Jusuf Kalla Soroti Peran Civil Society dalam Kegiatan Kemanusiaan

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Depok, 7 April 2026 — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat sipil (civil society) dalam menangani persoalan kemanusiaan, baik akibat konflik maupun bencana alam atau nonalam. Hal ini ia sampaikan dalam kuliah umum di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.
Tantangan Kemanusiaan Global dan Nasional

Dalam kuliahnya, Kalla menjelaskan bahwa tantangan utama kegiatan kemanusiaan saat ini berasal dari dua sumber: konflik antarmanusia dan konflik dengan alam. Ia mencontohkan konflik di Ukraina, Timur Tengah, hingga Papua, serta bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami yang menimbulkan dampak besar bagi masyarakat. Konflik-konflik ini sesungguhnya dapat dicegah dengan kemampuan memitigasi risiko.
Jusuf Kalla mengingatkan bahwa konflik kemanusiaan umumnya dipicu oleh ideologi, perebutan wilayah, kepentingan politik, dan sumber daya alam. Penyelesaian masalah kemanusiaan, tegasnya, tidak cukup hanya dengan menangani pengungsi, tetapi harus menyelesaikan akar konflik itu sendiri.
“Kalau konfliknya dapat diselesaikan, maka masalah-masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Itu lebih cepat dan lebih efektif dibanding hanya mengurus dampaknya,” ujarnya.
Pengalaman JK Menangani Konflik
Jusuf Kalla memang dikenal dalam perannya mewujudkan perdamaian di wilayah-wilayah konflik. JK menceritakan pengalamannya menangani konflik di Poso, Ambon, dan Aceh pada awal 2000-an, yang menyebabkan sekitar 1,5 juta orang mengungsi. Ia menekankan pentingnya pendekatan logika, pemahaman akar masalah, serta keberanian dalam menyelesaikan konflik sosial, termasuk konflik berbasis agama.
“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan membunuh orang lain tanpa alasan. Pendekatan ini yang kami gunakan dalam menyelesaikan konflik di Poso dan Ambon,” ucap JK dengan nada tegas.
Gotong Royong dan Kepercayaan Publik
Sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla menyoroti pentingnya gotong royong dalam penanganan bencana. Ia menyampaikan pentingnya kepercayaan publik (trust) sebagai modal utama dalam menggerakkan bantuan. Dengan adanya kepercayaan, masyarakat lebih antusias menjadi relawan dan ikut mendanai kegiatan -kegiatan kemanusiaan.
PMI saat ini didukung sekitar 1,5 juta relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, tenaga medis, hingga masyarakat umum. Dana PMI, jelas Kalla, sebagian besar berasal dari masyarakat yang percaya bahwa bantuan akan disalurkan dengan baik dan bertanggung-jawab.
Peran Universitas dalam Mitigasi Bencana
Kalla juga meminta universitas untuk turut berperan dalam mengatasi penyebab bencana alam. Ia berharap kampus dapat melakukan penelitian yang berdampak langsung pada upaya pencegahan kerusakan lingkungan.
“Di sini kita berharap kampus-kampus bisa membuat penelitian yang langsung berdampak terhadap upaya menghindari bencana alam. Termasuk bagaimana cara agar alam Indonesia yang indah ini jangan rusak,” pesannya.
Kuliah umum yang terasa istimewa ini dihadiri oleh para mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, civitas akademika, serta praktisi masyarakat sipil yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan di tingkat nasional maupun global.
--------------------
Penulis: Çri Sajjana Prajna Wékādigunawan (atau dikenal juga dengan nama Weka Gunawan) adalah Ph.D dalam bidang kesehatan keluarga (Family Health Doctor) alumnus Fakultas Kedokteran - National University of Malaysia, yang saat ini mendampingi H.M Jusuf Kalla, sebagai pengurus pusat Palang Merah Indonesia.
