Konten dari Pengguna
Komunikasi Kesehatan Bukan Cuma Bicara, tapi Mendengar dan Memahami
10 Juli 2025 12:31 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Enrico A Rinaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Oleh: Enrico Adhitya Rinaldi
Pernahkah Anda merasa bingung saat dokter menjelaskan kondisi Anda dengan istilah yang terdengar seperti bahasa alien?
ADVERTISEMENT
Atau pernahkah orang tua Anda yang sudah sepuh disuruh memahami prosedur medis panjang dalam waktu 5 menit?
Atau—yang lebih sering terjadi—seorang pasien disabilitas yang tidak paham arah pengobatan karena tidak ada media bantu visual atau juru bahasa isyarat?
Kalau pernah, itulah contoh gagalnya komunikasi risiko yang inklusif dan proaktif. Dan percayalah, ini bukan hal sepele.
Coba kita perhatikan cerita ini ;
Saat Informasi Tak Tersampaikan, Nyawa Bisa Jadi Taruhan
Namanya Pak Rasyid. Usianya 64 tahun. Ia datang ke rumah sakit ditemani anaknya. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pelipis. Dokter menjelaskan bahwa beliau terkena serangan jantung ringan dan perlu segera tindakan kateterisasi.
“Kateterisasi itu apa, Dok?” tanya anaknya pelan.
“Pemasangan alat untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat,” jawab dokter cepat, sambil membolak-balik hasil EKG.
ADVERTISEMENT
Pak Rasyid hanya mengangguk. Tapi dari sorot matanya, jelas ia tidak paham. Tak ada penjelasan lebih lanjut. Tak ada upaya membuatnya tenang. Yang ada hanya tatapan kosong dan pasrah. Padahal di kepalanya, ribuan pertanyaan sedang menari-nari. Rasa takut, bingung, malu bertanya, semua bercampur.
Beberapa jam kemudian, tindakan medis dilakukan. Tapi Pak Rasyid mengalami syok saat proses berjalan. Tim medis kaget karena ternyata pasien sangat cemas dan sempat tidak paham bahwa akan ada alat dimasukkan lewat pangkal paha. Ia merasa "tidak diberi tahu"—meskipun sebenarnya sudah dijelaskan, tapi dalam bahasa yang terlalu teknis dan terburu-buru.
Cerita seperti ini bukan fiksi. Ini nyata. Dan mungkin terjadi setiap hari di ratusan rumah sakit di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Dan bukan hanya itu.
Ada juga Bu Salamah, seorang ibu paruh baya dari daerah pinggiran. Ia didiagnosis diabetes dengan komplikasi nefropati. Ketika diberi tahu bahwa ia harus cuci darah secara rutin, ia hanya tersenyum dan berkata, “Nggih, Bu Dokter.” Tapi ternyata, dua minggu kemudian ia tidak pernah datang lagi. Saat ditanya, keluarganya menjawab: “Bu Salamah pikir cuci darah itu cuma sekali, bukan seumur hidup.”
Bukan karena ia keras kepala. Tapi karena ia tidak benar-benar paham.
Komunikasi Risiko Itu Apa?
Sederhananya, komunikasi risiko adalah proses menyampaikan informasi soal ancaman kesehatan—baik itu penyakit, prosedur medis, atau kondisi darurat—kepada pasien dan masyarakat. Tujuannya? Bukan bikin takut. Tapi agar mereka mengerti, siap, dan bisa ambil keputusan dengan tepat.
ADVERTISEMENT
Masalahnya, komunikasi kesehatan selama ini kadang terlalu teknis, satu arah, dan tidak ramah bagi semua kalangan. Di sinilah pentingnya pendekatan inklusif dan proaktif.
Etika dalam Komunikasi Risiko
Komunikasi risiko yang baik tidak sekadar menyampaikan kebenaran medis, tetapi juga menjunjung prinsip bioetika:
Beneficence: Memberi manfaat informasi.
Nonmaleficence: Tidak menimbulkan kepanikan atau diskriminasi.
Autonomy: Memberikan ruang untuk pilihan informasi.
Justice: Informasi harus disampaikan secara adil ke semua pasien.
Inklusif Itu Apa? Proaktif Itu Bagaimana?
Inklusif berarti: menyampaikan informasi dengan cara yang bisa dipahami siapa pun, tak peduli umur, disabilitas, latar pendidikan, atau bahasa.
Proaktif berarti: informasi sudah siap bahkan sebelum ditanya, dan disampaikan secara empatik, bukan reaktif saat krisis sudah meledak.
Contoh Nyata:
ADVERTISEMENT
Pasien tuli yang tak bisa berkomunikasi karena tak ada juru bahasa isyarat.
Lansia yang bingung karena dokter hanya memberikan brosur kecil tanpa penjelasan lisan.
Pasien skizofrenia yang dihadapkan pada tindakan medis kompleks tanpa pendamping emosional.
Semua ini bukan sekadar kasus komunikasi buruk, tapi bisa berdampak pada keputusan medis yang salah, kepatuhan rendah, bahkan membahayakan jiwa.
Mengapa Ini Penting di Rumah Sakit?
Rumah sakit bukan cuma tempat menyembuhkan tubuh, tapi juga ruang untuk membangun kepercayaan. Dan kepercayaan dimulai dari komunikasi yang baik.
Di rumah sakit jiwa, misalnya, pendekatan komunikasi yang salah bisa membuat pasien justru semakin menarik diri atau curiga terhadap tim medis.
Di ruang IGD, informasi yang tidak jelas bisa membuat keluarga pasien panik dan menyalahkan perawat. Di poli anak, komunikasi yang rumit bisa membuat orang tua tidak memahami manfaat imunisasi.
ADVERTISEMENT
Semua ini bisa dicegah dengan komunikasi yang inklusif dan proaktif.
Lalu Apa Solusinya?
1. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Jelas
Hindari istilah medis rumit saat bicara dengan pasien awam. Gunakan analogi. Contoh: "paru-paru Anda seperti spons yang kempes, makanya napas jadi sesak."
2. Visualisasikan Informasi
Gunakan gambar, video pendek, atau simulasi tindakan medis untuk menjelaskan prosedur.
3. Sediakan Juru Bahasa Isyarat dan Format Teks-to-Speech
Terutama untuk pasien dengan gangguan sensorik.
4. Libatkan Keluarga dan Komunitas
Keluarga adalah jembatan informasi. Komunikasi tak berhenti di ruang periksa saja. Edukasi juga harus disampaikan melalui komunitas, RT, bahkan lewat grup WhatsApp.
5. Latih Staf Kesehatan soal Empati dan Keberagaman
Ini penting. Komunikasi bukan soal “menguasai informasi”, tapi bagaimana menyampaikan dengan hati.
ADVERTISEMENT
Dari RS Jiwa sampai RSUD di Kalimantan
1. Di sebuah RS Jiwa di Jawa Barat, komunikasi risiko untuk pasien psikotik dilakukan lewat pendekatan naratif. Tidak lagi sekadar menyampaikan diagnosis, tapi membangun kepercayaan lewat cerita. Efeknya? Pasien dan keluarga jadi lebih kooperatif.
2. Di RSUD Kalimantan Timur, tim promkes menggandeng tokoh adat menerjemahkan materi COVID-19 ke dalam bahasa lokal. Hasilnya? Pengetahuan masyarakat meningkat signifikan.
Komunikasi Itu Hak Pasien, Bukan Bonus!
Dalam UU Praktik Kedokteran dan Kode Etik Dokter Indonesia, disebutkan bahwa pasien berhak tahu tentang kondisi kesehatannya dan rencana pengobatannya. Tapi apa gunanya kalau informasi itu disampaikan dengan cara yang tidak bisa mereka pahami?
Komunikasi risiko yang inklusif dan proaktif bukan cuma soal etika, tapi soal kemanusiaan. Dan yang lebih penting, soal efektivitas pelayanan kesehatan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Penutup
Jadi, jika Anda adalah tenaga kesehatan, mahasiswa kedokteran, perawat, atau bagian dari manajemen rumah sakit—coba tanya pada diri sendiri:
Sudahkah informasi yang kita sampaikan bisa benar-benar dimengerti oleh semua pasien?
Karena komunikasi bukan soal apa yang kita ucapkan, tapi soal apa yang mereka pahami.
Ditulis oleh: Enrico Adhitya Rinaldi
Magister Bioetika UGM | Pemerhati Etika Medis & Komunikasi Kesehatan

