagai mediator konflik, JK tetap dipercaya sebagai jembatan komunikasi. Ia membuktikan bahwa diplomasi sejati bukan hanya soal politik, melainkan juga soal hati—dan terkadang, cukup dimulai dari kehangatan senyum dan percakapan tulus.
-------------------------
Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan pengurus pusat Palang Merah Indonesia Pusat menuliskan ini sebagai catatan sejarah agar dapat dibaca oleh kaum muda tentang pentingnya diplomasi dalam mewujudkan perdamaian.
