Konten dari Pengguna

Ketika Semua Orang Menjadi Pengamat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Semua Orang Menjadi Pengamat (Diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Semua Orang Menjadi Pengamat (Diolah Oleh Penulis)

Kita sedang hidup pada zaman yang agak ganjil.

Pengetahuan manusia belum pernah tersedia sebanyak sekarang. Jurnal ilmiah dapat diakses dari telepon genggam. Kuliah profesor dari universitas terbaik dapat ditonton dari kamar tidur. Laporan lembaga internasional tersedia dalam hitungan detik. Kecerdasan artifisial bahkan dapat membantu seseorang memahami istilah yang beberapa menit sebelumnya belum pernah ia dengar.

Tetapi bersamaan dengan melimpahnya pengetahuan, muncul gejala lain yang paradoksal: semakin mudah memperoleh informasi, semakin kabur pula batas antara mengetahui sesuatu dan mempunyai kepakaran tentang sesuatu.

Hari ini hampir semua orang dapat menjadi pengamat.

Pagi berbicara tentang geopolitik. Siang membahas kebijakan pendidikan. Sore menjelaskan epidemiologi. Malam menganalisis kecerdasan artifisial. Besok pagi mungkin sudah berpindah menjadi pengamat ekonomi.

Semuanya dapat dilakukan dengan percaya diri di depan kamera.

Kita tentu tidak boleh meremehkan demokratisasi pengetahuan. Selama berabad-abad, pengetahuan dikuasai oleh kelompok yang mempunyai akses terhadap sekolah, perpustakaan, universitas, atau lembaga tertentu. Internet meruntuhkan banyak tembok itu. Ini salah satu pencapaian besar peradaban digital.

Masalahnya muncul ketika kita gagal membedakan dua hal: demokratisasi akses terhadap pengetahuan dan demokratisasi kepakaran.

Setiap orang berhak memperoleh informasi.

Tetapi akses terhadap informasi tidak otomatis menjadikan semua orang sama-sama ahli.

Mengetahui Tidak Sama dengan Memahami

Tom Nichols dalam The Death of Expertise (2017) menggambarkan ketegangan antara meningkatnya akses publik terhadap informasi dan menurunnya penghargaan terhadap pengetahuan profesional. Ia mengkritik kecenderungan ketika pendapat personal ditempatkan seolah memiliki bobot epistemik yang sama dengan pengetahuan yang dibangun melalui pendidikan, pengalaman, dan pengujian.

Tentu pakar bukan manusia yang tidak pernah salah.

Dokter dapat salah diagnosis. Ekonom dapat keliru membuat proyeksi. Profesor dapat mempertahankan teori yang kemudian terbantahkan. Sejarah ilmu pengetahuan justru berkembang karena pendapat para ahli terus diperiksa dan dikoreksi.

Namun kemungkinan seorang pakar salah tidak berarti kepakaran tidak mempunyai nilai.

Ada kekeliruan logika yang sering terjadi dalam percakapan publik: karena ahli bisa salah, maka pendapat siapa pun dianggap sama berharganya.

Padahal kepakaran bukan jaminan bahwa seseorang selalu benar.

Kepakaran adalah alasan mengapa sebuah pendapat layak diberi bobot lebih besar pada bidang tertentu, terutama ketika pendapat itu didukung bukti dan terbuka terhadap pengujian.

Seorang profesor kedokteran dan seseorang yang baru membaca tiga utas media sosial sama-sama dapat keliru tentang penyakit.

Tetapi keduanya tidak berangkat dari kedalaman pengetahuan yang sama.

Perbedaan itu semakin sulit terlihat dalam masyarakat digital karena layar membuat semua orang tampak setara.

Ukuran foto profil sama.

Kolom komentarnya sama.

Tombol share-nya sama.

Yang berbeda hanya satu hal yang tidak terlihat di layar: berapa lama seseorang telah bergulat dengan persoalan yang sedang dibicarakannya.

Kepakaran Itu Lambat

Kita jarang membicarakan satu karakter penting dari kepakaran: ia membutuhkan waktu.

Seorang ahli tidak dibentuk oleh satu buku.

Tidak juga oleh satu seminar.

Apalagi oleh beberapa video berdurasi satu menit.

Kepakaran tumbuh dari proses yang membosankan: membaca, berlatih, melakukan kesalahan, menerima koreksi, mengulang, meneliti, berdiskusi dengan orang yang mengetahui lebih banyak, dan bertahun-tahun hidup bersama sebuah persoalan.

Karena itu kepakaran pada dasarnya tidak cocok dengan budaya yang menginginkan segala sesuatu dengan segera.

Media sosial bekerja dengan logika berbeda.

Ia menghargai kecepatan.

Sebuah peristiwa terjadi pukul 08.00.

Pukul 08.15 publik sudah meminta penjelasan.

Pukul 08.30 kamera dinyalakan.

Pukul 09.00 analisis harus tersedia.

Padahal pengetahuan yang serius terkadang membutuhkan kalimat yang sangat tidak menarik bagi algoritma:

“Saya belum tahu.”

Kalimat itu terdengar lemah.

Namun dalam ilmu pengetahuan, kemampuan mengatakan “saya belum tahu” justru dapat menjadi tanda kedewasaan intelektual.

Pakar mengetahui bukan hanya apa yang diketahuinya.

Ia juga, idealnya, mengetahui batas dari apa yang diketahuinya.

Ketika Percaya Diri Mengalahkan Kompetensi

Di sinilah penelitian Justin Kruger dan David Dunning (1999) sering disebut. Temuan mereka menunjukkan bahwa pada sejumlah tugas, peserta dengan performa rendah juga mengalami kesulitan menilai secara akurat kualitas performanya sendiri.

Fenomena ini kemudian populer dengan nama Dunning–Kruger effect.

Sayangnya, istilah itu sering disederhanakan menjadi olok-olok: “orang bodoh selalu merasa paling pintar.”

Itu bukan pembacaan yang tepat.

Pelajaran yang lebih penting justru bersifat epistemologis: kompetensi tertentu dibutuhkan bukan hanya untuk melakukan sesuatu dengan baik, tetapi juga untuk menilai seberapa baik kita melakukannya.

Orang yang baru mempelajari sebuah bidang sering belum mengetahui luasnya wilayah yang belum ia ketahui.

Semakin dalam seseorang belajar, semakin banyak pula kerumitan yang mulai terlihat.

Itulah sebabnya seorang pakar sering berbicara dengan banyak syarat:

“Data yang tersedia menunjukkan...”

“Dalam konteks tertentu...”

“Bukti sejauh ini belum cukup...”

“Ada beberapa kemungkinan...”

Sementara orang yang baru mengenal persoalan justru dapat terdengar jauh lebih meyakinkan:

“Sudah jelas.”

“Pasti karena ini.”

“Solusinya gampang.”

Masalahnya, media sosial lebih mudah memberikan hadiah kepada kalimat kedua.

Kepastian lebih mudah viral daripada kehati-hatian.

Algoritma Tidak Memeriksa Gelar Doktor

Algoritma mempunyai ukuran keberhasilannya sendiri.

Apakah orang berhenti menggulir?

Apakah mereka menonton?

Apakah mereka berkomentar?

Apakah mereka membagikan?

Algoritma tidak dengan sendirinya bertanya apakah seseorang telah membaca literatur selama dua puluh tahun sebelum berbicara.

Akibatnya terjadi perubahan menarik dalam produksi otoritas.

Dahulu seseorang memperoleh otoritas setelah diakui karena pengetahuan atau pengalamannya.

Sekarang seseorang dapat terlihat mempunyai otoritas karena mempunyai perhatian publik.

Keduanya tidak selalu sama.

Kita mulai mencampuradukkan visibility dengan credibility.

Yang sering terlihat dianggap penting.

Yang berbicara lancar dianggap memahami.

Yang mempunyai jutaan pengikut dianggap layak berbicara mengenai hampir segala sesuatu.

Padahal jumlah pengikut adalah ukuran perhatian, bukan satuan kompetensi.

Seratus ribu likes tidak dapat mengubah argumen yang buruk menjadi benar.

Dan satu juta followers bukan gelar akademik.

Zaman Ketika Jawaban Dapat Diproduksi

Kecerdasan artifisial membuat persoalan ini memasuki tahap baru.

Dahulu seseorang setidaknya harus membaca beberapa sumber sebelum dapat terdengar cukup pintar mengenai suatu topik.

Sekarang sebuah mesin dapat membantu menghasilkan penjelasan, argumen, istilah teknis, bahkan daftar referensi dalam beberapa detik.

Ini merupakan kemajuan luar biasa.

Tetapi muncul kemungkinan baru yang perlu kita waspadai: jarak antara terlihat mengetahui dan benar-benar mengetahui menjadi semakin lebar.

Seseorang dapat menghasilkan tulisan yang tampak sangat meyakinkan mengenai persoalan yang tidak benar-benar dipahaminya.

Bahasanya rapi.

Istilahnya tepat.

Strukturnya akademis.

Referensinya banyak.

Tetapi ketika satu asumsi dipertanyakan, seluruh bangunan argumentasinya dapat runtuh.

Karena itulah pada zaman AI, kepakaran tidak menjadi kurang penting.

Justru sebaliknya.

Ketika jawaban menjadi murah, kemampuan menilai jawaban menjadi mahal.

Dari Kebenaran Menuju Perhatian

Filsuf Harry Frankfurt pernah membedakan kebohongan dari apa yang ia sebut bullshit dalam esainya yang kemudian diterbitkan sebagai On Bullshit (2005).

Seorang pembohong masih mempunyai hubungan dengan kebenaran. Ia mengetahui atau setidaknya memedulikan apa yang benar, lalu berusaha menutupinya.

Yang lebih berbahaya bagi Frankfurt adalah pembicaraan yang tidak terlalu peduli apakah sesuatu benar atau salah. Tujuan utamanya adalah menghasilkan kesan tertentu.

Konsep ini terasa relevan dengan ekologi informasi hari ini.

Tidak semua informasi buruk lahir dari niat berbohong.

Sebagian muncul karena seseorang merasa harus mempunyai pendapat mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak dikuasainya.

Kamera sudah menyala.

Timeline sedang ramai.

Topiknya sedang trending.

Maka sesuatu harus dikatakan.

Akibatnya ruang publik dipenuhi bukan hanya oleh informasi yang benar dan salah, tetapi juga oleh pendapat yang tidak pernah melewati proses untuk mengetahui apakah ia layak diucapkan.

Namun Pakar Juga Harus Bercermin

Meski demikian, menyalahkan publik saja terlalu mudah.

Ada alasan mengapa sebagian masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kepakaran.

Pakar terkadang berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami sesama pakar. Institusi ilmu kadang terlalu jauh dari persoalan sehari-hari masyarakat. Konflik kepentingan tidak selalu disampaikan secara terbuka. Dan sejarah menyediakan contoh ketika konsensus profesional ternyata harus direvisi.

Kepakaran yang meminta kepercayaan tanpa keterbukaan justru dapat melahirkan kecurigaan.

Karena itu jawaban terhadap pudarnya kepakaran bukan mengembalikan masyarakat kepada zaman ketika profesor berbicara dan semua orang harus diam.

Demokratisasi pengetahuan harus tetap dipertahankan.

Publik berhak bertanya.

Mahasiswa berhak mengkritik profesor.

Pasien berhak meminta second opinion.

Warga berhak mempertanyakan kebijakan yang dibuat berdasarkan pendapat ahli.

Tetapi kritik yang sehat berbeda dari anggapan bahwa semua pendapat mempunyai bobot pengetahuan yang sama.

Demokrasi memberikan hak bicara yang sama.

Ia tidak otomatis memberikan kompetensi yang sama.

Pendidikan Epistemik

Di sinilah sekolah dan universitas menghadapi tugas baru.

Selama ini pendidikan banyak mengajarkan siswa untuk mencari informasi.

Sekarang persoalannya bukan lagi kekurangan informasi.

Kita tenggelam di dalamnya.

Yang semakin penting adalah kemampuan menentukan:

Siapa yang berbicara?

Apa keahliannya?

Apa buktinya?

Apakah sumber tersebut dapat diperiksa?

Apakah ada konflik kepentingan?

Apa yang dikatakan sumber lain?

Seberapa kuat kesimpulannya dibandingkan dengan bukti yang tersedia?

Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit:

Apa yang dapat membuat saya mengubah pikiran?

Dan Sperber dan koleganya menyebut kemampuan manusia mengevaluasi informasi dari orang lain sebagai epistemic vigilance: kewaspadaan terhadap isi pesan sekaligus sumber yang menyampaikannya.

Dalam masyarakat digital, kemampuan semacam itu bukan lagi kemewahan intelektual.

Ia menjadi literasi dasar.

Anak-anak tidak cukup diajarkan cara mencari jawaban.

Mereka perlu diajarkan bagaimana menentukan jawaban mana yang pantas dipercaya.

Mengembalikan Kehormatan pada “Saya Tidak Tahu”

Mungkin ada satu kebiasaan kecil yang perlu kita hidupkan kembali.

Keberanian mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Kita terlalu sering menganggap tiga kata itu sebagai pengakuan kelemahan.

Padahal hampir seluruh ilmu pengetahuan dimulai dari sana.

“Saya tidak tahu, tetapi saya akan mencari.”

“Saya tidak cukup memahami bidang itu.”

“Data yang tersedia belum memungkinkan kesimpulan.”

“Saya perlu membaca lebih banyak sebelum berpendapat.”

Bayangkan jika kalimat-kalimat seperti itu kembali memperoleh penghargaan dalam ruang publik.

Kita mungkin mempunyai lebih sedikit komentar.

Tetapi mungkin kita akan mempunyai percakapan yang lebih bermutu.

Persoalan zaman kita, karena itu, bukan semata-mata bahwa jumlah pakar berkurang.

Para ahli tetap ada di universitas, laboratorium, rumah sakit, sekolah, lembaga penelitian, industri, dan berbagai profesi.

Yang berubah adalah rasio antara kepakaran dan kebisingan di sekelilingnya.

Dahulu persoalannya adalah bagaimana memperoleh informasi.

Hari ini persoalannya adalah bagaimana mengenali pengetahuan di tengah banjir pendapat.

Semua orang tentu boleh berbicara.

Semua orang boleh bertanya.

Semua orang boleh mengkritik.

Itulah keuntungan hidup dalam masyarakat terbuka.

Tetapi mungkin kita perlu kembali belajar satu kebijaksanaan sederhana:

hak untuk mempunyai pendapat tidak sama dengan kewajiban untuk mempunyai pendapat tentang segala sesuatu.

Sebab pada zaman ketika semua orang dapat menjadi pengamat, yang semakin langka bukan orang yang mampu berbicara.

Yang semakin langka adalah orang yang telah belajar cukup lama untuk mengetahui kapan ia layak berbicara—dan kapan sebaiknya ia masih mendengarkan.