Konten dari Pengguna

Sehat dari Sebelum Ada

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Ray Wagiu Basrowi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisakah kesehatan seseorang dimulai bahkan sebelum ia sendiri ada? Pertanyaan ini terdengar seperti permainan kata. Kita terbiasa menganggap perjalanan kesehatan dimulai ketika seorang bayi lahir, atau paling jauh ketika kehamilan dimulai.

Sejak dua garis muncul pada test pack, calon ibu mulai memperhatikan makanan, meminum suplemen sesuai anjuran, memeriksakan kehamilan, menjaga aktivitas, dan menghindari berbagai paparan yang berisiko. Kita kemudian mengenal 1.000 Hari Pertama Kehidupan sebagai periode penting sejak awal kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.

Namun, ilmu kesehatan modern memberi kita satu perspektif yang lebih menarik: seribu hari pertama ternyata memiliki cerita sebelum hari pertamanya. Anggap saja ada sesuatu yang kita sebut “Hari Minus” dalam kehidupan seorang anak. Jika awal kehamilan adalah hari pertama, maka ada hari minus 30, minus 100, bahkan bertahun-tahun sebelumnya.

Pada hari-hari itu anak kita memang belum ada. Namun, calon ibu dan calon ayahnya sudah ada. Mereka sedang sekolah, bekerja, makan, tidur, berolahraga atau mungkin jarang bergerak. Sebagian mungkin mengalami anemia, kelebihan berat badan, kekurangan gizi, stres, merokok, atau hidup di lingkungan yang kurang sehat.

Saat itu mereka mungkin sama sekali belum membayangkan akan menjadi orang tua. Namun, mereka sedang menjalani bagian dari perjalanan kesehatan yang kelak mereka bawa ketika memasuki masa prakonsepsi.

Cara pandang ini sejalan dengan berkembangnya pendekatan life-course serta Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD). Sederhananya, kesehatan manusia bukan kumpulan episode yang berdiri sendiri.

Kondisi pada satu fase kehidupan dapat berhubungan dengan fase berikutnya. Lingkungan pada masa perkembangan awal juga dapat ikut memengaruhi bagaimana organ, metabolisme, dan berbagai sistem tubuh berkembang. Karena itulah, kesehatan pada awal kehidupan semakin dipahami bukan hanya sebagai persoalan bagaimana membuat bayi lahir sehat, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kesehatan yang jauh lebih panjang.

Namun, ada hal menarik yang sering terlewat ketika kita membicarakan awal kehidupan. Sebelum menjadi seorang ibu, seorang perempuan pernah menjadi anak perempuan dan remaja.

Mungkin ia pernah mengalami anemia ketika sekolah atau pola makannya belum baik. Mungkin aktivitas fisiknya kurang atau ia tumbuh dalam keluarga yang sulit memperoleh makanan bergizi.

Artinya, bila kita ingin mempunyai ibu hamil yang sehat sepuluh tahun lagi, pekerjaan itu tidak selalu bisa dimulai sepuluh tahun lagi. Menjaga kesehatan remaja perempuan hari ini pada dasarnya adalah investasi untuk kesehatan dirinya sekarang, sekaligus dapat menjadi modal kesehatan ketika suatu hari ia memasuki masa prakonsepsi dan kehamilan.

Hal yang sama berlaku bagi laki-laki. Selama ini pembicaraan mengenai persiapan kehamilan terlalu mudah berubah menjadi daftar pekerjaan perempuan: ibu harus makan sehat, ibu jangan anemia, ibu harus menjaga berat badan, ibu harus menghindari rokok, ibu harus mempersiapkan kehamilan.

Semua itu penting, tetapi anak tidak berasal dari ibu seorang diri. Separuh materi genetik nuklir seorang anak berasal dari ayah. Penelitian juga semakin banyak mempelajari bagaimana kesehatan laki-laki sebelum konsepsi, termasuk obesitas, merokok, pola hidup dan berbagai paparan lingkungan, berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan karakteristik sperma.

Kita tentu harus berhati-hati membaca ilmu tersebut. Kesehatan orang tua bukan ramalan nasib anak. Seorang ibu yang pernah mengalami anemia tidak otomatis akan memiliki anak dengan masalah kesehatan. Ayah yang pernah merokok tidak berarti anaknya pasti sakit.

Ilmu tentang genetika juga tidak boleh dipahami sebagai semacam takdir baru yang menggantikan genetika. Perkembangan manusia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor biologis, lingkungan, sosial, dan perilaku sepanjang kehidupan.

Justru di situlah pesan yang membesarkan hati: risiko bukanlah takdir. Mengetahui bahwa kesehatan mempunyai akar yang panjang berarti kita mempunyai lebih banyak kesempatan untuk memperbaikinya.

Karena itu, gagasan “Hari Minus” seharusnya tidak membuat calon orang tua semakin cemas. Sebaliknya, ia memperpanjang jendela kesempatan untuk hidup sehat. Persiapan menjadi orang tua tidak harus dimulai ketika seseorang membeli test pack, melainkan dapat dimulai ketika seorang remaja mengatasi anemia, ketika seorang laki-laki berhenti merokok, ketika pasangan mulai memperbaiki pola makan, ketika seseorang menjaga berat badan dan aktivitas fisiknya, atau ketika calon orang tua memeriksakan kesehatan sebelum merencanakan kehamilan.

Tetapi ada persoalan yang lebih besar. Calon ibu dan calon ayah tidak hidup di ruang kosong. Mereka makan dari sistem pangan yang tersedia di sekitarnya, menghirup udara dari lingkungan tempat tinggalnya, bekerja mengikuti kondisi tempat kerjanya, bahkan membeli makanan sesuai kemampuan ekonominya.

Karena itu, kesehatan sebelum kehamilan bukan semata-mata hasil dari disiplin seseorang. Ada lingkungan yang membuat hidup sehat lebih mudah, dan ada lingkungan yang justru membuatnya sangat sulit.

Di sinilah cerita tentang seorang bayi berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Bayangkan seorang remaja perempuan berusia 15 tahun hari ini. Mungkin ia belum pernah memikirkan pernikahan atau kehamilan. Jika kita mencegahnya mengalami anemia, memastikan ia memperoleh makanan yang baik, pendidikan yang memadai, aktivitas fisik, serta pelayanan kesehatan yang berkualitas, manfaat paling langsung tentu untuk dirinya sendiri.

Tetapi jika suatu hari ia memilih menjadi ibu, kesehatan yang dibangun sejak remaja juga menjadi modal penting ketika memasuki kehamilan. Demikian pula, kita melindungi remaja laki-laki dari rokok, obesitas, dan berbagai faktor risiko kesehatan. Kita sedang menjaga anak muda hari ini, sekaligus berpotensi memperbaiki titik awal kesehatan keluarga yang mereka bangun kelak.

Cara pandang ini juga membantu kita menghindari kebiasaan yang cukup tidak adil dalam kesehatan anak: terlalu cepat menyalahkan ibu. Ketika seorang anak mengalami masalah pertumbuhan, ibu ditanya apa yang ia makan. Ketika ASI tidak berjalan sesuai harapan, ibu merasa gagal. Ketika MPASI dianggap tidak tepat, ibu kembali menjadi pusat evaluasi.

Padahal seorang perempuan menjalani kehamilan dan pengasuhan di dalam lingkungan yang tidak sepenuhnya ia kendalikan. Sulit meminta ibu menyediakan makanan bergizi jika makanan berkualitas tidak terjangkau. Sulit bagi ibu untuk bebas stres jika pekerjaan tidak manusiawi dan dukungan keluarga minim. Sulit meminta rumah bebas asap rokok jika orang di sekitarnya tetap merokok.

Maka kalimat “kesehatan anak dimulai dari ibu” sebenarnya perlu diperluas. Kesehatan anak memang sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu, tetapi kesehatan ibu sendiri dipengaruhi oleh ayah, keluarga, pendidikan, pekerjaan, pangan, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan kebijakan publik.

Barangkali selama ini kalender kesehatan kita memang terlalu pendek. Kita membagi kesehatan manusia menjadi kesehatan remaja, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan dewasa, dan kesehatan lansia. Pembagian itu diperlukan untuk menjalankan program.

Namun, kehidupan manusia sendiri tidak pernah benar-benar terpotong seperti itu. Remaja hari ini menjadi orang dewasa esok. Sebagian kemudian menjadi orang tua. Anak mereka tumbuh menjadi remaja, lalu siklus kehidupan berjalan kembali. Kesehatan, karena itu, bukan hanya perjalanan sepanjang kehidupan, tetapi juga dapat menjadi perjalanan antargenerasi.

Ada pesan sederhana yang dapat kita bawa pulang dari semua ilmu yang terdengar rumit tersebut. Ketika kita menjaga kesehatan diri sendiri, manfaatnya tidak selalu berhenti pada diri kita. Ketika masyarakat menjaga kesehatan anak mudanya, manfaatnya pun tidak harus selesai pada generasi hari ini. Kita sedang menciptakan modal kesehatan yang dapat dibawa ke tahap kehidupan berikutnya. Inilah sebabnya kesehatan mungkin merupakan salah satu warisan paling awal yang dapat kita persiapkan.

Tidak ada orang tua yang memulai perjalanan itu dengan keadaan sempurna. Tidak semua kehamilan direncanakan. Tidak semua orang mempunyai kesempatan menjalani masa prakonsepsi ideal. Tidak semua keluarga mempunyai sumber daya yang sama. Karena itu, ilmu mengenai kesehatan awal kehidupan seharusnya tidak dipakai untuk menciptakan rasa bersalah. Sebaliknya, ia seharusnya membuat masyarakat dan negara menyadari bahwa semakin awal kesempatan untuk sehat diberikan, semakin panjang pula kemungkinan manfaatnya.

Maka mungkin pertanyaan tentang kesehatan anak tidak cukup dimulai dengan, “Apa yang harus dilakukan ketika ibu sudah hamil?” Kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih awal: seberapa sehat calon ibu dan calon ayah jauh sebelum kehamilan itu terjadi? Dan lebih jauh lagi, seberapa baik masyarakat membantu mereka menjadi sehat?

Mungkin inilah salah satu bentuk paling indah dari kesehatan masyarakat: kita dapat mulai menjaga seseorang bahkan sebelum kita mengenalnya. Sebelum mengetahui wajahnya. Sebelum memilih namanya. Bahkan sebelum ia ada.

Karena ternyata, sehat bisa dimulai dari sebelum ada.