Jangan Terlalu Cepat Membantu Anak
Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kegelisahan yang sulit ditahan orang dewasa ketika melihat anak belajar: kita tidak tahan melihat mereka terlalu lama tidak bisa.
Seorang anak sedang memasang puzzle. Satu keping dicoba, ternyata salah. Ia memutarnya, mencoba tempat lain, masih belum cocok. Tangannya mulai bergerak ke keping berikutnya ketika orang tua yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut campur.
“Bukan yang itu. Yang ini di sini.”
Selesai. Puzzle tersusun lebih cepat. Anak tersenyum. Orang tua pun merasa telah membantu.
Tetapi ada pertanyaan kecil yang jarang kita ajukan: siapa yang sebenarnya menyelesaikan masalah itu?
Pemandangan serupa mudah ditemukan di ruang kelas. Seorang siswa menghadapi soal matematika. Ia mencoba satu cara, salah, menghapusnya, lalu mencoba kembali. Guru yang melihat kebingungannya kemudian memberikan rumus. Beberapa menit kemudian jawaban ditemukan.
Kita sering menyebut keadaan itu sebagai keberhasilan belajar. Padahal mungkin yang berhasil baru satu hal: tugasnya selesai.
Perbedaan ini penting karena ilmu tentang belajar mengenal sebuah paradoks yang menarik: apa yang terlihat lancar selama pembelajaran belum tentu menghasilkan pembelajaran yang bertahan lama.
Nicholas Soderstrom dan Robert Bjork dalam “Learning Versus Performance” (2015) membedakan performance dari learning. Performance merupakan apa yang dapat diamati selama seseorang belajar: seberapa cepat ia menjawab, seberapa lancar ia mengerjakan latihan, atau seberapa baik ia mengikuti contoh yang baru saja diberikan. Learning menunjuk pada perubahan pengetahuan atau kemampuan yang relatif bertahan dan dapat digunakan kemudian.
Keduanya tidak selalu berjalan searah.
Seorang siswa dapat terlihat sangat lancar mengerjakan sepuluh soal setelah melihat contoh guru, tetapi beberapa hari kemudian kebingungan ketika bentuk soalnya sedikit berubah. Sebaliknya, siswa yang hari ini terlihat lebih lambat karena harus mengingat, mencoba, salah, dan memperbaiki jawabannya mungkin justru sedang melakukan kerja kognitif yang lebih dalam.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap salah satu obsesi pendidikan modern: kelancaran.
Kita ingin anak cepat membaca, cepat menghitung, cepat menjawab, cepat memahami. Buku pelajaran dianggap bagus jika membuat sesuatu menjadi mudah. Guru dianggap berhasil jika murid segera mengerti. Orang tua merasa perlu turun tangan ketika anak mulai kesulitan.
Padahal yang mudah dikerjakan belum tentu mendalam dipelajari.
Robert dan Elizabeth Bjork menggunakan istilah desirable difficulties untuk menjelaskan fenomena yang sepintas terdengar kontradiktif: beberapa bentuk kesulitan selama proses belajar justru dapat memberikan manfaat bagi pembelajaran jangka panjang.
Kata pentingnya tentu desirable.
Tidak semua kesulitan baik. Materi yang terlalu jauh dari kemampuan anak dapat menghasilkan frustrasi. Instruksi yang membingungkan tidak otomatis membuat pembelajaran lebih bermakna. Membiarkan anak gagal tanpa dukungan juga bukan pedagogi.
Namun ada kesulitan yang memang diperlukan.
Mencoba mengingat sebelum membuka buku. Memecahkan masalah sebelum melihat contoh penyelesaian. Menjelaskan gagasan dengan kata-kata sendiri. Membandingkan beberapa strategi. Menemukan kesalahan dalam jawaban sendiri.
Semua itu lebih melelahkan daripada menerima jawaban.
Tetapi justru di dalam kerja mental itulah pembelajaran berlangsung.
Mungkin karena itu kita perlu mengganti salah satu pertanyaan yang terlalu sering diajukan dalam pendidikan. Bukan lagi sekadar, “Bagaimana membuat belajar menjadi semudah mungkin?,” melainkan “Kesulitan seperti apa yang layak dialami anak agar ia bertumbuh?”
Manu Kapur membawa pertanyaan tersebut lebih jauh melalui gagasan Productive Failure. Dalam penelitian yang dikembangkannya sejak akhir 2000-an, siswa diberikan kesempatan menghadapi persoalan kompleks dan menghasilkan berbagai kemungkinan penyelesaian sebelum memperoleh penjelasan formal.
Mereka tentu tidak selalu berhasil.
Justru itulah poin pentingnya.
Kegagalan awal tidak dibiarkan menjadi kegagalan akhir. Setelah siswa mencoba, membandingkan strategi, menemukan kebuntuan, dan mengaktifkan pengetahuan yang telah dimilikinya, guru membantu mengonsolidasikan pengalaman tersebut menjadi pemahaman yang lebih terstruktur.
Urutannya menjadi penting: berjuang dahulu, kemudian memperoleh struktur.
Dengan cara ini, penjelasan guru tidak datang kepada pikiran yang sepenuhnya kosong. Anak sudah mempunyai dugaan. Sudah menemukan sesuatu yang tidak bekerja. Sudah mempunyai pertanyaan.
Rumus kemudian tidak hadir sebagai sesuatu yang jatuh dari langit. Ia datang sebagai jawaban terhadap persoalan yang telah lebih dahulu dipikirkan.
Perspektif semacam ini mengubah cara kita melihat jawaban salah.
Bayangkan seorang anak mengerjakan:
38 + 27 = 515.
Kita dapat segera memberi tanda silang.
Salah.
Selesai.
Tetapi seorang guru dapat mengajukan pertanyaan lain:
“Bagaimana kamu mendapatkan 515?”
Anak kemudian menjelaskan bahwa 3 ditambah 2 menghasilkan 5, sementara 8 ditambah 7 menghasilkan 15. Kedua hasil itu lalu ditulis berdampingan menjadi 515.
Jawabannya memang keliru. Namun sekarang kita mengetahui sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar fakta bahwa ia salah.
Kita mengetahui bagaimana ia berpikir.
Kesalahan ternyata tidak selalu berarti ketiadaan pengetahuan. Kadang-kadang ia menunjukkan pengetahuan yang sedang disusun dengan cara yang belum tepat.
Di sinilah pendidik berbeda dari mesin pemeriksa jawaban.
Mesin dapat mengatakan: 38 + 27 bukan 515.
Pendidik bertanya: mengapa anak ini berpikir jawabannya 515?
Pertanyaan kedua membuka pintu pedagogi.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kecerdasan artifisial memasuki kehidupan anak.
Selama sebagian besar sejarah pendidikan, memperoleh bantuan membutuhkan waktu. Tidak memahami pekerjaan rumah? Tunggu esok hari untuk bertanya kepada guru. Tidak mengetahui sebuah istilah? Buka kamus atau cari buku. Tidak mengetahui cara menyelesaikan persoalan? Cobalah beberapa kemungkinan.
Hari ini hambatan tersebut semakin kecil.
Foto soal. Unggah. Jawaban muncul.
Belum mengerti? Minta penjelasan.
Masih terlalu rumit? Minta AI menjelaskannya seolah-olah kita berusia sepuluh tahun.
Dalam beberapa detik, bantuan datang.
Ini pencapaian teknologi yang luar biasa. AI dapat menjadi tutor yang sabar, memberikan contoh tambahan, menerjemahkan konsep yang sulit, dan membantu anak belajar sesuai kecepatannya sendiri.
Namun justru ketika bantuan menjadi semakin murah, pendidikan harus mulai memikirkan sesuatu yang dahulu tidak terlalu mendesak: kapan anak sebaiknya tidak segera dibantu?
Pertanyaan tentang AI dalam pendidikan karena itu tidak cukup berhenti pada “boleh atau tidak boleh.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: pada titik mana bantuan teknologi memperluas kemampuan berpikir, dan pada titik mana ia mengambil alih kerja kognitif yang seharusnya dilakukan anak?
Kalkulator dapat membantu manusia menghitung, tetapi anak tetap membutuhkan number sense untuk mengetahui apakah hasil perhitungannya masuk akal.
AI dapat menghasilkan argumen, tetapi anak tetap perlu belajar membangun argumen agar mampu menilai apakah argumen mesin layak dipercaya.
AI dapat memberikan jawaban.
Tetapi pendidikan harus memastikan anak masih mempunyai pengalaman mencari jawaban.
Namun sebelum terlalu jauh menyalahkan teknologi, kita perlu bercermin. Jauh sebelum AI hadir, orang dewasa kadang-kadang sudah menjadi semacam “mesin jawaban” bagi anak-anak.
Anak lupa membawa tugas, orang tua mengantarkan. Anak kesulitan membuat prakarya, orang tua menyelesaikan. Anak lupa jadwal, orang tua mengingatkan. Anak berselisih dengan teman, orang tua segera turun tangan. Anak menghadapi masalah, orang dewasa membersihkan jalan.
Semua dilakukan karena kasih sayang.
Tetapi kasih sayang dalam pendidikan mempunyai paradoks.
Terkadang mencintai anak berarti membantu. Pada saat lain, mencintai anak berarti menahan diri untuk tidak segera membantu.
Bukan meninggalkannya.
Kita tetap berada di dekatnya. Tetapi alih-alih mengambil alih masalah, kita mengembalikan sebagian masalah itu kepada anak.
“Apa yang sudah kamu coba?”
“Menurutmu, mengapa cara tadi tidak berhasil?”
“Ada kemungkinan lain?”
“Coba sekali lagi.”
Pertanyaan semacam itu lebih melelahkan daripada memberikan jawaban. Bagi orang dewasa maupun anak.
Namun tujuan pendidikan memang bukan menyelesaikan sebanyak mungkin masalah untuk anak. Tujuannya adalah memperbesar kemampuan anak menyelesaikan masalah ketika suatu hari kita tidak lagi berada di sampingnya.
Di sekolah, tantangannya bahkan lebih besar. Pendidikan modern sangat menyukai efisiensi. Ada capaian pembelajaran, jam pelajaran, asesmen, materi yang harus diselesaikan, dan target kurikulum.
Dalam situasi semacam itu, memberi tahu sering jauh lebih efisien daripada membiarkan anak menemukan.
Guru memberikan rumus. Menunjukkan contoh. Anak mengikuti. Jawaban benar. Berikutnya.
Secara performance, kelas terlihat berhasil.
Namun efisiensi pengajaran tidak selalu identik dengan kedalaman pembelajaran.
Semakin kita mengoptimalkan proses agar anak tidak pernah tersandung, semakin sedikit kesempatan yang mereka miliki untuk belajar bagaimana bangkit ketika tersandung.
Padahal di luar sekolah, kehidupan jarang menyediakan contoh penyelesaian di halaman sebelumnya.
Mungkin karena itu yang perlu kita kembalikan kepada anak bukan hanya hak untuk bermain, tetapi juga hak untuk belum bisa.
Hak untuk kebingungan beberapa saat.
Hak untuk mencoba strategi yang ternyata salah.
Hak untuk menghapus.
Hak untuk mengubah pikiran.
Hak untuk mengatakan, “Saya belum mengerti.”
Kata pentingnya adalah belum.
Carol Dweck melalui kajiannya tentang growth mindset menunjukkan pentingnya cara seseorang memandang kemampuan dan proses belajar. Namun gagasan growth mindset sering direduksi menjadi slogan motivasional: “Kamu pasti bisa.”
Padahal mengatakan “kamu pasti bisa” tidak dengan sendirinya membuat seseorang bertumbuh.
Pertumbuhan membutuhkan pengalaman nyata ketika seseorang menghadapi sesuatu yang belum dapat dilakukan, mencoba strategi, menerima umpan balik, berlatih, kemudian menemukan bahwa kemampuannya dapat berkembang.
Dengan demikian, pengalaman “belum bisa” bukan gangguan dalam pendidikan.
Ia adalah bagian dari pendidikan.
Teknologi pada masa depan akan semakin pandai menghilangkan berbagai kesulitan manusia. Peta digital mengurangi kesulitan mencari jalan. Mesin pencari mempermudah pencarian informasi. AI mengurangi kesulitan menghasilkan jawaban. Kelak lebih banyak lagi hambatan akan diselesaikan teknologi.
Kita patut mensyukurinya.
Tetapi pendidikan harus tetap menjaga beberapa bentuk kesulitan yang diperlukan untuk pertumbuhan.
Kesulitan membaca buku sampai selesai. Kesulitan memahami gagasan yang rumit. Kesulitan menerima koreksi. Kesulitan menemukan kesalahan sendiri. Kesulitan mencoba kembali. Kesulitan menunggu sebelum meminta jawaban.
Tentu tidak semua kesulitan harus dipertahankan.
Kemiskinan bukan productive failure. Perundungan bukan desirable difficulty. Keterbatasan akses pendidikan bukan latihan karakter.
Kita harus membedakan kesulitan yang melukai dari kesulitan yang melatih.
Justru di situlah kebijaksanaan pendidikan berada: mengetahui kesulitan mana yang harus disingkirkan dan kesulitan mana yang jangan terlalu cepat kita rampas dari kehidupan anak.
Maka ketika suatu hari seorang anak duduk di depan kita, mengernyitkan dahi, menghapus jawabannya untuk ketiga kali, kemudian berkata,
“Sulit.”
Jangan selalu buru-buru mengambil pensilnya.
Duduklah di dekatnya.
Tanyakan apa yang sudah ia coba.
Berikan petunjuk ketika memang diperlukan.
Tetapi sisakan sedikit ruang agar perjuangan itu tetap menjadi miliknya.
Sebab tugas orang tua dan pendidik bukan memastikan anak-anak tidak pernah mengalami kesulitan.
Tugas kita adalah membantu mereka menjadi manusia yang suatu hari mampu menghadapi kesulitan tanpa selalu menunggu seseorang datang memberikan jawaban.
Boleh jadi, salah satu bentuk bantuan terbaik dalam pendidikan adalah mengetahui kapan harus membantu—dan kapan harus menunggu.

