Konten dari Pengguna

Sehat dari Zat Besi Sebelum Suapan Pertama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Ray Wagiu Basrowi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum pernah makan satu suap pun, otak kita ternyata sudah membutuhkan zat besi. Kedengarannya aneh.

Bagaimana mungkin seorang bayi membutuhkan zat besi ketika ia bahkan belum pernah makan? Belum mengenal nasi, telur, daging, sayuran, bahkan belum tahu apa artinya lapar. Jawabannya membawa kita kembali ke tempat pertama kehidupan manusia bertumbuh: tubuh ibu.

Sehat dari Zat Besi Sebelum Suapan Pertama
zoom-in-whitePerbesar

WHO memperkirakan sekitar 37 persen perempuan hamil di dunia mengalami anemia. Ini bukan angka kecil karena berarti satu dari tiga ibu hamil di Indonesia mengalami kekurangan zat besi. Anemia pada ibu hamil juga bukan sekadar cerita tentang mudah lelah, lemas, pusing, atau wajah yang terlihat pucat.

Anemia selama kehamilan berkaitan dengan berbagai dampak yang kurang baik, termasuk peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Karena itu, anemia pada ibu hamil tetap menjadi salah satu masalah kesehatan ibu dan anak yang penting secara global.

Tetapi ada satu hal tentang zat besi yang mungkin jarang kita pikirkan. Kita mengenal zat besi sebagai bahan penting untuk membentuk hemoglobin, bagian dari sel darah merah yang membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh. Padahal pekerjaan zat besi tidak berhenti di darah. Zat besi juga dibutuhkan oleh otak yang sedang berkembang.

Zat besi terlibat dalam berbagai proses penting dalam perkembangan otak janin, termasuk metabolisme energi, pembentukan mielin atau serabut saraf, dan fungsi neurotransmiter atau pengiriman pesan dan memori otak. Artinya, jauh sebelum seorang anak menggunakan otaknya untuk belajar membaca, berhitung, mengingat nama orang tuanya, atau mengenali dunia, zat besi sudah dibutuhkan ketika otak tersebut sedang dibangun.

Ibarat sedang membangun rumah, zat besi layaknya bahan penting untuk membentuk fondasi bangunan rumah. Dan pada awal kehidupan, janin tidak mungkin mencari bahan bangunannya sendiri.

Ia belum bisa makan. Belum bisa membeli makanan tinggi zat besi. Bahkan belum mengenal rasa lapar. Untuk memperoleh oksigen dan berbagai zat gizi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan janin, ia masih sangat bergantung pada tubuh ibu dan fungsi plasenta. Dengan kata lain, sebelum mempunyai piring sendiri, kita bergantung pada apa yang tersedia melalui tubuh orang lain, yaitu tubuh ibu.

Itulah mengapa ungkapan lama bahwa ibu hamil harus “makan untuk dua orang” perlu sedikit diluruskan. Kehamilan sehat bukan berarti makan dua kali lebih banyak. Yang lebih penting adalah memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi secara cukup dan berkualitas.

Tubuh ibu sedang menjalani perubahan biologis besar sekaligus mendukung pertumbuhan janin. Salah satu kebutuhan yang meningkat dan perlu mendapat perhatian adalah zat besi pada kehamilan.

Masalahnya, kekurangan zat besi sering tidak berbunyi seperti alarm. Tidak selalu ada gejala yang membuat seseorang segera merasa sedang sakit. Keluhannya bisa terasa biasa: cepat lelah, lemas, pusing, atau sulit berkonsentrasi. Sebagian perempuan bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengalami anemia.

Di situlah anemia menjadi berbahaya karena mudah diremehkan. Merasa sehat belum tentu berarti tidak anemia.

Sebaliknya, merasa lelah juga tidak otomatis berarti anemia. Anemia mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Selain kekurangan zat besi, kekurangan zat gizi lain, infeksi, inflamasi, penyakit tertentu, hingga kelainan darah bawaan dapat berperan. Karena itu, anemia sebaiknya tidak didiagnosis hanya dengan melihat wajah pucat atau berdasarkan perasaan tubuh.

Pemeriksaan hemoglobin dan evaluasi tenaga kesehatan tetap penting. Begitu pula pengobatannya. Solusi anemia bukan sekadar membeli suplemen zat besi sebanyak mungkin. Penyebab perlu dipahami dan penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Dalam kehamilan, WHO merekomendasikan suplementasi zat besi dan asam folat sebagai bagian dari pelayanan antenatal untuk membantu mencegah anemia maternal serta menurunkan risiko berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

Namun ada satu cerita yang jauh lebih besar daripada tablet tambah darah untuk ibu hamil. Seorang perempuan tidak tiba-tiba mendapatkan status gizinya pada hari dua garis muncul di test pack.

Sebelum menjadi ibu hamil, ia pernah menjadi perempuan muda. Sebelum itu, ia pernah menjadi remaja. Ia mungkin sudah mengalami menstruasi selama bertahun-tahun. Pola makannya sudah terbentuk.

Bisa jadi anemia bahkan sudah terjadi jauh sebelum kehamilan direncanakan. Maka jika perhatian terhadap zat besi baru dimulai setelah seorang perempuan hamil, kita mungkin sedang membaca ceritanya dari tengah.

Inilah mengapa anemia remaja putri mempunyai tempat penting dalam cerita 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Remaja perempuan tentu harus sehat pertama-tama untuk dirinya sendiri. Mereka berhak belajar dengan optimal, aktif, dan produktif, serta tumbuh sehat tanpa harus selalu dipandang sebagai “calon ibu”.

Namun, bagi mereka yang suatu hari memilih mempunyai anak, kesehatan dan status gizi yang dibangun sejak remaja juga menjadi modal ketika memasuki masa prakonsepsi dan kehamilan. Dengan cara pandang itu, 1.000 HPK ternyata mempunyai cerita sebelum hari pertamanya.

Sebelum ada bayi, ada janin. Sebelum ada janin, ada kehamilan. Sebelum kehamilan, ada seorang perempuan. Dan sebelum menjadi ibu, perempuan itu pernah menjadi seorang remaja yang kesehatannya juga perlu dijaga.

Tetapi di sinilah kita harus berhati-hati. Pengetahuan tentang hubungan kesehatan ibu dan janin jangan sampai menciptakan kesimpulan bahwa semua masalah anak adalah kesalahan ibu.

Justru sebaliknya. Kalau kesehatan ibu begitu penting, mengapa kita membiarkan ibu menjaganya sendirian?

Kita bisa mengatakan kepada ibu hamil, “Makan yang bergizi.” Tetapi apakah makanan bergizi tersedia dan terjangkau? Kita bisa mengatakan, “Jangan anemia.” Tetapi apakah kadar zat besi ibu pernah diperiksa?

Kita bisa meminta Ibu untuk rutin minum tablet tambah darah. Tetapi apakah tablet tersedia? Apakah ia memahami manfaatnya? Apakah ada pendampingan ketika mengalami efek samping? Kita bisa mengatakan, “Rutin periksa kehamilan.” Tetapi apakah pelayanan kesehatan mudah dijangkau?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengubah anemia dari sekadar persoalan darah menjadi persoalan kesehatan masyarakat. Anemia berkaitan bukan hanya dengan apa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga dengan kualitas pangan, kemampuan ekonomi keluarga, pendidikan, infeksi, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, dan berbagai determinan sosial kesehatan.

Maka, pertanyaan yang lebih layak ketika seorang ibu mengalami anemia bukan hanya “Mengapa ibu tidak makan lebih baik?” Kita juga perlu bertanya: “Apakah kita sudah membuat hidup sehat cukup mudah untuk dilakukan?”

Di sinilah sesuatu yang sekecil zat besi membawa kita pada persoalan sebesar sebuah bangsa. Ketika sekolah membantu mencegah anemia pada remaja putri, kita sedang berinvestasi pada kesehatan. Ketika keluarga menyediakan makanan bergizi, kita sedang berinvestasi pada kesehatan.

Ketika ayah menemani pemeriksaan kehamilan dan mendukung ibu mengonsumsi suplemen sesuai anjuran, kita sedang berinvestasi pada kesehatan. Ketika tenaga kesehatan mampu mendeteksi anemia pada kehamilan lebih dini, kita sedang berinvestasi pada kesehatan.

Dan ketika negara membuat makanan bergizi, tablet tambah darah, pemeriksaan hemoglobin, serta pelayanan kesehatan ibu lebih mudah dijangkau, investasi itu dilakukan untuk jutaan kehidupan sekaligus.

Tubuh membutuhkan zat besi dalam jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan makanan yang kita konsumsi setiap hari. Namun, peran dan kegunaan zat besi sangatlah besar dan super penting.

Kadang-kadang kehidupan memang dibentuk oleh sesuatu yang ukurannya jauh lebih kecil daripada arti yang dibawanya. Kita sering membayangkan kesehatan anak dimulai ketika anak sudah lahir: ketika mendapat ASI, imunisasi, MPASI bergizi, tidur cukup, aktif bergerak, dan tumbuh dengan baik. Semua itu penting. Tetapi sebagian cerita kesehatan ternyata sudah berlangsung jauh sebelum sendok pertama dipegang.

Karena itu, untuk perempuan yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil, pesannya sederhana: jangan menebak "saya anemia atau tidak". Periksakan kesehatan, perhatikan makanan bergizi dan sumber zat besi, jalani pemeriksaan kehamilan, serta konsumsi suplemen sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Untuk ayah dan keluarga, pesannya bahkan lebih sederhana: jangan hanya menyuruh ibu makan lebih baik. Bantu membuatnya mungkin. Sediakan makanan yang baik. Temani pemeriksaan kehamilan. Dukung konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. Dengarkan keluhannya. Dan jadikan kesehatan ibu hamil sebagai pekerjaan keluarga, bukan tugas seorang perempuan sendirian.

Suatu hari bayi itu akan memegang sendok pertamanya. Ia akan mengenal rasa manis, asin, asam, dan gurih. Ia akan belajar memilih makanan. Kemudian ia akan tumbuh menjadi manusia yang perlahan bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri.

Tetapi ada masa ketika ia belum mempunyai satu pun pilihan, padahal tubuh dan otaknya sudah sibuk bertumbuh. Sebelum kita mampu memilih apa yang dibutuhkan tubuh kita, seseorang lebih dahulu membantu menyediakannya untuk kita.

Jadi, sehat memang harus dimulai dari zat besi yang di awal kehidupan memang masih disediakan sang ibu. Jauh sebelum zat besi pertama datang dari piring kita sendiri, kita sudah membutuhkannya untuk menjadi diri kita hari ini.