Konten dari Pengguna

Ketika Anak-Anak Sulit Bertahan dalam Kebosanan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Anak Sulit Belajar (Diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Anak Sulit Belajar (Diolah Oleh Penulis)

Ada pemandangan yang semakin biasa di ruang kelas.

Guru baru beberapa menit menjelaskan. Sebagian anak mulai melihat ke luar jendela. Tangan bergerak mencari sesuatu. Jika telepon genggam berada di dekatnya, dorongan untuk memeriksa layar segera datang. Jika tidak, kegelisahan lain muncul: kapan kegiatan berganti, kapan video diputar, kapan permainan dimulai?

Kita kemudian mengatakan: anak-anak sekarang sulit berkonsentrasi.

Mungkin benar.

Tetapi barangkali persoalannya bukan semata-mata anak-anak kehilangan kemampuan memperhatikan.

Mereka sedang tumbuh dalam sebuah kebudayaan yang terus-menerus memperebutkan perhatian mereka.

Setiap hari perhatian seorang anak diperebutkan oleh video pendek, permainan, pesan masuk, musik, live streaming, iklan, notifikasi, dan algoritma yang semakin pandai mengetahui apa yang membuat jarinya berhenti menggulir layar.

Sekolah memasuki arena yang sama.

Bedanya, sekolah membawa buku, pecahan, sejarah, fotosintesis, dan sebuah kalimat yang semakin sulit diterima zaman kita:

“Coba pikirkan dahulu.”

Zaman yang Tidak Suka Menunggu

Kita sedang membangun peradaban yang semakin sedikit memberikan alasan untuk menunggu.

Lapar? Makanan dapat dipesan.

Tidak tahu? Mesin pencari menjawab.

Bosan? Buka layar.

Tidak menyukai video yang sedang ditonton? Geser.

Tidak menarik dalam tiga detik pertama? Tinggalkan.

Teknologi tentu memberikan banyak kemudahan. Persoalannya muncul ketika logika yang sama terbawa ke dalam cara kita belajar.

Belajar mempunyai ritme yang berbeda.

Ada konsep yang tidak dapat dipahami dalam tiga puluh detik. Ada buku yang baru terasa menarik setelah puluhan halaman. Ada persoalan matematika yang membutuhkan beberapa kali kegagalan sebelum pola penyelesaiannya terlihat.

Bahkan ada pelajaran yang manfaatnya baru kita pahami bertahun-tahun setelah meninggalkan sekolah.

Pendidikan, dengan demikian, mempunyai hubungan yang aneh dengan waktu.

Ia meminta manusia bersedia melakukan sesuatu hari ini yang manfaatnya mungkin baru dirasakan kemudian.

Dan kemampuan menunda kepuasan intelektual semacam itulah yang sedang mendapat tantangan.

Perhatian Bukan Persoalan Sepele

Data PISA 2022 memberikan gambaran menarik. Rata-rata di negara OECD, sekitar 30 persen siswa melaporkan terdistraksi oleh penggunaan perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran matematika. Siswa yang terdistraksi oleh penggunaan perangkat digital siswa lain juga menunjukkan skor matematika rata-rata 15 poin lebih rendah dibanding mereka yang mengatakan hal tersebut hampir tidak pernah terjadi, setelah memperhitungkan profil sosial-ekonomi siswa dan sekolah.

Indonesia tidak berada di luar persoalan itu.

Dalam PISA 2022, sekitar 25 persen siswa Indonesia mengatakan mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran matematika. Sekitar 27 persen terganggu oleh siswa lain yang menggunakan perangkat digital.

Angka itu tidak berarti telepon genggam sendirian menyebabkan rendahnya hasil belajar. Hubungannya jauh lebih kompleks.

Bahkan data OECD menunjukkan penggunaan teknologi untuk pembelajaran dalam kadar tertentu berkaitan dengan capaian yang lebih baik. Persoalannya bukan teknologi atau tanpa teknologi, melainkan untuk apa teknologi digunakan, bagaimana digunakan, dan apakah pengguna masih menguasai perhatiannya sendiri.

Ini membedakan pendidikan digital yang matang dari sekadar digitalisasi pendidikan.

Memindahkan buku ke tablet belum tentu mengubah pembelajaran. Memasang layar di setiap kelas belum tentu membuat anak berpikir lebih dalam.

Teknologi pendidikan seharusnya memperbesar kemampuan manusia untuk belajar, bukan memperkecil kemampuannya untuk memperhatikan.

Jangan-Jangan Sekolah Ikut Menyerah

Namun mudah sekali menyalahkan TikTok, YouTube, permainan daring, atau telepon genggam.

Pertanyaan yang lebih tidak nyaman justru perlu diarahkan kepada kita sendiri.

Apakah pendidikan diam-diam ikut menyerah kepada budaya perhatian pendek?

Karena khawatir anak bosan, setiap pelajaran harus menyenangkan.

Materi dibuat sesingkat mungkin.

Presentasi harus penuh animasi.

Guru merasa bersalah ketika kelas menjadi sunyi.

Anak yang tidak antusias selama beberapa menit dianggap kehilangan engagement. Lalu kita berusaha menghadirkan stimulus baru.

Permainan.

Video.

Kuis.

Animasi.

Ice breaking.

Semuanya tentu dapat berguna.

Tetapi ada bahaya ketika engagement disamakan dengan hiburan.

Sekolah akhirnya ikut berkompetisi dengan media sosial untuk menjadi tempat yang paling menyenangkan.

Padahal pendidikan tidak akan memenangkan perlombaan itu.

Dan memang tidak perlu.

Hak Anak untuk Mengalami Kesulitan

Ada hal-hal yang justru harus dipertahankan sekolah karena semakin jarang diberikan dunia digital: kesunyian, kelambatan, kesulitan, dan kebosanan.

Kata terakhir mungkin terdengar ganjil.

Mengapa anak harus bosan?

Karena tidak semua kebosanan buruk.

Ada kebosanan yang muncul karena pembelajaran memang tidak bermakna. Itu tentu harus diperbaiki.

Tetapi ada pula ketidaknyamanan yang muncul karena pikiran sedang dipaksa bertahan sedikit lebih lama pada sesuatu yang belum dipahami.

Seorang anak membaca satu halaman dan belum mengerti.

Ia membaca kembali.

Seorang siswa menghadapi persoalan matematika dan tidak mengetahui rumus mana yang harus digunakan.

Ia mencoba.

Salah.

Menghapus.

Mencoba lagi.

Pada momen semacam itu, godaan pedagogis kita adalah segera membantu.

Padahal terkadang bantuan terbaik adalah tidak terlalu cepat memberikan bantuan.

Kesulitan yang terkelola bukan musuh pembelajaran. Dalam penelitian mengenai desirable difficulties, Robert Bjork dan Elizabeth Bjork menunjukkan bahwa kondisi belajar yang terasa lebih mudah tidak selalu menghasilkan retensi dan transfer yang lebih baik dalam jangka panjang. Beberapa kesulitan justru dapat memperkuat pembelajaran apabila dirancang secara tepat.

Ini pelajaran penting bagi pendidikan di zaman serba instan.

Belajar yang terasa lancar belum tentu belajar yang mendalam.

Dan belajar yang terasa sulit belum tentu belajar yang buruk.

Dari Attention Span ke Attention Control

Karena itu, mungkin kita perlu berhenti terlalu sibuk menanyakan:

“Berapa menit attention span anak sekarang?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apakah anak mampu mengarahkan kembali perhatiannya ketika perhatiannya terlepas?”

Perhatian bukan sekadar durasi.

Seorang anak dapat menonton film selama dua jam tetapi kesulitan membaca buku selama dua puluh menit. Ia dapat bermain gim selama berjam-jam tetapi kehilangan fokus setelah beberapa menit menghadapi soal pecahan.

Artinya, persoalannya tidak sesederhana memiliki atau tidak memiliki perhatian.

Perhatian berhubungan dengan tujuan, motivasi, stimulus, kebiasaan, lingkungan, dan kemampuan mengendalikan diri.

Maka tugas pendidikan bukan membuat anak fokus kepada satu hal selama mungkin.

Tugasnya adalah membantu anak belajar mengelola perhatian secara sadar.

Kapan harus fokus.

Kapan boleh beristirahat.

Kapan sebuah notifikasi perlu diabaikan.

Kapan pikiran yang mengembara perlu dikembalikan.

Dan kapan sebuah persoalan layak diperjuangkan sedikit lebih lama sebelum mengatakan, “Saya tidak bisa.”

Kelas yang Berani Sunyi

Mungkin kita membutuhkan kembali kelas yang sesekali sunyi. Bukan karena gurunya tidak mengajar, justru karena anak-anak sedang berpikir.

Berikan sebuah persoalan dan jangan segera meminta jawaban.

Biarkan lima menit berlalu.

Biarkan ada wajah yang kebingungan.

Biarkan pensil berhenti.

Biarkan anak mencoba sesuatu yang ternyata salah.

Guru tidak harus segera menyelamatkan setiap kebuntuan. Di dalam jeda itulah sesuatu yang penting sedang dibangun: ketahanan kognitif.

Sekolah perlu menyediakan ruang untuk membaca teks yang sedikit lebih panjang. Menyelesaikan masalah yang jawabannya tidak langsung terlihat. Mendengarkan orang lain sampai selesai. Menulis tanpa berpindah aplikasi. Berdiskusi tanpa telepon genggam berada di tangan.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana.

Tetapi di tengah ekonomi digital yang bernilai miliaran dolar dan dirancang untuk memperebutkan perhatian manusia, kemampuan mempertahankan perhatian barangkali akan menjadi salah satu bentuk kemerdekaan.

Perhatian adalah Persoalan Pendidikan

Karena itu persoalan telepon genggam di sekolah tidak cukup diselesaikan dengan dua pilihan ekstrem: melarang seluruhnya atau membebaskan seluruhnya.

UNESCO mencatat bahwa pada akhir 2024, 79 sistem pendidikan—sekitar 40 persen yang dipantau—telah memiliki hukum atau kebijakan yang melarang penggunaan telepon pintar di sekolah. Namun UNESCO juga menekankan prinsip yang lebih substantif: teknologi di kelas seharusnya digunakan ketika memang mendukung pembelajaran.

OECD pun menemukan bahwa larangan dapat mengurangi distraksi bila benar-benar ditegakkan, tetapi larangan saja tidak otomatis mengajarkan regulasi diri. Bahkan di sekolah yang melarang telepon pintar, cukup banyak siswa masih melaporkan menggunakannya.

Maka yang kita perlukan bukan hanya aturan perangkat, tetapi pendidikan perhatian.

Anak perlu mengetahui bahwa perhatian mempunyai batas.

Bahwa setiap notifikasi mempunyai harga.

Bahwa multitasking tidak selalu berarti produktif.

Bahwa tidak semua kebosanan harus segera disembuhkan dengan hiburan.

Dan bahwa kemampuan duduk bersama sebuah persoalan sampai perlahan-lahan memahaminya merupakan keterampilan yang patut dilatih.

Kemewahan Baru Bernama Fokus

Kita dahulu mengira salah satu tugas besar pendidikan adalah memberikan sebanyak mungkin informasi kepada anak.

Hari ini informasi tersedia hampir tanpa batas.

Yang semakin langka justru kemampuan untuk tinggal cukup lama bersama sebuah informasi agar ia berubah menjadi pengetahuan.

Lebih langka lagi kemampuan tinggal bersama sebuah persoalan sampai pengetahuan berubah menjadi pemahaman.

Mungkin karena itulah kita perlu melihat perhatian secara berbeda.

Perhatian bukan sekadar persoalan anak yang tidak bisa diam di kelas.

Perhatian adalah pintu masuk pembelajaran.

Apa yang tidak memperoleh perhatian sulit dipahami. Apa yang tidak dipahami sulit dipikirkan secara mendalam. Dan apa yang tidak pernah dipikirkan secara mendalam mudah digantikan oleh pendapat yang datang paling cepat dan paling menarik.

Di tengah dunia yang terus berkata, “Lihat ini. Klik ini. Geser ini. Tonton ini,” sekolah perlu menjadi salah satu dari sedikit tempat yang berani mengatakan:

“Tidak perlu terburu-buru. Tinggalkan sebentar dengan persoalan ini.”

Sebab mungkin salah satu bekal terpenting yang dapat diberikan pendidikan kepada generasi mendatang bukan kemampuan mengetahui segala sesuatu.

Melainkan kemampuan menentukan apa yang pantas mendapatkan perhatian mereka—dan apa yang tidak.