Konten dari Pengguna

Anak Kekurangan Pengalaman, Bukan Kekurangan Pelajaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Anak Beraktivitas (Diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Anak Beraktivitas (Diolah Oleh Penulis)

Ada kegelisahan yang hampir selalu muncul ketika orang tua merasa anaknya tertinggal.

Tambah belajar.

Nilai matematikanya kurang? Cari les.

Bahasa Inggrisnya belum lancar? Tambah kursus.

Sulit menulis? Berikan lebih banyak latihan.

Kurang fokus? Masukkan kelas tambahan.

Kita seperti mempunyai satu resep untuk hampir semua persoalan pendidikan: tambahkan pelajaran.

Padahal mungkin sebagian anak bukan kekurangan pelajaran.

Mereka kekurangan pengalaman.

Mereka membutuhkan lebih banyak tempat untuk didatangi, benda untuk disentuh, permainan untuk dimainkan, orang untuk ditemui, peristiwa untuk diamati, dan hal-hal aneh yang membuat mereka berhenti lalu bertanya:

“Kok bisa?”

Maka, sesekali tutuplah bukunya.

Ajak anak ke pasar.

Naik kereta.

Masuk museum.

Berjalan di sawah.

Datang ke bengkel.

Lihat nelayan pulang.

Pergi ke perpustakaan.

Menanam cabai.

Mengamati semut.

Membuat perahu dari kertas lalu menghanyutkannya di selokan.

Atau biarkan ia bermain bersama teman-temannya sampai pulang membawa baju kotor dan cerita yang panjang.

Sebab sebelum seorang anak mempunyai banyak jawaban, ia membutuhkan dunia yang cukup luas untuk melahirkan pertanyaan.

Kita Terlalu Menyempitkan Arti Belajar

Ada pemandangan yang begitu biasa sehingga kita jarang mempertanyakannya.

Seorang anak sedang bermain pasir.

“Sudah mainnya. Sekarang belajar.”

Anak sedang membongkar mobil-mobilan.

“Ayo disimpan. Kerjakan buku latihan.”

Anak mengejar kupu-kupu.

“Jangan main terus.”

Tanpa sadar kita sedang mengajarkan satu dikotomi: bermain dan belajar adalah dua kegiatan berbeda.

Belajar terjadi ketika anak duduk.

Ada meja.

Ada buku.

Ada pensil.

Ada orang dewasa yang memberikan instruksi.

Padahal ilmu tentang belajar menunjukkan gambaran yang jauh lebih luas.

Laporan konsensus How People Learn II: Learners, Contexts, and Cultures dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2018) menekankan bahwa manusia belajar dalam berbagai konteks, formal maupun informal. Belajar tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara pembelajar dengan lingkungan sosial, budaya, dan pengalaman yang mengitarinya.

Anak tidak mematikan otaknya ketika bel sekolah berbunyi tanda pulang.

Ia terus belajar.

Ketika berbelanja, ia berjumpa dengan harga, jumlah, berat, uang, pilihan, dan perbandingan.

Ketika bermain petak umpet, ia berurusan dengan ruang, aturan, strategi, perspektif orang lain, negosiasi, bahkan konflik.

Ketika membuat benteng dari pasir, ia berhadapan dengan bentuk, volume, keseimbangan, kekuatan struktur, dan sifat material.

Ia mungkin tidak menyebut semua itu matematika atau sains.

Tetapi konsep-konsep itu sedang memperoleh pengalaman untuk ditempeli.

Pengetahuan Membutuhkan Gantungan

Ini penting karena pengetahuan baru tidak masuk ke kepala yang kosong.

Salah satu kesimpulan penting How People Learn II (2018) adalah bahwa pengetahuan sebelumnya dapat memfasilitasi pembelajaran baru. Manusia membangun pemahaman dengan mengintegrasikan informasi baru dengan struktur pengetahuan yang telah dimiliki.

Prinsipnya sederhana:

sesuatu yang baru lebih mudah bermakna ketika mempunyai sesuatu yang lama untuk dihubungkan.

Bayangkan guru mengatakan kata “pelabuhan”.

Bagi seorang anak, pelabuhan mungkin hanya gambar di buku.

Tetapi bagi anak yang pernah berdiri di sana, satu kata itu mempunyai dunia.

Ada kapal yang ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat di televisi.

Ada bau air laut.

Ada suara mesin.

Ada tali yang sangat tebal.

Ada orang mengangkut barang.

Ada burung berputar di atas air.

Ketika kelak ia membaca cerita tentang pelabuhan, ia tidak memulai dari nol.

Kata itu mempunyai kaitan.

Begitu pula dengan “sawah”.

“Pasar.”

“Stasiun.”

“Gunung.”

“Bengkel.”

“Pantai.”

“Peternakan.”

“Perpustakaan.”

Anak yang mempunyai pengalaman beragam bukan otomatis lebih pintar.

Tetapi ia mempunyai lebih banyak bahan yang dapat dihubungkan dengan pengetahuan baru.

Karena itu pengalaman masa kecil tidak layak dianggap sekadar selingan dari pendidikan.

Pengalaman adalah salah satu bahan mentahnya.

Biarkan Anak Bermain

Hal yang sama berlaku untuk bermain.

Michael Yogman, Andrew Garner, Jeffrey Hutchinson, Kathy Hirsh-Pasek, Roberta Golinkoff dan kolega, dalam laporan klinis American Academy of Pediatrics, The Power of Play (2018), menempatkan bermain sebagai bagian penting dari perkembangan anak. Bermain berkaitan dengan perkembangan berbagai kemampuan, termasuk bahasa, fungsi eksekutif, kemampuan sosial-emosional, regulasi diri, dan pemecahan masalah.

Temuan semacam itu penting karena orang dewasa semakin mudah merasa bersalah ketika melihat anak “hanya bermain”.

Maka bermain pun akhirnya kita akademisasi.

Harus educational game.

Harus mainan STEM.

Harus permainan numerasi.

Harus ada tujuan pembelajaran.

Harus menghasilkan sesuatu.

Padahal anak juga membutuhkan permainan yang tidak mempunyai capaian pembelajaran tertulis.

Sebuah kardus dapat menjadi rumah.

Lima menit kemudian menjadi kapal.

Besok menjadi roket.

Tongkat dapat menjadi pedang, pancing, mikrofon, atau alat yang bahkan tidak mempunyai nama dalam kamus orang dewasa.

Ketika fungsi benda belum ditentukan, anak harus mengisinya dengan imajinasi.

Kathy Hirsh-Pasek dan koleganya (2015), ketika merumuskan prinsip belajar dari ilmu pembelajaran, menekankan karakter belajar yang aktif, terlibat, bermakna, dan interaktif secara sosial.

Menariknya, empat karakter tersebut sering muncul secara alamiah ketika anak bermain dengan baik.

Anak tidak sekadar menerima.

Ia melakukan.

Ia memilih.

Ia mencoba.

Ia berbicara.

Ia bernegosiasi.

Ia gagal.

Ia mengulang.

Dalam beberapa menit bermain, terjadi sesuatu yang terkadang sulit kita hasilkan melalui lembar kerja: anak mempunyai kepentingan pribadi terhadap apa yang sedang dilakukannya.

Dari Mana Anak Mendapat Bahan untuk Bercerita?

Ada satu persoalan lain yang sering kita keluhkan di sekolah.

Anak sulit menulis.

Guru memberikan instruksi:

“Ceritakan pengalaman menarik kalian.”

Sebagian anak memandangi kertas kosong.

Lalu kita menyimpulkan bahwa kemampuan menulisnya rendah.

Mungkin benar.

Tetapi sebelum mengoreksi struktur kalimatnya, ada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa yang hendak ia ceritakan?

Menulis membutuhkan bahan.

Anak yang pernah naik kereta mempunyai stasiun, tiket, peluit, kursi, jendela, penumpang, terowongan, dan pemandangan untuk diceritakan.

Anak yang pernah menanam cabai mempunyai cerita tentang tanah, hujan, daun yang berlubang dimakan ulat, tanaman yang hampir mati, dan kegembiraan ketika buah pertama muncul.

Anak yang bermain sepak bola bersama teman mempunyai tokoh dan konflik.

Gol yang diperdebatkan.

Teman yang ngambek.

Bola masuk selokan.

Hujan turun.

Pertandingan berhenti.

Ia sudah mempunyai sebuah cerita sebelum guru mengajarkan struktur cerita.

Kosakata mempunyai sesuatu untuk dinamai.

Kalimat mempunyai sesuatu untuk disampaikan.

Imajinasi mempunyai material untuk disusun kembali.

Maka mungkin salah satu cara membantu anak menulis bukan selalu memberikan lebih banyak latihan menulis.

Berikan lebih banyak kehidupan untuk dituliskan.

Sebelum Anak Bertanya, Berikan Sesuatu yang Membuatnya Heran

Kita juga sering mengeluhkan siswa tidak kritis.

Guru selesai menjelaskan.

“Ada yang mau bertanya?”

Diam.

“Sudah paham?”

Diam lagi.

Kita ingin anak mempunyai banyak pertanyaan, tetapi terkadang pengalaman belajarnya terlalu miskin sesuatu yang membuatnya heran.

Rasa ingin tahu membutuhkan celah.

Ada sesuatu yang sudah kita ketahui, lalu kenyataan tidak sepenuhnya cocok dengannya.

Anak tahu ikan hidup di air.

Kemudian ia melihat ikan yang bergerak di lumpur.

“Kok bisa?”

Anak mengira semua benda akan tenggelam.

Kemudian ia melihat kapal baja mengapung.

“Kok tidak tenggelam?”

Dua kata itu—kok bisa?—mungkin merupakan salah satu pintu masuk terbaik menuju ilmu pengetahuan.

Sebelum memberikan definisi, berikan fenomena.

Sebelum memberikan rumus, berikan persoalan.

Sebelum memberikan jawaban, ciptakan alasan bagi anak untuk membutuhkan jawaban.

Rasa ingin tahu yang demikian jauh berbeda dari pertanyaan buatan yang sekadar ditambahkan pada akhir lembar kerja.

Kota Adalah Buku Pelajaran

Karena itu sekolah sebenarnya mempunyai ruang kelas yang jauh lebih besar daripada bangunannya.

Kota adalah buku pelajaran.

Desa adalah buku pelajaran.

Pasar adalah laboratorium matematika dan ekonomi.

Sungai adalah laboratorium ekologi.

Museum membuka percakapan tentang sejarah.

Terminal memperlihatkan mobilitas manusia.

Bengkel membawa anak kepada mekanika.

Sawah menghubungkan pangan, pengukuran, cuaca, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan petani.

Bahkan jalan sepanjang beberapa ratus meter di sekitar sekolah dapat menghasilkan banyak persoalan.

Mengapa air menggenang di sini?

Mengapa trotoar berhenti di sana?

Berapa sepeda motor yang lewat dalam sepuluh menit?

Mengapa warung banyak berada di jalan utama?

Dari mana sampah di selokan berasal?

Mengapa pohon di jalan ini lebih sedikit?

Tiba-tiba matematika mempunyai objek.

IPA mempunyai fenomena.

Bahasa mempunyai bahan cerita.

IPS mempunyai manusia.

Pendidikan lingkungan mempunyai persoalan nyata.

Ini sejalan dengan gambaran belajar dalam How People Learn II (2018): belajar berlangsung dalam konteks, dan pembelajar datang ke sekolah membawa pengetahuan serta pengalaman yang terbentuk dari kehidupan mereka di luar sekolah.

Maka kunjungan belajar tidak harus mahal.

Tidak harus naik bus ke tempat wisata.

Tidak harus menghasilkan seratus foto untuk media sosial sekolah.

Kadang-kadang yang dibutuhkan hanya berjalan keluar gerbang dengan satu instruksi:

“Hari ini, cari lima hal yang membuat kalian bertanya.”

Jangan Ubah Setiap Perjalanan Menjadi Ujian

Namun ada jebakan lain.

Ketika orang tua mengetahui bahwa pengalaman penting untuk belajar, kita dapat menjadi terlalu bersemangat “mendidik”.

Pergi ke kebun binatang.

“Itu hewan apa?”

“Asalnya dari mana?”

“Makanannya apa?”

“Masih ingat tadi pemandu bilang apa?”

Pergi ke museum.

“Tahun berapa itu?”

“Siapa namanya?”

“Ayo dibaca.”

Anak akhirnya tidak sedang berjalan-jalan.

Ia sedang mengikuti ujian lisan yang berpindah-pindah tempat.

Tidak semua pengalaman perlu segera diekstraksi menjadi capaian pembelajaran.

Kadang-kadang biarkan anak melihat.

Biarkan ia memilih benda yang menarik perhatiannya.

Dengarkan apa yang ingin ia ceritakan.

Ikuti pertanyaannya.

Dan jika ia bertanya sesuatu yang kita tidak tahu, orang tua tidak kehilangan wibawa dengan mengatakan:

“Saya juga tidak tahu. Nanti kita cari.”

Anak memperoleh sebuah pelajaran penting:

ketidaktahuan bukan akhir percakapan. Ia dapat menjadi awal pencarian.

Anak yang Jadwalnya Terlalu Sempurna

Ada ironi dalam keluarga modern.

Semakin mampu sebuah keluarga menyediakan fasilitas pendidikan, semakin besar godaan untuk menjadwalkan hampir setiap jam kehidupan anak.

Senin les matematika.

Selasa bahasa Inggris.

Rabu olahraga.

Kamis musik.

Jumat mengaji.

Sabtu kelas tambahan.

Minggu mengerjakan tugas.

Jadwalnya mengesankan.

Semua dilakukan karena kita mencintai anak dan ingin mempersiapkan masa depannya.

Tetapi ada pertanyaan yang patut diajukan:

Kapan anak mempunyai waktu untuk menemukan sesuatu yang tidak kita rencanakan?

Kapan ia boleh mengikuti semut?

Mengumpulkan batu?

Membongkar radio rusak?

Mengobrol lama dengan neneknya?

Menciptakan permainan yang aturannya bahkan tidak dipahami orang dewasa?

Tidak setiap jam masa kecil harus menghasilkan kompetensi yang dapat dimasukkan ke sertifikat.

Ada pengalaman yang manfaatnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Ada perjalanan yang tidak menghasilkan nilai.

Tetapi menghasilkan cerita.

Ada permainan yang tidak menghasilkan piala.

Tetapi menghasilkan persahabatan.

Ada kebosanan yang tidak menghasilkan apa-apa selama setengah jam.

Lalu tiba-tiba menghasilkan ide.

AI Bisa Memberikan Jawaban, tetapi Tidak Memberikan Masa Kecil

Persoalan ini menjadi semakin penting pada zaman kecerdasan artifisial.

Anak-anak kita akan tumbuh ketika jawaban tersedia hampir tanpa batas.

Apa itu fotosintesis?

Tanya mesin.

Mengapa pesawat terbang?

Tanya mesin.

Bagaimana gunung terbentuk?

Tanya mesin.

Buatkan cerita.

Buatkan gambar.

Jelaskan dengan bahasa anak kelas tiga.

Dalam hitungan detik, jawaban tersedia.

Justru karena jawaban semakin murah, pendidikan perlu menjaga sesuatu yang tidak dapat digantikan hanya dengan produksi teks:

pengalaman mempunyai pertanyaan sendiri.

AI dapat menjelaskan pasar tradisional.

Tetapi penjelasan tidak menggantikan pengalaman mendengar pedagang menawarkan dagangan, melihat orang menawar, mencium rempah-rempah, lalu bertanya mengapa harga cabai minggu ini berbeda dari minggu lalu.

AI dapat menjelaskan ombak.

Tetapi teks tidak sama dengan pengalaman berdiri ketika pasir di bawah kaki bergeser saat air laut kembali surut.

AI dapat membuat cerita tentang sawah.

Tetapi cerita itu berbeda dari pengalaman anak yang kakinya pertama kali masuk lumpur dan bertanya mengapa tanah di sana terasa berbeda.

Mesin dapat menyediakan informasi.

Dunia menyediakan perjumpaan.

Anak membutuhkan keduanya.

Berikan Anak Lebih Banyak Dunia

Maka mungkin ada pertanyaan yang perlu kita ubah ketika anak pulang sekolah.

Tidak hanya:

“Hari ini belajar apa?”

Sesekali tanyakan:

“Hari ini kamu melihat apa yang menarik?”

“Ada sesuatu yang membuatmu heran?”

“Ada yang belum kamu mengerti?”

“Ada cerita apa hari ini?”

Pertanyaan itu membawa pesan yang berbeda.

Pendidikan tidak hanya terjadi ketika buku terbuka.

Belajar juga terjadi ketika mata terbuka.

Ketika telinga mendengar.

Ketika tangan menyentuh.

Ketika kaki berjalan.

Ketika anak bertemu orang yang kehidupannya berbeda.

Ketika ia gagal membuat layang-layang terbang.

Ketika ia melihat penjual menghitung uang tanpa kalkulator.

Ketika ia menemukan kecebong di genangan.

Dan ketika sesuatu yang sangat biasa bagi orang dewasa membuatnya berhenti lalu bertanya:

“Kenapa?”

Kita mungkin terlalu sibuk mempersiapkan anak menjawab pertanyaan yang dibuat orang dewasa.

Padahal dunia yang akan mereka hadapi membutuhkan manusia yang juga mampu menemukan pertanyaan yang belum pernah diajukan.

Maka ajaklah anak bermain.

Bawa ia ke pasar.

Naik bus.

Masuk perpustakaan.

Lihat museum.

Berjalan di sawah.

Datang ke bengkel.

Menanam pohon.

Bermain hujan sesekali.

Duduk bersama kakek dan neneknya.

Tidak semua perjalanan harus menghasilkan lembar kerja.

Tidak setiap permainan harus mempunyai tujuan pembelajaran.

Tidak semua pengalaman harus segera diubah menjadi pelajaran.

Sebab masa kecil juga membutuhkan kehidupan yang benar-benar dialami.

Suatu hari ketika anak harus menulis, ia mempunyai sesuatu untuk diceritakan.

Ketika harus memahami, ia mempunyai pengalaman untuk dihubungkan.

Ketika harus membayangkan, ia mempunyai dunia untuk disusun kembali.

Ketika harus memecahkan masalah, ia mempunyai banyak pengalaman untuk dibandingkan.

Dan ketika harus bertanya, ia mempunyai cukup banyak perjumpaan untuk menyadari betapa luasnya hal-hal yang belum ia ketahui.

Mungkin tugas kita bukan memenuhi setiap jam kehidupan anak dengan pelajaran.

Sebelum memenuhi kepalanya dengan jawaban, ada tugas yang lebih mendasar:

berikan ia dunia yang cukup luas untuk membuatnya terus bertanya.