Menyemai Kebijaksanaan Bernegara: Menjadi Suluh Bangsa di Lemhannas RI
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik tembok kokoh gedung Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), riak pemikiran tak pernah benar-benar tenang. Ia terus mengalir, menjangkau ceruk-ceruk terdalam tentang bagaimana sebuah bangsa memahami dirinya sendiri. Melalui Pelatihan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK), Lemhannas tidak sekadar menyajikan bukit data atau sederet doktrin normatif, melainkan membuka ruang kontemplasi: mendasarkan kepemimpinan nasional pada pondasi filosofi keilmuan yang mendalam. Saat ini Lemhanas RI digawangi oleh Tubagus Ace Hasan Syadzily, seorang politikus partai Golkar. Ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai Gubernur Lemhanas RI pada 22 Oktober 2024.

Meretas Jalan dari Epistemologi ke Karakter Bangsa
Pelatihan PPNK yang digelar Lemhannas RI berangkat dari sebuah kesadaran mendasar bahwa pengetahuan tanpa asas filosofis akan mudah terombang-ambing oleh dinamika zaman. Filosofi keilmuan yang melandasi pelatihan ini berdiri di atas tiga pilar utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi kebangsaan.
Secara ontologis, pelatihan ini mengajak peserta menggali kembali makna hakiki keberadaan Indonesia—bukan sekadar sebagai bentangan geografis dari Sabang sampai Merauke atau dari pulau Miangas sampai Pulau Rote, melainkan sebagai gagasan kebangsaan yang hidup. Lewat pendekatan epistemologis, cara berpikir kritis dan holistik diasah agar setiap kebijakan tidak lahir dari asumsi dangkal, melainkan dari kedalaman analisis intelektual. Pada puncaknya, dimensi aksiologi menegaskan bahwa ilmu dan kekuasaan harus bermuara pada kearifan, etika, serta kemaslahatan bersama.
Pertemuan Para Penjaga Arah Bangsa
Pelatihan ini menjadi muara bagi beragam latar belakang yang melebur dalam satu ruang dialektika. Di dalam ruang-ruang kelas PPNK, hadir para tokoh masyarakat, akademisi, birokrat, aparat TNI/Polri, profesional, hingga pimpinan organisasi kemasyarakatan dan pemuda.
Perbedaan seragam, profesi, dan sudut pandang tidak menjadi jurang pemisah, melainkan kekayaan perspektif. Mereka duduk berdampingan, berdiskusi, dan berdialog di bawah bimbingan para pengajar, pakar, serta narasumber senior Lemhannas RI yang mengawal jalannya perenungan filosofis tersebut.
Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, seorang akademisi yang berkecimpung puluhan tahun di ranah kesehatan masyarakat menjadi salah satu peserta dari PPNK angkatan 74, beserta 98 orang lainnya. Mereka terdiri atas pegawai negeri sipil, pengusaha, polisi, akademisi, tokoh swasta, tokoh masyarakat dan juga para Jendral di jajaran angkatan bersenjata Indonesia (ABRI).
Terpilih sebagai Ketua kelas PPNK angkatan 74, adalah Isyak Meirobie, seorang politikus Indonesia kelahiran Tanjung Pandan, Belitung. Ia merupakan alumni program studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara. Ia sempat menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Belitung. Pada 2019, ia diangkat menjadi Wakil Bupati Belitung mendampingi Sahani Saleh selaku Bupati Belitung. Saat ini, Isyak menjadi asisten penasehat Presiden dalam bidang komunikasi, di bawah koordinasi Hasan Nasbi.
Buah Pengetahuan: Dari Kedalaman Berpikir hingga Kematangan Sikap
Bagi para peserta, menempuh perjalanan intelektual di PPNK Lemhannas RI memberikan dampak yang melampaui sekadar wawasan teoritis.
Penaajaman Visi Strategis: Peserta dibekali kemampuan melihat persoalan bangsa secara sistemik dan komprehensif, tidak lagi terjebak dalam egosentrisme sektoral.
Penguatan Etika dan Kepemimpinan Moral: Menyadari bahwa setiap keputusan publik memiliki konsekuensi moral, nilai-nilai Pancasila dan Konstitusi diresapi sebagai panduan etis bertindak.
Resonansi Kesadaran Kolektif: Terjalinnya ikatan kebangsaan yang erat antarpeserta, menumbuhkan sinergi lintas profesi yang dilandasi rasa saling percaya dan tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, PPNK Lemhannas RI bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah ikhtiar menyemai kebijaksanaan. Di sinilah filosofi keilmuan bersatu dengan jiwa nasionalisme—menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pemandu arah, dan kebangsaan sebagai poros pengabdian.
Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan
National Board Member of Indonesian Red Cross

