Konten dari Pengguna

Artificial Intelligence dalam Pendidikan Tinggi di Era ChatGPT

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Suparni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi darai AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi darai AI

Artificial Intelligence dalam pendidikan tinggi telah menghadirkan perubahan besar dalam praktik akademik. Kehadiran ChatGPT membuat dosen dan mahasiswa menghadapi peluang sekaligus tantangan baru dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu. Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa bertanya kepada saya, “Pak, apakah dosen boleh menggunakan ChatGPT?”.

Pertanyaan itu terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kegelisahan besar dalam dunia pendidikan hari ini. Di satu sisi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hadir dengan berbagai kemudahan. Dalam hitungan detik, ChatGPT dapat membantu mencari ide, menjelaskan konsep yang rumit, menyusun kerangka tulisan, hingga memberikan alternatif pemikiran. Namun, di sisi lain, masih ada sebagian kalangan akademisi yang merasa ragu menggunakannya.

Ada yang khawatir dianggap tidak mampu berpikir sendiri. Ada yang merasa penggunaan AI bertentangan dengan tradisi akademik. Bahkan, ada yang menganggap menggunakan AI sebagai bentuk “jalan pintas”. Pertanyaannya kemudian: apakah benar menggunakan AI berarti kehilangan kemampuan berpikir? Menurut saya, persoalannya bukan pada teknologinya, tetapi pada bagaimana manusia memanfaatkannya.

Dosen Tidak Perlu Takut pada AI. Perubahan teknologi selalu menghadirkan dua respons manusia: menerima atau menolak. Ketika komputer mulai digunakan di kampus, sebagian orang khawatir teknologi akan menggantikan pekerjaan manusia. Ketika internet berkembang, muncul kekhawatiran bahwa mahasiswa akan kehilangan kemampuan membaca buku. Kini, kekhawatiran yang sama muncul terhadap AI. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa teknologi bukan selalu menggantikan manusia. Teknologi sering kali memperluas kemampuan manusia.

Dosen tidak harus menjadi ahli pemrograman atau pakar kecerdasan buatan. Namun, dosen tidak boleh menjadi orang yang asing terhadap teknologi yang sudah digunakan oleh mahasiswa. Jika mahasiswa sudah menggunakan AI untuk belajar, mencari referensi, dan berdiskusi, maka dosen perlu memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja. Sebab, bagaimana mungkin seorang dosen mengajarkan penggunaan AI yang bertanggung jawab jika dirinya sendiri tidak pernah mencoba memahami AI?

Belajar menggunakan AI bukan tanda bahwa dosen kehilangan kompetensi. Justru sebaliknya, kemampuan beradaptasi menunjukkan bahwa seorang pendidik memiliki kesadaran terhadap perubahan zaman. AI Bukan Pengganti Dosen, tetapi Perluasan Kemampuan Dosen. Ada anggapan bahwa kehadiran AI akan membuat peran dosen berkurang. Saya melihatnya secara berbeda. AI mungkin mampu memberikan informasi, tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup, nilai moral, kebijaksanaan, dan tanggung jawab akademik.

Di sinilah posisi dosen tetap penting. Dosen bukan hanya penyampai informasi. Dosen adalah pembimbing intelektual yang membantu mahasiswa memahami, menilai, dan memaknai informasi. Dalam penelitian, misalnya, AI dapat membantu menemukan ide awal, membuat peta konsep, atau memberikan alternatif sudut pandang. Tetapi AI tidak dapat menggantikan intuisi seorang peneliti dalam menentukan masalah yang penting.

AI dapat memberikan daftar referensi, tetapi dosen tetap harus memeriksa apakah referensi tersebut benar. AI dapat membantu menyusun kalimat, tetapi dosen tetap bertanggung jawab terhadap gagasan yang ditulis. Teknologi boleh membantu proses akademik, tetapi tanggung jawab ilmiah tetap berada pada manusia.

Tantangan Terbesar Bukan AI, tetapi Ketergantungan terhadap AI. AI sebenarnya bukan ancaman terbesar. Ancaman terbesar adalah ketika manusia berhenti berpikir karena terlalu nyaman menggunakan AI. Seorang mahasiswa yang menggunakan ChatGPT untuk memahami konsep tentu berbeda dengan mahasiswa yang meminta AI membuatkan seluruh tugas lalu mengumpulkannya tanpa membaca.

Masalahnya bukan “menggunakan AI”. Masalahnya adalah ketika AI menggantikan proses belajar. Pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan jawaban benar. Pendidikan adalah proses membangun kemampuan bertanya, menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan. Jika mahasiswa hanya menjadi pengguna perintah (prompt operator) tanpa kemampuan berpikir kritis, maka teknologi justru dapat melemahkan tujuan pendidikan.

Daripada melarang mahasiswa menggunakan AI, mungkin sudah saatnya perguruan tinggi mengajarkan cara menggunakan AI secara bertanggung jawab. Bayangkan sebuah pembelajaran. Mahasiswa diberikan sebuah masalah. Mereka diminta menyelesaikan terlebih dahulu berdasarkan pemikirannya sendiri. Setelah itu, mereka menggunakan ChatGPT untuk mencari alternatif jawaban. Kemudian dosen mengajak mahasiswa berdiskusi: Apakah jawaban AI benar? Apa kelemahannya? Apakah ada informasi yang tidak akurat? Mengapa manusia tetap diperlukan?

Model pembelajaran seperti ini justru dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Mahasiswa tidak hanya belajar menerima informasi, tetapi belajar menguji informasi. Inilah kompetensi yang sangat dibutuhkan pada era digital. Dosen Harus Menjadi Teladan Penggunaan AI . Ada satu hal yang sering dilupakan. Mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan dosen, tetapi juga dari apa yang dilakukan dosen. Jika dosen meminta mahasiswa menggunakan AI secara etis, maka dosen juga harus menunjukkan praktik yang etis.

Jika dosen meminta mahasiswa memeriksa sumber, maka dosen juga harus memeriksa informasi yang diberikan AI. Jika dosen meminta mahasiswa tetap berpikir mandiri, maka dosen juga harus menunjukkan bahwa AI hanyalah alat bantu. Sebab, pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan budaya akademik.

Masa Depan Pendidikan Bukan Anti-AI, tetapi Bijak Menggunakan AI; Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. AI akan terus berkembang. Kemampuan mesin akan semakin meningkat. Dunia pendidikan pasti akan mengalami perubahan besar. Namun, ada nilai yang tidak boleh berubah: Kejujuran akademik, Tanggung jawab ilmiah, Kemampuan berpikir kritis dan Integritas.

Dosen tidak perlu malu menggunakan AI. Yang perlu dihindari adalah sikap menutup diri terhadap perubahan. Gunakan AI untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan manusia. Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk berhenti berpikir. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan masa depan pendidikan bukanlah kecanggihan mesin, tetapi kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya.