Konten dari Pengguna

Lebih dari Kata-kata: Membangun Karakter Mulia untuk Komunikasi yang Beretika

Enrico A Rinaldi

Enrico A Rinaldi

Dokter dan Doktor Ilmu Komunikasi dan pemerhati Bioetika serta masalah hukum kesehatan dan juga praktisi sumber daya manusia

·waktu baca 20 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Enrico A Rinaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih dari Kata-kata: Membangun Karakter Mulia untuk Komunikasi yang Beretika
zoom-in-whitePerbesar

Di era digital ini, kita semua adalah komunikator. Setiap hari, kita bertukar pesan, berbagi informasi, dan berinteraksi. Tapi, pernahkah kita merenung, "Apakah komunikasi saya sudah beretika?" Dan lebih dalam lagi, "Apakah komunikasi saya mencerminkan siapa diri saya sebagai pribadi?"

Saya ingin mengajak Anda menelusuri sebuah konsep kuno namun sangat relevan: Etika Keutamaan (Virtue Ethics). Ini adalah cara pandang yang tidak hanya fokus pada "apa yang kita katakan," tetapi "siapa yang berbicara." Saya banyak belajar tentang pemikiran ini dari berbagai sumber, termasuk dari pandangan Rm. CB. Kusmaryanto, SCJ, dalam bukunya Bioetika Fundamental, yang secara khusus menyoroti pentingnya karakter dalam setiap praktik profesional.

Seringkali, ketika kita bicara soal etika komunikasi, kita langsung berpikir tentang aturan: "Jangan berbohong," "Jangan menyebarkan hoaks," "Berikan informasi yang akurat." Ini adalah prinsip-prinsip yang penting. Namun, Etika Keutamaan menawarkan perspektif yang lebih dalam. Ia tidak bertanya "Apa yang harus saya katakan atau lakukan dalam berkomunikasi?", melainkan "Pribadi seperti apa yang ingin saya bentuk agar komunikasi saya secara otomatis menjadi beretika?"

Bayangkan seorang dokter yang tidak hanya menyampaikan diagnosis dengan akurat, tetapi juga melakukannya dengan empati, kesabaran, dan kejujuran yang tulus. Atau seorang jurnalis yang tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga melakukannya dengan integritas dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Keahlian teknis dalam berkomunikasi memang penting, namun Etika Keutamaan mengajak kita melihat lebih jauh: apakah komunikasi kita mencerminkan karakter yang mulia?

Inilah inti dari Etika Keutamaan. Ia mengajak kita untuk melihat melampaui sekadar tindakan komunikasi, dan masuk ke dalam esensi diri kita sebagai komunikator. Objek material Etika Keutamaan bukanlah hanya "kata-kata yang keluar dari mulut kita," tetapi manusia secara utuh sebagai pembentuk pesan. Ia bertanya, bagaimana seseorang bisa menjadi sosok yang unggul, bijaksana, dan pada akhirnya, bisa berkomunikasi dengan cara yang mencerminkan pribadi yang berkarakter mulia?

Komunikasi yang Baik, Komunikator yang Mulia: Mengapa Karakter itu Penting?

Mengapa Etika Keutamaan ini begitu krusial, terutama dalam konteks komunikasi dan, lebih khusus lagi, di dunia kesehatan? Jawabannya sederhana: hampir setiap orang punya keinginan untuk bukan hanya berkomunikasi dengan baik, tapi juga menjadi komunikator yang baik—yang dapat dipercaya dan dihormati. Coba jujur pada diri sendiri, bukankah kita semua ingin dikenal sebagai pribadi yang jujur dalam ucapan, penuh perhatian dalam mendengarkan, bijaksana dalam memberi nasihat, atau berani berbicara kebenaran?

Memang, komunikasi yang efektif itu penting. Namun, apakah cukup jika kita hanya sesekali berkomunikasi dengan etis, atau hanya ketika situasinya menguntungkan? Tentu tidak. Kalau kita hanya sesekali berbicara jujur atau mendengarkan dengan penuh perhatian, itu belum menjadikan kita komunikator yang beretika secara konsisten. Tindakan komunikasi yang baik itu, agar menjadi bagian dari diri kita, harus menjadi sebuah kebiasaan (habitus) yang diulang-ulang. Ini seperti seorang orator yang terus berlatih mengolah kata, atau seorang negosiator yang mengasah kemampuan diplomatisnya sampai terasa alami. Komunikasi yang beretika, bila diulang-ulang, akan membentuk karakter kita.

Banyak orang, terutama para profesional seperti dokter, pengajar, atau pemimpin, tidak puas hanya menjadi komunikator yang "cukup baik" atau sekadar menyampaikan informasi dengan jelas. Mereka ingin memiliki karakter mulia dalam berkomunikasi. Dan di sinilah keutamaan-keutamaan (virtue) menjadi sangat dibutuhkan, bahkan esensial. Bayangkan seorang dokter yang tidak hanya menyampaikan diagnosis dengan akurat, tetapi juga melakukannya dengan empati, kesabaran, dan kejujuran yang tulus kepada pasien yang sedang cemas. Atau seorang konselor yang tidak hanya memberikan nasihat yang benar, tetapi juga melakukannya dengan kebijaksanaan, kerahasiaan, dan rasa hormat yang mendalam. Karakter mulia inilah yang membuat profesinya tidak hanya dijalankan sebagai rutinitas, tetapi juga dihayati secara terhormat dan luhur melalui setiap interaksi komunikasi. Dengan karakter inilah mereka mencerminkan kecintaan dan pengabdian sejati kepada masyarakat melalui profesi komunikasinya.

Perlu dicatat, meskipun sekilas Etika Keutamaan tampak berbeda dari etika aturan (deontologi) atau etika hasil (utilitarianisme), sebenarnya mereka tidak selalu bertentangan. Dalam komunikasi, keutamaan bisa diartikan sebagai karakter yang akan menghasilkan komunikasi yang efektif dan bermanfaat (utilitarianisme). Dalam konteks aturan komunikasi, keutamaan bisa dipandang sebagai karakter yang dimiliki oleh mereka yang patuh pada standar etika komunikasi (deontologi). Namun, dalam Etika Keutamaan itu sendiri, keutamaan dipandang jauh lebih fundamental karena ia adalah inti dari teori etikanya. Etika Keutamaan menempatkan keutamaan sebagai pusat refleksi dan aplikasinya, mengubah pertanyaan dari "apa yang harus saya katakan?" menjadi "pribadi seperti apa yang akan secara alami mengatakan hal yang benar dan baik?". Singkat kata, tujuan utama Etika Keutamaan adalah membantu kita menjadi manusia yang berkarakter baik, sehingga komunikasi kita pun menjadi manifestasi dari kebaikan itu.

Menguak Akar Sejarah: Warisan Yunani Kuno untuk Komunikasi Masa Kini

Etika Keutamaan ini bukan teori baru yang tiba-tiba muncul dari hampa. Sebaliknya, ia adalah salah satu etika yang paling kuno, jauh sebelum teori komunikasi modern berkembang. Akarnya bisa kita lacak hingga peradaban agung Yunani kuno, dimulai oleh Sokrates, lalu dikembangkan dengan sangat cemerlang oleh dua muridnya yang brilian: Plato dan Aristoteles.

Aristoteles, sang filsuf agung, memiliki peran yang sangat besar dalam meletakkan dasar dan mengembangkan etika keutamaan ini melalui karya-karyanya yang monumental: Ethica Nicomachea dan Ethica Eudemia. Konsep "jalan tengah" (golden mean) yang diperkenalkannya, misalnya, relevan dengan komunikasi yang tidak berlebihan namun juga tidak kurang—sebuah keseimbangan antara ekspresi dan keheningan, antara keterbukaan dan kebijaksanaan dalam menjaga rahasia. Di Timur, tokoh-tokoh besar seperti Mencius dan Konfusius juga mengajarkan prinsip-prinsip etika keutamaan yang sangat relevan dengan komunikasi, menekankan pentingnya Ren (kemanusiaan/kebajikan) dan Li (aturan/kesopanan) sebagai fondasi moral dan interaksi sosial yang harmonis. Selama berabad-abad, pandangan etika keutamaan ini mendominasi pemikiran moral di berbagai peradaban.

Namun, sejarah tak selamanya mulus. Sekitar abad ke-19, Etika Keutamaan sempat kehilangan pamor dibandingkan dengan etika normatif lainnya yang lebih fokus pada aturan dan hasil. Seolah terlupakan. Akan tetapi, di akhir abad lalu, seperti sebuah api yang kembali menyala, gairah untuk mempelajari dan mempraktikkan etika keutamaan ini bangkit kembali. Mengapa? Karena banyak orang mulai merasa tidak puas dengan teori etika lain yang kadang terasa kaku atau terlalu transaksional. Mereka mencari sesuatu yang lebih, sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka sebagai manusia dan bagaimana hal itu mempengaruhi setiap interaksi, termasuk komunikasi.

Tokoh penting dalam kebangkitan ini adalah Elizabeth Anscombe, seorang filsuf yang berani mengkritik pendekatan etika modern pada masanya melalui tulisannya yang berpengaruh, Modern Moral Philosophy. Ia berargumen bahwa konsep moral modern kehilangan makna karena tidak lagi didasarkan pada konsep karakter dan keutamaan. Sejak itu, minat terhadap etika keutamaan terus tumbuh, dan kini ia menjadi salah satu teori etika normatif yang penting. Banyak buku dan artikel ditulis tentangnya, salah satu yang paling berpengaruh adalah After Virtue karya Alasdair MacIntyre, yang mengemukakan bahwa masyarakat modern telah kehilangan "bahasa moral" yang koheren karena mengabaikan tradisi keutamaan.

Meskipun dalam perkembangannya ada banyak aliran Etika Keutamaan, konsep dasarnya tetap berakar pada tiga konsep kunci filsafat Yunani kuno:

Arête: Yang berarti keutamaan itu sendiri, kualitas unggul. Dalam komunikasi, ini bisa berarti keunggulan dalam berbicara kebenaran, dalam mendengarkan, atau dalam menyampaikan empati.

Phronesis: Kebijaksanaan praktis, yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dan bijaksana dalam situasi konkret. Dalam komunikasi, phronesis adalah kunci untuk mengetahui kapan harus berbicara, apa yang harus dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan kapan harus diam, mempertimbangkan konteks dan dampaknya.

Eudaimonia: Kebahagiaan atau hidup yang sejahtera dan berkembang penuh, yang bukan sekadar perasaan senang, tetapi kondisi terbaik dari jiwa yang dicapai melalui pengembangan karakter mulia dan tindakan yang bajik. Komunikasi yang berkeutamaan, pada akhirnya, akan berkontribusi pada eudaimonia baik bagi komunikator maupun pihak yang diajak berkomunikasi.

Apa Sebenarnya "Keutamaan" Itu dalam Konteks Komunikasi?

Sekarang, mari kita bedah lebih dalam apa itu keutamaan, khususnya bagaimana ia bermanifestasi dalam komunikasi. Istilah "Virtue Ethics" juga dikenal sebagai "Aretaic Ethics," yang berasal dari kata Yunani ἀρετή (arête), yang berarti keutamaan, keunggulan, atau kebajikan.

Menurut Aristoteles, dalam Ethica Nicomachea, keutamaan itu ada dua macam:

Keutamaan Berpikir (Dianoetika): Ini adalah keutamaan yang kita dapatkan dan kembangkan melalui pengajaran, pembelajaran, dan pengalaman intelektual. Dalam komunikasi, ini berarti memiliki pengetahuan yang akurat tentang topik yang dibicarakan, kemampuan analisis kritis untuk memahami situasi, dan kebijaksanaan untuk memilih strategi komunikasi yang paling efektif dan etis. Ini adalah keutamaan yang membuat kita berpikir jernih dan rasional dalam merancang pesan.

Keutamaan Karakter (Etika): Ini adalah keutamaan yang terjadi dan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan baik atau pengulangan tindakan yang benar. Dalam komunikasi, ini adalah tentang menjadi pribadi yang jujur (tidak memanipulasi informasi), berani (menyampaikan kebenaran meskipun sulit), empati (memahami perspektif lawan bicara), sabar (mendengarkan dengan seksama), atau bertanggung jawab (atas dampak pesan kita). Ini adalah keutamaan yang membentuk siapa diri kita, dan secara alami akan terpancar dalam setiap interaksi komunikasi.

Tujuan utama dari etika keutamaan adalah menjadi orang yang baik secara menyeluruh, dan oleh karena itu, menjadi komunikator yang baik. Dan orang yang baik adalah orang yang memiliki keutamaan dalam karakter pribadinya. Jadi, keutamaan itu adalah ciri karakter yang mulia atau utama dari seseorang yang akan terwujud dalam setiap aspek perilakunya, termasuk komunikasinya. Karena ini adalah karakter yang terinternalisasi, maka keutamaan merupakan kualitas seseorang dan kualitas hidupnya secara keseluruhan.

Penting untuk memahami beberapa nuansa tentang keutamaan dalam komunikasi:

Keutamaan bukan sekadar tindakan komunikasi sesaat: Seseorang yang sesekali berbicara jujur atau bersikap empati, belum tentu memiliki karakter keutamaan. Jika dia melakukan itu hanya demi pencitraan, takut disalahkan, atau mencari keuntungan pribadi, maka itu bukanlah keutamaan sejati. Komunikasi yang berkeutamaan mengalir dari motivasi internal yang murni, yaitu keinginan untuk menjadi pribadi yang jujur dan baik.

Keutamaan bukan sekadar kebiasaan mekanis dalam berkomunikasi: Orang yang berkarakter keutamaan berarti bahwa tindakan, pikiran, harapan, perasaan, pilihan, reaksi, dan keinginannya selaras dengan karakter mulia tersebut. Dalam komunikasi, ini berarti tidak hanya tahu cara berbicara, tetapi juga tahu bagaimana merasa dan memilih untuk berbicara dengan cara yang etis. Sifat ini sudah berakar kuat dalam pribadinya, menjadi sebuah disposisi diri (karakter) yang kokoh dan stabil. Ini bukan sekadar autopilot, tapi pilihan sadar yang telah mendarah daging, bahkan dalam situasi yang sulit.

Karakter mulia sudah menjadi inti pribadi: Itu artinya, keutamaan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya, sehingga ia secara alami akan berkomunikasi dengan cara yang etis. Ini berbeda dengan orang yang tidak berbohong hanya karena takut ketahuan. Motivasi eksternal semacam itu tidak cukup untuk menjadi keutamaan karakter. Orang berkarakter mulia tidak berbohong karena ia memandang berbohong itu salah, tidak mulia, dan itu bukan tindakan dari seorang yang berkarakter mulia. Ia tidak bisa membayangkan dirinya melakukan hal itu karena bertentangan dengan esensinya sebagai pribadi yang jujur.

Menurut Aristoteles, tindakan orang yang berkarakter mulia adalah hasil dari pemikiran akal budi praktis (phronesis) yang selaras dengan emosinya yang telah dididik. Dalam komunikasi, ini berarti kemampuan untuk menyelaraskan antara apa yang benar secara rasional dengan apa yang tepat secara emosional dan kontekstual. Keutamaan itu adalah kondisi karakter manusia yang berkaitan dengan tindakan dan emosinya dalam membuat pilihan terbaik. Oleh karena itu, seseorang yang utama (virtuos) memiliki dua hal sekaligus: peduli terhadap kebenaran (memiliki orientasi moral yang benar) dan cerdas dalam mengambil keputusan, termasuk dalam berkomunikasi, berdasarkan akal sehat (phronesis). Keutamaan ini nyata dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seseorang mengatur hidupnya, berawal dari sisi interior (rohaninya) yang kemudian diwujudkan dalam hidup eksteriornya melalui setiap interaksi dan komunikasi. Ini adalah cerminan dari jiwa yang seimbang dan harmonis.

Membangun Komunikator Berkeutamaan: Praktik, Latihan, dan Konsistensi!

Nah, ini bagian yang sangat praktis dan menarik bagi kita semua, terutama yang bergerak di bidang komunikasi dan kesehatan. Jika keutamaan adalah karakter yang terukir dalam diri, bagaimana kita bisa memilikinya dan memancarkannya dalam komunikasi? Aristoteles memberikan petunjuk yang sangat jelas: keutamaan itu dicapai dengan latihan melakukan keutamaan itu secara terus-menerus.

Ia berkata, "...sebab sesuatu itu tidak bisa kita hasilkan tanpa mempelajari cara untuk menghasilkannya, demikianlah kita belajar untuk menghasilkan dengan cara menghasilkannya. … Hal yang sama terjadi dengan keutamaan. Kalau kita ingin menjadi orang yang adil maka kita berlatih dengan berbuat adil, menjadi orang yang berugahari (sederhana/bijaksana) dengan berbuat ugahari, dan menjadi orang yang pemberani dengan melakukan perbuatan-perbuatan pemberani.” (kutipan dari Ethica Nicomachea, seperti yang juga diulas oleh Rm. CB. Kusmaryanto, SCJ dalam membahas pembentukan karakter).

Jadi, kalau kita ingin jadi komunikator yang jujur, ya kita harus mulai berlatih berbicara jujur. Kalau kita ingin jadi komunikator yang empati, ya kita harus mulai berlatih mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan ini bukan cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali! Sampai pada titik di mana kita merasa mudah dan alami untuk berkomunikasi dengan keutamaan itu, seolah itu adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita. Ini seperti otot yang dilatih terus-menerus; ia menjadi kuat, responsif, dan mampu melakukan gerakan yang rumit dengan lancar.

Pikirkan seperti ini: keutamaan dalam komunikasi itu bukan sekadar perasaan atau kemampuan semata, bukan potensi yang diam. Seseorang yang punya feeling untuk empati belum tentu komunikator yang empati. Orang yang punya potensi untuk berbicara jujur, belum tentu adalah komunikator yang jujur. Feeling dan kemampuan itu harus diwujudkan menjadi kenyataan dalam tindakan komunikasi. Ada pepatah Latin yang pas dan relevan: "Nil actum reputans, si quid superesset agendum" (tidak ada satupun hal yang sudah dikerjakan jika sesuatu itu masih akan dikerjakan). Artinya, keutamaan itu sangat praktis, lahir dari akal budi praktis yang diterjemahkan dalam perbuatan komunikasi konkret dan konsisten.

Agar suatu perbuatan komunikasi baik benar-benar menjadi keutamaan, Aristoteles menetapkan 3 syarat penting yang harus dipenuhi (konsep ini juga diulas mendalam oleh Rm. CB. Kusmaryanto, SCJ dalam konteks pembentukan keutamaan):

Pelaku harus Tahu (Awareness): Ia harus sadar dan mengerti bahwa cara komunikasi yang dilakukannya itu baik dan etis, serta mengapa itu penting. Misalnya, seorang dokter harus tahu mengapa komunikasi yang jujur tentang prognosis pasien itu penting, meskipun sulit. Ini melibatkan pemahaman tentang prinsip-prinsip etika komunikasi.

Dilakukan dengan Sengaja dan karena Perbuatan itu Sendiri (Intentionality & Intrinsic Value): Artinya, kita memilih cara berkomunikasi itu dengan kesadaran penuh, dan kita melakukannya karena kita meyakini bahwa cara itu sendiri adalah hal yang benar, baik, atau patut dilakukan, bukan karena dipaksa, mencari pujian, menghindari masalah, atau mendapatkan keuntungan lain di luar nilai intrinsik komunikasi yang etis. Misalnya, seorang perawat berbicara dengan sabar kepada pasien yang rewel bukan karena takut dimarahi atasan, tetapi karena ia percaya bahwa kesabaran adalah bagian penting dari pelayanannya.

Dilakukan secara Stabil dan Tidak Berubah-ubah (Consistency & Stability): Ini berarti konsistensi yang tinggi dalam cara kita berkomunikasi. Orang yang kadang berbicara jujur tapi kadang berbohong, atau kadang empati tapi kadang acuh tak acuh, belum bisa disebut komunikator berkarakter mulia. Karakter mulia berarti kebaikan itu mengalir secara konsisten dalam setiap interaksi komunikasi, menjadi sebuah disposisi yang kuat dan stabil dalam diri, yang tidak mudah goyah oleh tekanan atau emosi sesaat.

Jika kita bisa memenuhi ketiga syarat ini dalam setiap tindakan komunikasi kita, terutama dalam interaksi yang kita ulang-ulang, barulah kita bisa menjadi komunikator yang utama dan luhur. Ini adalah sebuah perjalanan panjang dan berkelanjutan, bukan sebuah tujuan instan.

Etika Keutamaan dalam Komunikasi Bioetika: Hati Nurani Profesi Medis

Sekarang, mari kita tarik Etika Keutamaan ini secara spesifik ke dalam dunia kesehatan dan bioetika, sebuah bidang di mana komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan.

Setiap manusia punya cita-cita untuk bukan sekadar berbuat baik, tetapi menjadi manusia yang baik. Dan banyak dari kita ingin melangkah lebih jauh: menjadi manusia berkarakter mulia yang penuh keutamaan dalam hidup dan profesinya. Karakter mulia ini melampaui hukum, peraturan, dan bahkan lebih dari sekadar menjadi manusia yang "patuh" atau "sesuai standar" dalam berkomunikasi. Sebenarnya, berkarakter mulia inilah yang dirindukan dan diimpikan oleh semua manusia. Dari lubuk hati yang terdalam, bahkan orang yang paling terpuruk sekalipun, selalu menginginkan untuk memiliki karakter mulia dan keutamaan hidup tertentu. Hanya saja, tidak semua mampu mewujudkan impian itu.

Profesi pelayanan kesehatan, terutama dokter, perawat, dan bidan, sudah sangat dikenal sebagai kelompok profesi yang menerapkan etika secara ketat demi menjaga kemuliaan karakternya, yang tercermin dalam setiap komunikasinya. Ini terlihat jelas dalam sumpah yang mereka ambil sebelum memulai profesinya—misalnya Sumpah Hippokrates—yang menjadi inspirasi sumpah bagi pelayan kesehatan di seluruh dunia. Sumpah ini bukan sekadar formalitas atau tradisi kuno. Ini adalah pengingat bahwa profesi ini memiliki panggilan luhur yang unik, sebuah janji di hadapan Tuhan dan sesama untuk melayani dengan integritas dan keutamaan, yang tentu saja meliputi cara mereka berkomunikasi.

Mengapa profesi medis begitu istimewa dan menuntut keutamaan yang tinggi dalam komunikasi? Karena profesi ini adalah pelayan kemanusiaan yang langsung berhubungan dengan hidup dan mati manusia, dengan penderitaan, harapan, dan kerapuhan. Profesi pelayanan kesehatan adalah profesi yang mulia karena inti dari pekerjaannya adalah pengabdian kepada kemanusiaan, tanpa memandang ras, agama, status sosial, atau latar belakang lainnya. Seorang pelayan kesehatan bersumpah untuk mendedikasikan tenaga, pikiran, dan ilmunya demi kesehatan umat manusia. Di sinilah letak mengapa seorang pelayan kesehatan harus memiliki karakter mulia dan luhur, agar bisa menjadi panutan, sumber kepercayaan, dan penyemangat bagi pasien dan keluarga mereka, terutama melalui komunikasi yang transparan, jujur, dan penuh empati. Sejak awal, profesi ini dipeluk bukan terutama untuk kekayaan material, melainkan karena aspek kemanusiaannya, sebuah panggilan untuk melayani kehidupan, yang dimediasi oleh komunikasi yang efektif dan etis.

Karakter mulia atau utama ini bahkan tertera secara eksplisit dalam standar profesi dan standar kompetensi para pelayan kesehatan di banyak negara, termasuk Indonesia. Misalnya, di Indonesia, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) telah merumuskan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI 2012). Standar pertamanya adalah profesionalitas yang luhur, yang salah satu komponen utamanya adalah bermoral, beretika, dan disiplin. Ini bukan sekadar tambahan, melainkan pondasi yang tak tergantikan, yang akan sangat mempengaruhi bagaimana seorang dokter berkomunikasi dengan pasien, keluarga, dan rekan sejawatnya. Begitu pula dengan profesi perawat dan bidan. Kepmenkes tentang Standar Profesi Perawat (Nomor HK.01/07/MENKES/425/2020) dan Standar Kompetensi Perawat Indonesia (2013) menyebutkan praktik berdasarkan etik, legal, dan peka budaya sebagai standar pertama. Demikian pula untuk bidan, Kepmenkes tentang Standar Profesi Bidan (Nomor HK.01.07/MENKES/320/2020) menyatakan bahwa standar profesi pertama bidan Indonesia adalah area etik, legal, dan keselamatan klien. Ini semua menunjukkan bahwa dimensi karakter, moral, dan komunikasi yang beretika adalah inti dari kompetensi profesional, bukan hanya aspek tambahan.

Standar kemuliaan profesi ini kemudian dirumuskan secara mengikat dalam kode etik profesi masing-masing. Kode etik adalah kumpulan prinsip etis dan nilai yang ingin diperjuangkan oleh suatu kelompok profesi untuk menjaga martabat dan integritasnya. Kode etik juga berfungsi sebagai standar praktis yang membantu anggota bertindak profesional, dan karenanya menampilkan nilai mulia dan kolektif profesi. Kode etik dibuat oleh kelompok profesi itu sendiri, bersifat mengikat, dan pelanggarannya bisa dikenakan sanksi, menunjukkan betapa seriusnya komitmen pada keutamaan dalam setiap aspek perilaku, termasuk komunikasi. Sebagaimana definisi yang sering dikutip, kode etik adalah "seperangkat standar benar dan salah yang ditetapkan oleh kelompok khusus dan dikenakan kepada anggota kelompok tersebut sebagai sarana mengatur dan memberi batas-batas tindakan mereka," dan ini termasuk bagaimana mereka berkomunikasi.

Kode etik profesi ini biasanya merupakan gabungan dari berbagai unsur penting: prinsip-prinsip etis yang berlaku umum di masyarakat (misalnya, kejujuran), nilai khas dari kelompok profesi tersebut (misalnya, kerahasiaan pasien), misi mulia dari kelompok profesi tertentu (misalnya, menyelamatkan jiwa), akuntabilitas (kesadaran akan tanggung jawab atas perbuatannya sendiri, termasuk dampaknya secara komunikatif), standar tingkah laku yang tinggi, nilai-nilai budaya yang relevan (misalnya, komunikasi yang menghormati perbedaan), dan aturan atau nilai hukum yang berlaku. Ini adalah kerangka kerja yang komprehensif, tidak hanya memandu tindakan, tapi juga membentuk dan menjaga karakter para profesional dalam setiap kata dan gestur mereka.

Dan di sinilah lingkaran Etika Keutamaan kembali: seperti yang Aristoteles sudah menyebutkan, keutamaan itu terbentuk karena dilakukan berulang-ulang sebagai latihan. Dalam pendidikan calon pelayan kesehatan pun, para mahasiswa tidak hanya diajari keterampilan medis, tetapi juga bagaimana berkomunikasi secara etis. Mereka diajari untuk mempraktikkan keutamaan itu berulang-ulang sampai terampil melaksanakannya. Profesi pelayanan kesehatan memerlukan keterampilan motorik yang tinggi, tetapi lebih dari itu, ia juga membutuhkan keterampilan komunikasi yang beretika. Oleh karena itu, latihan melakukan keterampilan itu, baik yang bersifat teknis maupun etis dalam komunikasi, sangat dibutuhkan.

Ada banyak keutamaan yang mutlak diperlukan sebagai seorang pelayan kesehatan agar menjadi manusia yang baik dan juga profesional yang baik dalam berkomunikasi. Beberapa di antaranya meliputi:

Kejujuran (Honesty): Selalu menyampaikan informasi yang benar, bahkan ketika sulit, dengan cara yang bijaksana.

Empati (Empathy): Kemampuan untuk merasakan dan memahami apa yang dialami pasien dan keluarganya, dan menyampaikannya melalui komunikasi verbal dan non-verbal.

Kerahasiaan (Confidentiality): Menjaga informasi pasien sebagai amanah, sebuah aspek fundamental dari komunikasi yang etis dalam medis.

Rasa Hormat (Respect): Berkomunikasi dengan menghargai otonomi dan martabat setiap individu, tanpa merendahkan atau menghakimi.

Keterbukaan (Openness): Bersedia mendengarkan, menerima umpan balik, dan berdialog.

Kejelasan (Clarity): Menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dimengerti, menghindari jargon yang tidak perlu.

Kesabaran (Patience): Memberikan waktu kepada pasien untuk mencerna informasi dan mengajukan pertanyaan, tanpa terburu-buru.

Kearifan (Prudence): Memilih kata-kata yang tepat, dengan mempertimbangkan konteks, kondisi pasien, dan dampak emosionalnya.

Tanggung Jawab (Responsibility): Memahami dan menerima konsekuensi dari pesan yang disampaikan.

Keberanian (Courage): Berani menyampaikan kebenaran yang sulit atau tidak populer, demi kebaikan pasien.

Integritas (Integrity): Konsisten antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan, membangun kredibilitas.

Dan seterusnya.

Ini semua perlu dilatihkan berulang-ulang agar para calon pelayan kesehatan itu memiliki keterampilan karakter dan komunikasi yang beretika. Benarlah adagium yang mengatakan, practices make perfect. Itu bukan hanya berlaku untuk keahlian teknis, tapi juga untuk keunggulan karakter yang terpancar dalam setiap interaksi komunikasi.

Kesimpulan: Komunikasi Berkeutamaan untuk Kesejahteraan Bersama

Etika Keutamaan (Virtues Ethics) sangat diperlukan bagi para pelayan kesehatan supaya mempunyai karakter mulia, dan dengan demikian bisa menjalankan profesinya secara terhormat dan mulia, terutama dalam setiap aspek komunikasinya. Pelayanan kesehatan yang dia lakukan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk mendapatkan nafkah, tetapi sebagai ekspresi diri yang berkarakter mulia atau utama yang diwujudkan melalui komunikasi yang penuh nilai.

Kebaikan-kebaikan yang dia kerjakan, termasuk cara dia berkomunikasi, bukan karena orang ingin memberikan kesan sebagai orang baik ataupun sebagai pencitraan. Akan tetapi kebaikan itu mengalir dari sifat pribadinya yang mulia dan utama, sebuah dorongan dari dalam. Dengan berbuat baik dan berkomunikasi dengan etis, maka dia akan semakin memiliki karakter yang baik dan dengan demikian menjadi manusia yang baik pula. Ini adalah sebuah siklus yang memberdayakan dan menyempurnakan.

Sebagaimana telah diterangkan bahwa dalam sejarahnya Virtue Ethics ini pernah ditinggalkan, akan tetapi akhir-akhir ini muncul kembali gairah untuk mempelajarinya. Hal itu terjadi karena tumbuh lagi kesadaran bahwa manusia itu tidak hanya perlu berbuat baik, tetapi perlu menjadi manusia yang baik dan lebih-lebih berkarakter mulia. Dari kodratnya sendiri, manusia mempunyai kecenderungan dan panggilan untuk menjadi orang baik dan mulia. Ini adalah dorongan yang universal, terlepas dari latar belakang budaya atau keyakinan.

Bagi para dokter, perawat, bidan, dan seluruh tenaga kesehatan: tidak cukup hanya menjadi pekerja kesehatan yang "baik" dalam artian teknis atau patuh pada aturan. Kita harus menjadi pekerja kesehatan yang berkeutamaan, terutama dalam berkomunikasi. Mengapa? Karena menjadi pekerja kesehatan adalah sebuah profesi—sebuah panggilan yang luhur. Panggilan ini menuntut integritas karakter dan dedikasi yang mendalam, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Ia menuntut sebuah komitmen jiwa untuk menyampaikan kebenaran, empati, dan harapan melalui setiap kata.

Ketika seorang pasien datang kepada Anda, ia tidak hanya mencari keahlian teknis. Ia mencari rasa aman, kepercayaan, dan kepastian bahwa ia berada di tangan seseorang yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki hati yang tulus, empati yang mendalam, dan karakter yang mulia yang terpancar dalam setiap interaksi komunikasi. Itulah kekuatan Etika Keutamaan. Itu adalah warisan berharga yang harus terus kita pelihara dan wujudkan dalam setiap napas profesi kita, dalam setiap percakapan, setiap penjelasan, dan setiap sapaan.

Mari kita terus melatih diri, bukan hanya dalam keterampilan medis dan komunikasi teknis yang terus berkembang, tetapi juga dalam keutamaan-keutamaan hidup yang abadi. Dengan demikian, kita tidak hanya akan menjadi profesional yang handal dan mumpuni, tetapi juga insan-insan yang mulia, yang kehadirannya, dan setiap kata-kata yang diucapkannya, membawa kebaikan sejati, harapan, dan kesembuhan bagi sesama.

Dr.dr. Enrico Adhitya Rinaldi, MARS.,MH.,MM.

Mahasiswa Pascasarjana Magister Bioetika Universitas Gadjah Mada