Konten dari Pengguna

Sehat dari Organ yang Dibuang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Ray Wagiu Basrowi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah penelitian di jurnal Nature pada April 2026 memperlihatkan sesuatu yang menakjubkan tentang plasenta. Dengan teknologi yang mampu melihat jaringan hingga tingkat sel, para ilmuwan memetakan bagaimana sel-sel ibu dan sel-sel yang berkaitan dengan kehamilan bertemu, berubah, dan saling berkomunikasi dari awal kehamilan hingga mendekati kelahiran.

Sehat dari Organ yang Dibuang
zoom-in-whitePerbesar

Mereka menemukan pola interaksi yang sebelumnya belum dimengerti secara mendalam. Temuan ini semakin menegaskan bahwa plasenta bukan sekadar ‘penghubung’ antara ibu dan bayi, melainkan organ hidup yang sangat aktif dan kompleks.

Namun, setelah bayi lahir, apa yang terjadi pada organ luar biasa ini? Plasenta ikut keluar dan tugasnya selesai. Dalam banyak persalinan, setelah diperiksa sesuai kebutuhan medis, plasenta tidak lagi menjadi perhatian utama. Bayi dipeluk, foto pertama diambil, nama mulai dipanggil, sementara organ yang selama berbulan-bulan membantu kehidupan itu perlahan menghilang dari cerita.

Mungkin plasenta atau yang sering kita kenal sebagai ari-ari adalah salah satu contoh paling menarik tentang sesuatu yang sangat penting tetapi hanya dibutuhkan sementara. Kita membutuhkan jantung seumur hidup, paru-paru bekerja sejak napas pertama sampai akhir kehidupan, dan otak terus menemani kita berpikir dan merasakan.

Namun nasib plasenta berbeda, karena organ ini hadir untuk sebuah pekerjaan khusus: membantu menjaga kehidupan ketika kita belum mampu hidup sendiri. Tapi sebenarnya plasenta punya arti, makna, dan fungsi yang lebih besar dari yang kita bayangkan, bahkan ketika dia sudah dilahirkan bersama sang bayi.

Setelah diperiksa dan dipastikan tidak ada masalah, keduanya tidak lagi diperlukan oleh tubuh. Namun, perkembangan ilmu biomolekuler membuat dunia kedokteran mulai melihat ‘sisa’ ini dengan cara yang sama sekali berbeda. Kajian ilmiah di jurnal Bioactive dari Elsevier pada 2025 bahkan menggambarkan bahwa plasenta yang dahulu sering dipandang sebagai biowaste kini semakin banyak diteliti sebagai sumber bahan biologis untuk riset biomedis dan kedokteran regeneratif.

Salah satu contohnya adalah darah tali pusat atau cord blood. Setelah seorang bayi lahir, masih terdapat darah di dalam tali pusat dan plasenta. Dulu darah ini ikut terbuang. Kini kita tahu bahwa darah tali pusat mengandung hematopoietic stem cells, yaitu sel induk yang mempunyai kemampuan membentuk berbagai jenis sel darah.

Sel-sel inilah yang sudah digunakan dalam transplantasi untuk sejumlah penyakit darah, gangguan sistem imun, dan penyakit genetik tertentu. Jadi sesuatu yang beberapa dekade lalu hampir tidak mempunyai nilai medis, kini pada kondisi tertentu dapat menjadi sumber terapi yang penting.

Cara paling sederhana untuk membayangkan stem cell mungkin seperti sel yang belum memilih pekerjaan akhirnya. Sebagian besar sel tubuh kita sudah mempunyai profesi, seperti misalnya sel otot bekerja sebagai sel otot, sel saraf mempunyai fungsi sebagai sel saraf, dan sel kulit menjalankan pekerjaan sebagai sel kulit.

Sel induk ini berada pada tahap yang berbeda. Tergantung pada jenisnya, sel tersebut mempunyai kemampuan memperbarui diri dan menghasilkan jenis sel tertentu. Hematopoietic stem cell dalam darah tali pusat, misalnya, dapat menghasilkan berbagai sel pembentuk darah. Karena kemampuan itulah, darah tali pusat mempunyai kegunaan klinis yang nyata dalam transplantasi.

Teknologi kemudian memungkinkan darah tali pusat dikumpulkan setelah kelahiran, diproses, diperiksa kualitasnya, lalu disimpan pada suhu sangat rendah di cord blood bank. Secara sederhana, ini seperti membuat ‘perpustakaan biologis’, namun yang disimpan bukan buku, melainkan bahan biologis yang pada situasi medis tertentu dapat digunakan untuk transplantasi.

Namun, di sinilah masyarakat perlu memahami perbedaan antara harapan ilmiah dan janji komersial. Menyimpan darah tali pusat bukan berarti kita sedang menyimpan ‘obat untuk semua penyakit di masa depan’. Penggunaan yang paling terbukti secara ilmiah saat ini adalah transplantasi hematopoietic stem cell untuk penyakit tertentu yang berkaitan dengan darah dan sistem imun.

Cerita ilmiahnya tentang sel induk ini memang sedang berkembang dengan cepat. Bukan hanya darah tali pusat yang menarik perhatian peneliti, tetapi jaringan tali pusat, selaput amnion, dan plasenta juga mengandung berbagai jenis sel dan molekul biologis yang sedang dipelajari untuk regenerative medicine.

Analogi sederhananya begini. Dulu, kita melihat plasenta seperti kardus; setelah paket dibuka dan isinya sudah sampai, bungkusnya dianggap selesai. Ilmu pengetahuan kemudian membuka kardus itu kembali dan menemukan bahwa ternyata masih ada banyak informasi biologis di dalamnya yang layak dipelajari.

Plasenta dengan demikian mempunyai dua cerita. Cerita pertamanya sudah berlangsung sejak manusia ada: membantu kehidupan sampai kelahiran. Cerita keduanya baru perlahan kita pahami melalui teknologi biomolekuler: membantu ilmu pengetahuan memahami bagaimana kehidupan dapat diperbaiki ketika sakit.

Tentu tidak semua keluarga perlu menyimpan darah tali pusat, dan keputusan mengenai cord blood banking sebaiknya dibuat berdasarkan indikasi, bukti ilmiah, regulasi, biaya, dan diskusi dengan tenaga kesehatan. Organisasi profesi seperti ACOG bahkan tidak mendukung penyimpanan privat rutin sebagai semacam 'asuransi biologis' bagi semua keluarga tanpa indikasi khusus.

Tetapi kita semua bisa membawa pulang satu pelajaran sederhana dari perkembangan ilmu ini: jangan terlalu cepat menyebut sesuatu tidak berguna hanya karena tugas pertamanya telah selesai.

Plasenta mungkin hanya hadir beberapa bulan. Setelah bayi lahir, kita tidak lagi membutuhkannya sebagai organ. Namun, dari sesuatu yang dahulu dianggap sisa persalinan, manusia menemukan sel pembentuk darah, bahan penelitian, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kedokteran regeneratif.

Mungkin itulah sisi paling filosofis dari plasenta. Kehidupan kadang meninggalkan sesuatu setelah sebuah tugas selesai, dan pengetahuan membuat kita mampu melihat nilai yang sebelumnya tidak terlihat.

Dulu kita membuangnya karena mengira tugasnya telah selesai. Kini sains membuat kita bertanya: jangan-jangan ceritanya memang selesai untuk satu kehidupan, tetapi belum tentu selesai untuk ilmu pengetahuan dan keberlangsungan hidup.

Saat mempersiapkan kelahiran, jangan hanya bertanya apa yang perlu disiapkan setelah bayi lahir. Bicarakan juga dengan tenaga kesehatan tentang plasenta, darah tali pusat, manfaat yang sudah terbukti, dan mana yang masih berupa harapan penelitian. Keputusan kesehatan terbaik tidak lahir dari ketakutan terhadap masa depan, melainkan dari pengetahuan yang benar hari ini.