Konten dari Pengguna

Trump: The Gamesman

Dr. Riant Nugroho

Dr. Riant Nugroho

Ketua Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia, Pengajar di Lemhannas, dan Pasca Sarjana Unjani

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr. Riant Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota pers di atas Air Force One dalam perjalanan kembali ke Gedung Putih pada 11 Januari 2026 di Palm Beach, Florida. Foto: Samuel Corum/Getty Images via AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota pers di atas Air Force One dalam perjalanan kembali ke Gedung Putih pada 11 Januari 2026 di Palm Beach, Florida. Foto: Samuel Corum/Getty Images via AFP

Donald Trump kerap digambarkan sebagai presiden yang gemar berperang. Namun, label itu menyesatkan. Trump bukanlah pemimpin dengan naluri militer klasik, melainkan seorang "pedagang politik". Apa yang tampak sebagai rangkaian "perang"—dagang, diplomatik, institusional, bahkan militer—lebih tepat dibaca sebagai instrumen negosiasi bisnis berskala global.

Sejak awal masa jabatan keduanya, Trump memosisikan Amerika Serikat seolah berkonflik dengan hampir seluruh dunia: negara besar, negara berkembang, hingga lembaga internasional. Konflik ini bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah alat transaksi. Setidaknya terdapat tujuh arena utama yang dapat dibaca sebagai strategi khas Trump.

Tujuh Arena Konflik

Pertama, perang dagang dengan China. Perang dagang AS–China menjadi episentrum strategi Trump. Dimulai pada 2018, konflik tarif ini berkembang menjadi perang sistemik yang mengguncang rantai pasok global, menciptakan ketidakpastian ekonomi, dan memaksa banyak negara memilih posisi. Tarif dibingkai Trump sebagai upaya melindungi keamanan nasional, kekayaan intelektual, dan mengoreksi defisit perdagangan.

Namun dalam praktiknya, tarif berfungsi sebagai alat tekan. Setiap eskalasi hampir selalu diikuti tawaran jeda, gencatan senjata, atau kesepakatan parsial. Kesepakatan Dagang Fase I (Januari 2020) menegaskan pola ini: konflik dibuka keras, lalu ditutup dengan perjanjian yang menguntungkan AS—tanpa sepenuhnya mencabut tarif. Perang bukan tujuan, melainkan posisi tawar.

Kedua, tarif timbal balik global. Pada April 2025, Trump mengumumkan tarif dasar 10 persen untuk hampir seluruh impor AS, disertai skema reciprocal tariffs. Indonesia termasuk negara yang terdampak. Trump menyebut kebijakan ini sebagai “deklarasi kemerdekaan ekonomi”.

Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Logikanya sederhana: siapa pun yang menikmati pasar AS harus membayar ongkos politik dan ekonomi. Surat resmi kepada 14 negara—dengan ancaman tarif hingga 40 persen—menunjukkan diplomasi tarif sebagai bentuk tekanan langsung antarnegara. Tarif bukan lagi sekadar instrumen proteksi, melainkan juga sebagai alat disiplin global.

Ketiga, keluar dari Perjanjian Iklim Paris. Penarikan AS dari Paris Agreement pada hari pertama masa jabatan kedua Trump menegaskan sikap anti-multilateralisme berbasis norma global. Trump memandang komitmen iklim sebagai transaksi yang merugikan secara sepihak—memindahkan beban ekonomi AS kepada negara lain. Bagi Trump, isu iklim bukan kewajiban moral global, melainkan kalkulasi untung-rugi.

Keempat, mundur dari WHO. Keputusan AS keluar dari WHO mempertegas preferensi Trump pada hubungan bilateral ketimbang kerja sama multilateral. WHO dipersepsikan tidak efisien dan tidak melayani kepentingan Amerika.

Dampaknya signifikan: krisis keuangan organisasi, pemangkasan program kesehatan global, dan melemahnya sistem respons pandemi internasional. Namun dari sudut pandang Trump, AS tidak ingin membiayai institusi yang tidak bisa dikendalikan.

Kelima, penutupan USAID. Trump memerintahkan penghentian USAID, lembaga donor terbesar dunia. Bantuan luar negeri dianggap tidak sejalan dengan prinsip "America First". Padahal, USAID selama puluhan tahun menjadi instrumen soft power AS. Penutupannya menandai pilihan Trump: menukar pengaruh jangka panjang dengan penghematan fiskal dan konsolidasi politik domestik jangka pendek.

Peta Amerika Serikat dan Venezuela. Foto: AustralianCamera/Shutterstock

Keenam, tekanan ekstrem terhadap Venezuela. Kebijakan keras AS terhadap Venezuela menandai eskalasi paling ekstrem. Trump membingkainya sebagai perang melawan narkoba dan kediktatoran.

Namun, kecurigaan global mengarah pada kepentingan energi—Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Dalam logika Trump, sumber daya strategis adalah bagian dari transaksi geopolitik. Intervensi bukan tujuan akhir, melainkan cara cepat mengubah rezim dan membuka ulang akses ekonomi.

Ketujuh, ambisi atas Greenland. Keinginan Trump untuk “membeli” Greenland mencerminkan pandangan geopolitik yang sangat transaksional. Wilayah dinilai bukan dari kedaulatan historis, melainkan dari nilai strategis dan ekonominya, terutama mineral tanah jarang. Langkah ini mengguncang NATO. Dalam pandangan Trump, aliansi bukan komunitas nilai, melainkan kontrak biaya-manfaat.

Dengan demikian, meski Trump memobilisasi Departemen Pertahanan seolah menjadi “Departemen Perang”, tujuannya tetap kemenangan transaksi bisnis—bukan perang mesiu, apalagi misil. Bahkan, gagasan membentuk “PBB tandingan” pun tak lepas dari logika transaksi.

The Gamesman

Bagaimana memahami Trump? Michael Maccoby—dalam The Gamesman (1977)—mengelompokkan orang Amerika ke dalam empat tipe: craftsman, jungle fighter, company man, dan gamesman.

Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan kembali ke Washington, DC, pada 4 Januari 2026. Foto: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP

Craftsman adalah pembangun dan pencipta. Harga dirinya lahir dari penguasaan pengetahuan, keterampilan, disiplin, dan kemandirian. Maccoby memprediksi tipe ini—dominan pada abad ke-18 dan ke-19—akan punah pada abad ke-20. Kini, di abad ke-21, mereka barangkali tinggal "the last of the Mohicans".

Jungle fighter adalah para baron perampok pasca-Perang Saudara Amerika, digerakkan oleh nafsu kekuasaan. Kehormatan satu-satunya adalah berada di puncak; ketakutan terbesarnya adalah kehancuran total. Meski jumlahnya menyusut, mereka tetap bercokol di pusat kekuasaan.

Company man adalah pekerja, staf, pegawai—ambtenaar. Tujuan hidupnya adalah keamanan posisi. Ketakutan terbesarnya kegagalan; dambaan terbesarnya persetujuan atasan. Ia menjalani peran tanpa tujuan personal yang jelas. Inilah populasi terbesar kedua.

Yang terbesar adalah gamesman. Mereka adalah elite bisnis dan politik yang memandang bisnis dan politik sebagai permainan. Penekanannya bukan pada tujuan substantif atau tanggung jawab sosial, melainkan pada kegembiraan bermain, menang, dan terus menemukan opsi baru. Mereka pandai bekerja sama, tidak tampak otoriter, bahkan sering dianggap “peduli secara sosial”. Namun, mereka tak pernah benar-benar dewasa: ego untuk mengalahkan yang lain terus membara. Tanpa itu, hidup terasa membosankan. Ego ini menghalangi persahabatan—bahkan keintiman.

Di sinilah Trump berada. Trump memandang politik dan bisnis—domestik maupun global—sebagai permainan. Konflik diciptakan untuk membuka transaksi. Dari tujuh arena di atas, satu benang merah terlihat jelas: Trump menciptakan badai, menyeret semua pihak ke dalamnya, lalu menawarkan jalan keluar dengan harga tertentu. Indonesia menjadi contoh konkret.

Presiden Donald Trump menunjukkan dokumen yang telah ditanda tangani mengenai tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Dari ancaman tarif 32 persen, disepakati tarif 19 persen—dengan konsesi besar: penghapusan tarif, pelonggaran aturan non-tarif, hingga komitmen pembelian produk AS. Trump tidak mengejar stabilitas global; ia mengejar kemenangan transaksi.

Karena itu, jangan berharap Amerika di bawah Trump akan bertumpu pada prinsip. Yang ada adalah permainan kekuasaan. Pertanyaannya: Mengapa Trump tidak tumbang di dalam negeri? Jawabannya sederhana: mayoritas warga AS menginginkan MAGA berhasil.

Amerika sedang berada di bawah tekanan ekonomi serius. Dalam situasi krisis, pendekatan normatif dianggap terlalu lambat. Trump menawarkan jalan cepat: konflik, tekanan, dan transaksi. Selain itu, karakter gamesman kini mendominasi elite Amerika—dan menular ke lapisan bawah, disempurnakan oleh teknologi digital dan AI.

Menari di Tengah Badai

Pelajarannya jelas: ini bukan badai sementara. Dunia memasuki era realisme baru, sebagaimana diajarkan Hans Morgenthau dalam Politics Among Nations (1946). Dalam dunia yang dipimpin "presiden pedagang", diplomasi nilai digantikan tawar-menawar kekuatan.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tampaknya masih terbuai oleh asumsi dunia yang damai dan kooperatif. Padahal—seperti diingatkan Y.B. Mangunwijaya dalam Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987)—krisis global bukan anomali, melainkan struktur. Hari ini, Trumpisme global adalah the new normal.

Karena itu, pilihan paling rasional bukan menghindar, melainkan menari di tengah badai: membaca arah angin, mengurangi kerugian, dan memetik peluang. Pemerintah jangan menipu diri—dan jangan mudah terbuai janji manis para gamesman. Trump tetap pedagang. Hanya pedagang.