Konten dari Pengguna

Dulu Kita Menunggu Hari Minggu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Hari Minggu Zaman Dulu dan Sekarang (diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Hari Minggu Zaman Dulu dan Sekarang (diolah Oleh Penulis)

Anak-anak yang tumbuh pada dekade 1990-an mungkin masih mengingat ritual kecil ini. Bangun lebih pagi pada hari Minggu, menyalakan televisi, lalu duduk menunggu kartun kesayangan.

Ada Doraemon, Dragon Ball, Sailor Moon, Digimon, Pokémon, atau kartun lain sesuai zaman dan stasiun televisinya. Kita hafal kira-kira jam tayangnya. Terlambat bangun berarti kehilangan separuh cerita. Jika satu episode terlewat, ya sudah.

Tidak ada tombol replay. Tidak ada on demand. Tidak ada algoritma yang berkata: “Anda mungkin juga menyukai ini.”

Yang ada adalah sebuah pengalaman sederhana yang sekarang semakin jarang: menunggu.

Kita menunggu hari Minggu. Menunggu pukul tujuh. Menunggu iklan selesai. Menunggu episode berikutnya seminggu kemudian.

Bagi anak-anak hari ini, pengalaman tersebut mungkin terdengar seperti cerita dari zaman yang sangat jauh. Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan media yang berbeda. Mereka tidak harus menunggu Minggu pagi untuk menonton kartun. Ribuan tayangan tersedia setiap saat. Bosan dengan satu video, geser. Menyukai sebuah konten, sistem segera menawarkan puluhan konten serupa.

Masa kecil telah berubah.

Namun kita perlu berhati-hati untuk tidak terjebak pada romantisme generasi: seolah-olah masa kecil kita selalu lebih baik daripada masa kecil mereka. Pertanyaan yang lebih penting bukan generasi mana yang lebih bahagia, melainkan manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh lingkungan media yang berbeda itu?

Neil Postman telah mengajukan kegelisahan mengenai hubungan media dan masa kanak-kanak dalam The Disappearance of Childhood (1982). Konteksnya tentu berbeda. Internet, telepon pintar, dan media sosial belum menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Namun satu pokok pikirannya tetap relevan: perubahan media komunikasi ikut mengubah struktur pengalaman masa kanak-kanak.

Dengan demikian, ketika membandingkan anak 1990-an dengan Generasi Alpha, sesungguhnya kita bukan sekadar membandingkan dua generasi. Kita sedang melihat dua ekologi masa kecil.

Yang satu tumbuh bersama media yang dibatasi jadwal. Yang lain tumbuh bersama media yang hampir selalu tersedia. Yang satu lebih sering berbagi layar dengan anggota keluarga. Yang lain semakin akrab dengan layar personal. Yang satu menunggu program datang. Yang lain hidup ketika program datang kepadanya.

Hilangnya Jeda

Televisi generasi 1990-an memiliki satu karakter penting: jadwal.

Kita yang menyesuaikan diri dengan media.

Hari ini hubungan tersebut berbalik. Media semakin mampu menyesuaikan diri dengan kita. Kapan ingin menonton, kita menonton. Ingin berhenti, berhenti. Tidak menyukai satu tayangan, geser. Ingin mengulang, putar kembali.

Ini tentu kemajuan.

Anak-anak sekarang memiliki akses kepada pengetahuan yang sulit dibayangkan tiga dekade lalu. Dari kamar tidurnya, seorang anak dapat melihat kehidupan bawah laut, belajar bahasa asing, mengamati permukaan Mars, mendengarkan musik dari berbagai kebudayaan, atau memahami bagaimana gunung berapi bekerja.

Masalahnya bukan kelimpahan itu.

Persoalan muncul ketika hampir seluruh keinginan kehilangan jarak dengan pemenuhannya.

Anak bosan, kita memberikan layar. Anak tidak mau makan, kita memutar video. Anak gelisah selama perjalanan, kita membuka YouTube. Anak menunggu makanan datang di restoran, telepon genggam berpindah ke tangannya.

Tanpa sadar, yang perlahan kita hilangkan bukan hanya kebosanan.

Kita sedang menghilangkan jeda.

Sosiolog Hartmut Rosa dalam Social Acceleration (2013) menyebut percepatan sebagai salah satu ciri penting modernitas. Teknologi mempercepat berbagai aktivitas, perubahan sosial berlangsung semakin cepat, dan tempo kehidupan ikut meningkat. Ironisnya, semakin banyak teknologi membantu manusia menghemat waktu, manusia tidak otomatis merasa memiliki lebih banyak waktu.

Logika percepatan itu kini memasuki masa kanak-kanak.

Tidak suka lagu ini? Ganti.

Video terlalu lama? Geser.

Permainan terlalu sulit? Cari yang lain.

Jawaban tidak segera ditemukan? Tanyakan mesin.

Generasi Alpha bukan pencipta budaya percepatan tersebut. Mereka lahir ke dalamnya.

Karena itu, pertanyaan pendidikan kita bukan bagaimana menghentikan zaman. Itu mustahil. Pertanyaannya ialah bagaimana membesarkan manusia yang mampu menentukan ritmenya sendiri di tengah dunia yang terus mempercepat dirinya.

Ketika Bosan Belum Menjadi Masalah

Generasi 1990-an juga mengalami kebosanan. Bedanya, kita tidak selalu mempunyai alat untuk segera menghilangkannya.

Ketika acara televisi selesai, kita keluar rumah. Bermain bola. Mencari teman. Membuat mainan. Membaca komik yang sama untuk kesekian kali. Mengganggu kakak. Bertengkar dengan adik. Atau sekadar berbaring tanpa melakukan sesuatu yang jelas.

Tentu tidak semuanya perlu dirayakan secara romantis. Televisi pada zamannya juga dikritik karena membuat anak pasif. Orang tua dahulu pun mengatakan, “Jangan menonton TV terus.”

Setiap generasi rupanya mempunyai kecemasan terhadap teknologi masa kecil generasi berikutnya.

Namun terdapat satu perbedaan struktural yang menarik.

Televisi mempunyai akhir.

Internet hampir tidak memilikinya.

Program televisi selesai. Setelah itu kita harus memutuskan apa yang akan dilakukan. Sebaliknya, infinite scroll memastikan selalu tersedia sesuatu setelah sesuatu.

Satu video. Lalu satu lagi. Kemudian satu lagi.

Tidak pernah benar-benar sampai pada kata tamat.

John Eastwood dan koleganya melalui artikel “The Unengaged Mind” (2012) menunjukkan bahwa kebosanan bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak mempunyai sesuatu untuk dilakukan. Kebosanan berkaitan pula dengan kesulitan untuk terlibat secara memuaskan dengan suatu aktivitas dan mengarahkan perhatian.

Perspektif ini penting bagi pendidikan.

Tidak setiap kali anak berkata “bosan,” orang dewasa harus segera menyediakan stimulus baru.

Kita tentu tidak perlu menganggap kebosanan otomatis menghasilkan kreativitas. Namun, jika setiap kebosanan segera kita hilangkan, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi keadaan ketika dunia tidak menyediakan stimulus sesuai keinginannya.

Padahal kehidupan nyata penuh dengan keadaan seperti itu.

Bersama, tetapi Sendiri

Ada perubahan lain yang lebih dalam.

Pada Minggu pagi tahun 1990-an, banyak anak menonton acara yang sama. Senin pagi di sekolah, kartun kemarin menjadi bahan percakapan.

“Sudah lihat episode kemarin?”

Karakter yang sama ditiru. Lagu pembuka yang sama dinyanyikan. Cerita yang sama diperdebatkan.

Televisi, dengan segala kekurangannya, menyediakan pengalaman media bersama.

Hari ini dua anak seusia yang duduk berdampingan dapat memiliki dunia digital yang sama sekali berbeda. Beranda mereka berbeda. Rekomendasi video berbeda. Permainan berbeda. Iklan berbeda. Bahkan urutan informasi yang sampai kepada mereka berbeda.

Kita berpindah dari zaman ketika jutaan orang melihat layar yang sama menuju zaman ketika jutaan orang melihat layarnya masing-masing.

Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation (2015) mengingatkan bagaimana teknologi digital mengubah kualitas kehadiran dan percakapan manusia. Kita dapat berada dalam ruangan yang sama, tetapi perhatian berada di tempat yang berbeda.

Pemandangan itu kini mudah ditemukan.

Satu keluarga duduk di restoran. Ayah melihat telepon. Ibu membalas pesan. Anak menonton video.

Mereka berada pada meja yang sama, tetapi tidak sepenuhnya berada dalam pengalaman yang sama.

Ini bukan alasan untuk menyalahkan teknologi. Telepon pintar juga memungkinkan keluarga yang terpisah ratusan kilometer berbicara setiap hari. Pengetahuan dan komunitas yang dahulu sulit dijangkau kini tersedia dalam genggaman.

Persoalannya bukan terkoneksi atau tidak terkoneksi.

Persoalannya ialah apakah koneksi digital mulai menggantikan terlalu banyak pengalaman kehadiran.

Jangan Menyalahkan Generasi Alpha

Mudah sekali mengatakan, “Anak sekarang memang begitu.”

Padahal mereka tidak menciptakan lingkungan tersebut.

Kitalah yang memberikannya.

Generasi Alpha lahir ketika telepon pintar sudah berada di meja makan, internet masuk ke kamar tidur, dan orang dewasa sendiri kesulitan melepaskan mata dari notifikasi. Mereka tidak pernah mengalami dunia sebelum Google. Mereka tidak mengenal kehidupan sebelum YouTube. Sebagian akan tumbuh tanpa ingatan tentang dunia sebelum kecerdasan artifisial generatif.

Karena itu, membandingkan mereka dengan generasi 1990-an tanpa membandingkan lingkungan tempat keduanya tumbuh tidaklah adil.

Anak tidak berubah sendirian.

Ekologi masa kecilnya yang berubah.

Yang dahulu dibatasi jam tayang kini tersedia 24 jam. Yang dahulu dipilih editor program kini ikut ditentukan sistem rekomendasi. Yang dahulu lebih sering ditonton bersama kini dapat dikonsumsi sendiri melalui layar personal. Yang dahulu memiliki awal dan akhir kini memiliki infinite scroll.

Tantangan pendidikan, karena itu, tidak cukup dijawab dengan nasihat: “Kurangi main HP.”

Kita sedang mendidik manusia di dalam arsitektur kehidupan yang baru.

Pendidikan tentang Keinginan

Di sinilah persoalannya menjadi lebih mendasar.

Pendidikan selama ini banyak berbicara tentang pengetahuan. Apa yang harus diketahui anak? Matematika apa yang harus dikuasainya? Seberapa baik kemampuan membacanya? Sains apa yang perlu dipelajarinya?

Semua itu penting.

Namun generasi yang tumbuh dalam dunia on demand membutuhkan jenis pendidikan lain: pendidikan tentang keinginan.

Tidak semua yang kita inginkan harus segera diperoleh.

Tidak semua yang menarik harus dilihat.

Tidak semua notifikasi harus dibuka.

Tidak semua kebosanan harus dihilangkan.

Tidak semua waktu kosong harus diisi.

Dan tidak semua kesulitan harus segera dicarikan jalan pintas.

Kemampuan mengatakan “cukup” mungkin akan menjadi salah satu kecakapan penting manusia dalam masyarakat yang berlimpah stimulus digital.

Ini bukan semata-mata persoalan disiplin.

Ini persoalan kemerdekaan.

Sebab manusia yang tidak mampu mengatakan cukup kepada keinginannya sendiri akan mudah dikendalikan oleh siapa pun yang mampu memproduksi keinginan itu.

Sekolah pun perlu berhati-hati.

Ketika anak terbiasa dengan pergantian stimulus yang cepat, ada godaan untuk membuat pendidikan mengikuti logika yang sama. Pelajaran harus selalu seru. Lima menit penjelasan, lalu video. Permainan. Kuis. Animasi. Ice breaking. Kemudian video lagi.

Kita takut anak bosan.

Padahal sekolah tidak harus berubah menjadi TikTok agar relevan bagi generasi TikTok.

Ada saatnya pembelajaran harus menyenangkan. Tetapi ada pula saatnya belajar menuntut ketekunan. Ada teks panjang yang harus selesai dibaca. Ada argumen yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Ada soal matematika yang jawabannya tidak langsung terlihat. Ada tulisan yang harus direvisi berkali-kali.

Ada kegagalan yang tidak dapat diselesaikan dengan menggeser layar.

Jika sekolah menganggap setiap kebosanan sebagai kegagalan pedagogis, kita justru kehilangan salah satu fungsi pendidikan yang penting: melatih manusia bertahan ketika sesuatu tidak segera memberikan kepuasan.

Pelajaran dari Minggu Pagi

Kita tentu tidak perlu membawa anak kembali ke tahun 1990-an.

Masa lalu selalu terlihat lebih indah ketika dipandang dari kejauhan.

Anak-anak hari ini memperoleh banyak hal yang dahulu tidak kita miliki. Mereka mempunyai akses pengetahuan luar biasa. Mereka dapat menciptakan video, musik, gambar, permainan, bahkan program komputer dari rumah. Mereka bukan sekadar konsumen media; mereka dapat menjadi pencipta.

Tugas kita bukan membawa mereka kembali kepada masa kecil kita.

Tugas kita adalah mengambil sesuatu yang berharga dari masa lalu untuk membantu mereka hidup lebih baik pada zamannya sendiri.

Dari televisi Minggu pagi, mungkin kita dapat mengambil pelajaran sederhana.

Bahwa kesenangan tidak selalu harus tersedia sekarang. Bahwa menunggu tidak selalu merupakan penderitaan. Bahwa kebosanan tidak selalu merupakan keadaan darurat. Bahwa pengalaman bersama mempunyai nilai. Dan bahwa sesuatu terkadang terasa istimewa justru karena ia tidak tersedia setiap saat.

Anak-anak generasi 1990-an dahulu menunggu tujuh hari untuk mengetahui kelanjutan sebuah cerita.

Generasi Alpha dapat memperoleh tujuh musim cerita dalam satu akhir pekan.

Kita tidak perlu menentukan mana yang lebih baik.

Namun sebagai orang tua dan pendidik, kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih penting: di tengah dunia yang dapat memberikan hampir segala sesuatu dengan segera, masihkah kita mengajarkan anak bahwa beberapa hal terbaik dalam kehidupan hanya dapat diperoleh dengan menunggu, berusaha, dan bertumbuh perlahan-lahan?

Yang hilang dari Minggu pagi generasi 1990-an mungkin bukan sekadar kartun yang terjadwal.

Yang perlahan menghilang adalah jeda: jarak antara keinginan dan pemenuhannya.

Padahal mungkin justru di dalam jarak itulah kesabaran, imajinasi, pengendalian diri, dan kemampuan hidup bersama orang lain memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Barangkali itulah pelajaran yang tersisa dari Minggu pagi kita.

Bukan tentang Doraemon, Dragon Ball, atau televisi tabung.

Melainkan tentang sebuah generasi yang pernah belajar, tanpa menyadarinya, bahwa setelah sebuah episode berakhir, kita harus mematikan televisi—dan kembali menjalani kehidupan.