Penyakit Degeneratif: Ancaman Senyap di Ibukota

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kasus penyakit degeneratif di Jakarta terus meningkat, terutama stroke, hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Dahulu, penyakit degeneratif sering diderita hanya oleh orang-orang tua sekitar 50 tahun ke atas. Sekarang, tidak lagi. Usia muda, bahkan sekitar 20 tahunan, sudah mulai terjangkit penyakit ini.
Beberapa pakar dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul, menyoroti stroke sebagai penyebab kematian tertinggi dengan lebih dari 300.000 jiwa per tahun, sementara gaya hidup perkotaan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi warga.

Dr. Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, Prof Aprilita, Dra. Apt. Inherni dan Dra.Apt. Ayu beserta mahasiswa Program Studi Farmasi yang diketuai Claudia, melaksanakan pengabdian masyarakat di RW 09 Tambora - Jakarta Barat pada hari Kamis tanggal 9 Juli 2026.
Siapa yang paling terdampak?
Memang menyedihkan menyadari hal ini. Lansia mempunyai risiko tinggi terkena stroke dan penyakit jantung. Pekerja atau buruh kantoran yang mempunyai pola hidup sedentari, mengalami stres kronis yang tidak disadari, dan mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi garam dan minuman-minuman yang manis. Warga pinggiran kota, para komuter yang tidak mempunyai akses leluasa ke ruang terbuka hijau (RTH) dan fasilitas kesehatan. Juga para mahasiswa yang kerap makan sembarangan asal kenyang dan suka sekali minuman manis.
Bagaimana tindakan Pencegahan dan Pengendalian?
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan target menjangkau 130 juta penduduk tahun ini, fokus pada deteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol. Pendekatan 80-80-80 yakni 80% penduduk teridentifikasi, 80% ditangani, 80% berhasil mengendalikan kondisi.
Tidak hanya itu, fasilitas kesehatan perlu juga ditingkatkan. Pemerintah menargetkan seluruh kabupaten/kota memiliki CT scan dan cath lab untuk penanganan darurat stroke. Intervensi lintas sektor juga amat perlu diupayakan, perbaikan pola hidup masyarakat perkotaan, pengendalian polusi udara, dan penyediaan ruang terbuka hijau yang lebih banyak di Jakarta dan juga di kota-kota penyangganya.
Dr. Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, Prof. Aprilita, Dra. Apt Ayu dan Dra. Apt Inherni menyampaikan pendapat mereka dan dapat disimpulkan bahwa penyakit degeneratif di Jakarta adalah ancaman serius yang menimpa berbagai lapisan masyarakat, terutama lansia dan pekerja perkotaan. Pencegahan melalui skrining dini, pola hidup sehat, dan intervensi lintas sektor menjadi kunci untuk menekan angka kasus.
Jakarta 10 Juli 2026
Dr. Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, DVM, MPH, Ph.D
Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan juga Ketua Senat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul.
