Ketika Jawaban Menjadi Murah
Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang berubah secara diam-diam dalam dunia pendidikan kita. Selama berabad-abad, sekolah dibangun di atas satu kelangkaan: pengetahuan. Buku tidak selalu tersedia, guru menjadi sumber utama informasi, dan orang yang mengetahui banyak hal dianggap sebagai orang terdidik.
Hari ini keadaan itu berbalik.
Seorang anak dapat mengetahui luas sebuah lingkaran, sejarah Perang Diponegoro, struktur sel, bahkan meminta penjelasan mengenai teori relativitas hanya dalam hitungan detik. Kecerdasan artifisial membuat jawaban tersedia hampir tanpa jeda. Pengetahuan belum tentu menjadi lebih dalam, tetapi jawaban jelas menjadi semakin murah.
Di sinilah pendidikan menghadapi pertanyaan yang jauh lebih serius daripada sekadar apakah AI boleh digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah: jika mesin dapat memberikan jawaban, untuk apa anak-anak datang ke sekolah?
Pertanyaan tersebut terdengar provokatif. Namun justru karena itulah ia perlu diajukan.
Selama ini sebagian praktik pendidikan kita masih dibangun berdasarkan kemampuan menghasilkan jawaban yang benar. Guru menjelaskan, siswa mencatat. Guru memberikan soal, siswa menjawab. Kemudian sekolah memberikan angka untuk menentukan siapa yang dianggap berhasil.
Model semacam ini dapat bekerja ketika informasi merupakan sesuatu yang langka. Tetapi ketika mesin dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, kemampuan mengingat dan mereproduksi informasi tidak lagi cukup untuk menjadi ukuran keterdidikan seseorang.
Yang menjadi langka sekarang bukanlah jawaban. Yang semakin langka justru kemampuan mengajukan pertanyaan yang baik, menimbang kebenaran, meragukan informasi, membangun argumentasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Di sinilah kita perlu membaca kembali John Dewey. Dalam Democracy and Education (1916), Dewey menempatkan pendidikan bukan sebagai persiapan yang terpisah dari kehidupan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Belajar karena itu tidak cukup berlangsung melalui penerimaan informasi. Anak perlu mengalami, menyelidiki, menghadapi masalah, dan merekonstruksi pengalamannya.
Hampir satu abad kemudian, persoalan itu menjadi semakin relevan.
Anak-anak kita tidak kekurangan informasi. Mereka justru hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari mereka berhadapan dengan video pendek, mesin pencari, media sosial, algoritma rekomendasi, dan kini generative AI. Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, tetapi bagaimana menentukan informasi mana yang layak dipercaya.
Karena itu, paradoks pendidikan abad ini sederhana: semakin cerdas mesin yang berada di sekitar anak, semakin penting kemampuan berpikir anak itu sendiri.
Dari Menjawab Menuju Berpikir
Kita dapat melihat persoalan tersebut dalam pembelajaran matematika.
Selama bertahun-tahun matematika sering dipersepsikan sebagai pelajaran tentang mendapatkan jawaban yang benar. Anak diberikan soal, mencari rumus, melakukan operasi, kemudian memperoleh hasil.
Tetapi kalkulator telah lama mampu menghitung lebih cepat daripada manusia. Kini AI bahkan mampu menunjukkan langkah penyelesaiannya.
Apakah itu berarti belajar matematika kehilangan relevansinya?
Justru sebaliknya.
Matematika menjadi semakin penting apabila kita berhenti memandangnya sekadar sebagai kegiatan berhitung. Nilai pendidikan matematika terletak pada kebiasaan intelektual yang dibentuknya: melihat pola, membuat dugaan, memberikan alasan, menguji kemungkinan, menemukan kesalahan, dan bertahan ketika jawaban tidak segera ditemukan.
Di sini pemikiran George Pólya dalam How to Solve It (1945) tetap menarik. Pemecahan masalah bukan semata-mata mendapatkan hasil akhir. Seseorang perlu memahami masalah, merancang strategi, menjalankannya, kemudian melihat kembali apakah penyelesaiannya masuk akal.
Empat tahap sederhana itu sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sangat manusiawi: jangan terlalu cepat percaya kepada jawaban, bahkan kepada jawaban kita sendiri.
Kemampuan semacam itulah yang semakin penting ketika anak berhadapan dengan AI.
Mesin mungkin dapat memberikan jawaban. Tetapi manusialah yang harus menentukan apakah pertanyaannya tepat, asumsi yang digunakan masuk akal, informasi yang diberikan benar, dan keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.
Pendidikan Bukan Industri Jawaban
Paulo Freire telah mengingatkan persoalan ini jauh sebelum munculnya kecerdasan artifisial. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai banking model of education: pendidikan yang memperlakukan murid seperti wadah kosong tempat pengetahuan disimpan oleh guru.
Kritik tersebut terasa semakin aktual.
Jika tugas sekolah hanya memindahkan informasi dari buku ke kepala anak, mesin akan melakukannya dengan jauh lebih cepat. Jika tugas guru hanya menjelaskan sesuatu yang sudah tersedia di internet, teknologi perlahan dapat mengambil sebagian fungsi itu.
Tetapi pendidikan tidak pernah sesederhana pemindahan informasi.
Guru bukan sekadar penyampai jawaban. Guru menghadirkan sesuatu yang tidak dimiliki algoritma: relasi pedagogis. Ia membaca keraguan di wajah seorang anak, mengetahui kapan harus memberi bantuan dan kapan harus membiarkannya berjuang, menumbuhkan keberanian ketika anak takut salah, serta mengajarkan bahwa pengetahuan membawa konsekuensi moral.
Karena itu, hadirnya AI seharusnya tidak membuat kita sibuk mempertanyakan apakah teknologi akan menggantikan guru. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: bagian mana dari pekerjaan guru yang memang seharusnya kita serahkan kepada teknologi agar guru dapat kembali menjadi pendidik?
Administrasi dapat dipermudah. Materi dapat dicari. Latihan dapat dibuat secara otomatis. Tetapi dialog, keteladanan, empati, penilaian moral, dan pembentukan karakter tetap merupakan wilayah kemanusiaan.
Sekolah sebagai Ruang Menjadi Manusia
Ki Hadjar Dewantara memberikan landasan yang bahkan lebih mendasar. Pendidikan baginya berkaitan dengan proses menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.
Kata pentingnya adalah menuntun.
Anak bukan bahan baku industri pendidikan. Ia bukan angka dalam rapor, bukan peringkat sekolah, bahkan bukan sekadar calon tenaga kerja yang harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Ia adalah manusia yang sedang bertumbuh.
Karena itu sekolah masa depan tidak boleh berubah menjadi tempat anak berlomba dengan mesin. Perlombaan itu sejak awal tidak seimbang. Mesin akan menghitung lebih cepat, mengingat lebih banyak, dan mengolah informasi dalam skala yang tidak mungkin ditandingi manusia.
Tugas pendidikan justru menemukan apa yang tidak perlu kita perlombakan dengan mesin.
Imajinasi. Kebijaksanaan. Keberanian moral. Empati. Rasa ingin tahu. Kemampuan bekerja bersama. Kesanggupan menerima kegagalan. Dan kemampuan mempertanyakan sesuatu yang dianggap benar oleh banyak orang.
Semua itu sulit dimasukkan ke dalam tabel nilai. Tetapi justru di sanalah pendidikan menemukan kembali maknanya.
Guru yang Berani Mengatakan “Saya Tidak Tahu”
Mungkin salah satu perubahan paling penting dalam pendidikan masa depan adalah perubahan posisi guru.
Kita terlalu lama membangun citra guru sebagai orang yang harus mengetahui semua jawaban. Akibatnya, kelas sering menjadi ruang tempat pertanyaan bergerak satu arah: guru bertanya, siswa menjawab.
Padahal kelas yang hidup justru dapat dimulai ketika seorang guru berani mengatakan, “Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama.”
Kalimat sederhana itu mengubah struktur pembelajaran.
Guru tidak kehilangan kewibawaan. Sebaliknya, ia sedang memperlihatkan kepada anak bagaimana seorang manusia terdidik menghadapi ketidaktahuan: bukan dengan berpura-pura tahu, tetapi dengan rasa ingin tahu.
Bukankah demikian hakikat ilmu pengetahuan?
Ilmu tidak berkembang karena manusia memiliki semua jawaban. Ilmu berkembang karena manusia terus menemukan pertanyaan baru.
Karena itu kita mungkin perlu membalik salah satu kebiasaan lama sekolah. Jangan hanya menilai anak berdasarkan berapa banyak pertanyaan yang dapat ia jawab. Sesekali, nilailah berdasarkan seberapa baik pertanyaan yang mampu ia ajukan.
Sebab kualitas pikiran seseorang sering kali terlihat bukan dari jawabannya, melainkan dari pertanyaannya.
Pendidikan Setelah Era Jawaban
Kehadiran AI pada akhirnya memaksa pendidikan melakukan sesuatu yang selama ini kerap kita tunda: kembali mempertanyakan tujuan pendidikan itu sendiri.
Kita tentu tetap membutuhkan literasi, numerasi, sains, sejarah, bahasa, dan berbagai disiplin ilmu. Pengetahuan dasar tidak menjadi tidak penting hanya karena tersedia di internet. Seseorang justru membutuhkan pengetahuan untuk dapat menilai apakah informasi yang diberikan mesin masuk akal.
Namun pengetahuan harus bergerak lebih jauh: dari mengetahui menuju memahami; dari memahami menuju mempertanyakan; dari mempertanyakan menuju mencipta; dan dari mencipta menuju kebijaksanaan menggunakan pengetahuan.
Di situlah pendidikan memperoleh kembali martabatnya.
Sekolah tidak perlu menjadi tempat yang menyediakan semua jawaban. Dunia digital sudah melakukannya.
Sekolah harus menjadi tempat seorang anak belajar apa yang layak ditanyakan, bagaimana mencari kebenaran, bagaimana hidup bersama orang yang berbeda, dan untuk apa pengetahuan digunakan.
Maka, tantangan terbesar pendidikan kita mungkin bukan mempersiapkan anak menghadapi kecerdasan artifisial.
Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa di tengah mesin yang semakin menyerupai manusia, anak-anak kita tidak kehilangan kesempatan untuk sungguh-sungguh menjadi manusia.

