Ketika Televisi Kalah oleh Algoritma
Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu orang tua mempunyai satu musuh yang cukup jelas di ruang keluarga: televisi.
“Jangan nonton TV terus.”
Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling sering didengar anak-anak yang tumbuh pada dekade 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an.
Televisi dituduh membuat anak malas membaca. Terlalu banyak menonton dianggap membuat anak pasif. Acara televisi dikhawatirkan membawa kekerasan, konsumerisme, dan nilai-nilai yang tidak selalu sesuai dengan keluarga.
Kekhawatiran itu tidak seluruhnya keliru.
Tetapi beberapa dekade kemudian, kita mungkin perlu melihat televisi dengan cara yang sedikit berbeda.
Bukan karena televisi dulu ternyata baik-baik saja.
Melainkan karena kita baru menyadari sesuatu setelah datang media yang jauh lebih canggih.
Televisi mempunyai remote.
Algoritma mempunyai kita.
Televisi memang memilihkan acara. Tetapi ia tidak mengenal siapa yang sedang menonton.
Ia tidak tahu bahwa seorang anak menyukai sepak bola.
Tidak tahu ia berhenti lebih lama ketika melihat video tertentu.
Tidak mencatat video mana yang ia putar ulang.
Tidak mengetahui kapan ia bosan.
Tidak mempelajari apa yang membuatnya marah, tertawa, takut, penasaran, atau terus bertahan di depan layar.
Televisi hanya menyiarkan.
Platform digital melakukan sesuatu yang berbeda: ia belajar dari penontonnya.
Dan dari situlah perubahan besar dalam sejarah menonton dimulai.
Ketika Kita Menonton Hal yang Sama
Ada pengalaman masa kecil yang semakin sulit dijelaskan kepada anak-anak hari ini.
Menunggu.
Jika kartun kesukaan tayang Minggu pukul tujuh pagi, kita harus bangun Minggu pukul tujuh pagi.
Terlambat lima belas menit berarti kehilangan lima belas menit.
Tidak ada rewind.
Tidak ada watch later.
Tidak ada on demand.
Tidak ada algoritma yang berkata, “Karena Anda menonton ini, mungkin Anda juga menyukai yang berikut.”
Dan ketika acara selesai, ia benar-benar selesai.
Ada hal lain yang sekarang terasa asing.
Jutaan orang dapat menonton acara yang sama.
Besok di sekolah, orang membicarakan pertandingan yang sama, sinetron yang sama, kartun yang sama, atau adegan yang sama.
Raymond Williams, teoritikus media asal Wales, pada 1974 memperkenalkan gagasan flow untuk menjelaskan karakter khas televisi: program-program disusun dalam aliran siaran yang telah ditentukan oleh lembaga penyiaran.
Penonton memang dapat mengganti kanal.
Tetapi pilihan tetap berada dalam suatu struktur yang sama.
Ada jadwal.
Ada awal.
Ada akhir.
Ada sesuatu yang disaksikan bersama.
Tentu, kita tidak perlu meromantisasi masa tersebut.
Televisi komersial juga mengejar rating.
Program buruk tetap ada.
Iklan memburu perhatian.
Anak dapat menghabiskan berjam-jam di depan layar.
Namun televisi mempunyai satu karakter yang belakangan justru semakin langka:
ia tidak terlalu mengenal kita.
Layar yang Mengenal Pemiliknya
Bandingkan dengan seorang anak hari ini.
Ia membuka sebuah platform video.
Layar anak pertama berbeda dari layar anak kedua.
Dua anak yang duduk bersebelahan dapat membuka aplikasi yang sama dan memasuki dua dunia yang sama sekali berbeda.
Yang satu melihat sepak bola.
Yang lain melihat gaming.
Yang lain lagi memperoleh video kecantikan.
Kemudian teori konspirasi.
Potongan film.
Video eksperimen.
Prank.
Politik.
Kucing.
Motivasi.
Apa pun yang oleh sistem dianggap mempunyai kemungkinan membuat jempol berhenti menggulir.
Inilah salah satu transformasi terpenting dari media kontemporer.
Dulu pertanyaannya:
“Acara apa yang sedang tayang?”
Sekarang:
“Apa yang sedang direkomendasikan kepadaku?”
Perbedaannya tampak kecil.
Sesungguhnya sangat besar.
Sistem rekomendasi memang mempunyai manfaat nyata. Di tengah lautan informasi, manusia membutuhkan mekanisme untuk memilah sesuatu yang relevan. Editorial Nature Machine Intelligence pada 2023 menggambarkan sistem rekomendasi sebagai mekanisme untuk menyaring jumlah konten yang sangat besar agar pengguna menemukan sesuatu yang relevan dan menarik.
Tetapi personalisasi membawa persoalan baru.
Apa yang paling relevan bagi kita belum tentu sama dengan apa yang paling perlu kita ketahui.
Apa yang membuat kita bertahan belum tentu sama dengan apa yang membuat kita bertumbuh.
Dan apa yang kita sukai hari ini dapat menjadi data untuk menentukan apa yang akan kita lihat besok.
Di sinilah algoritma tidak lagi hanya mengantarkan konten.
Ia ikut membentuk lingkungan pengalaman kita.
Dulu Orang Tua Bisa Melihat Apa yang Kita Tonton
Ada satu perbedaan lain yang jarang dibicarakan.
Ukuran layar.
Televisi biasanya berada di ruang keluarga.
Ketika seorang anak menonton, orang tua kurang lebih tahu apa yang sedang ditonton.
Ayah lewat.
Ibu duduk sebentar.
Kakak berkomentar.
Kadang-kadang terjadi percakapan spontan.
“Kenapa orang itu begitu?”
“Itu di negara mana?”
“Jangan ditiru.”
“Lucu juga.”
Bahkan ketika keluarga tidak sengaja melakukan pendidikan media, layar yang sama menciptakan peluang percakapan yang sama.
Literatur kemudian mengenalnya sebagai co-viewing dan, dalam konteks media baru, joint media engagement.
Lori Takeuchi dan Reed Stevens (2011) memperluas konsep co-viewing menjadi joint media engagement: pengalaman media dapat menjadi aktivitas bersama ketika anak, orang tua, saudara, teman, atau guru ikut terlibat dan berbicara mengenai apa yang mereka saksikan.
Ini bukan berarti menonton televisi bersama otomatis membuat keluarga harmonis.
Sonia Livingstone (2009), ketika meninjau setengah abad penelitian tentang televisi dan anak, bahkan mengingatkan bahwa berada secara fisik di depan televisi yang sama tidak otomatis berarti mempunyai kedekatan emosional.
Tetapi setidaknya layar itu terlihat.
Smartphone mengubah arsitektur tersebut.
Layarnya kecil.
Personal.
Dipegang dekat dengan wajah.
Sering menggunakan earphone.
Dan dapat dibawa ke kamar.
Akibatnya, seorang anak dapat menghabiskan satu jam bersama keluarga secara fisik sambil berada dalam dunia media yang tidak diketahui siapa pun di meja yang sama.
Kita tinggal di rumah yang sama.
Tetapi mungkin tidak lagi menonton dunia yang sama.
Televisi Memotong Acara, Algoritma Menghilangkan Akhir
Ada satu hal yang sangat sederhana dari televisi lama.
Acara selesai.
Muncul credit title.
Lalu iklan.
Kemudian program lain.
Batas-batas itu menjengkelkan, tetapi mempunyai fungsi psikologis yang sekarang semakin jarang: memberikan kesempatan untuk berhenti.
Platform digital dirancang dengan logika berbeda.
Autoplay.
Infinite scroll.
Next video.
For You.
Satu video selesai, video berikutnya telah tersedia.
Bahkan kita tidak perlu memutuskan untuk melanjutkan.
Untuk berhentilah kita justru harus mengambil keputusan.
Perubahan kecil dalam arsitektur pilihan ini penting.
Sebuah dokumen OECD pada 2025 mengenai student agency pada era AI bahkan menyoroti pentingnya membuat arsitektur pilihan terlihat bagi anak. Anak perlu memperoleh momen untuk secara sadar memilih langkah berikutnya, alih-alih terus dibawa maju oleh autoplay atau jalur tunggal yang sudah disediakan sistem.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apa yang ditonton.
Persoalannya juga siapa yang menentukan kapan menonton berhenti.
Televisi mempunyai kekurangan karena kita harus menunggu.
Media algoritmik mempunyai persoalan sebaliknya:
kita hampir tidak pernah dipaksa menunggu.
Dari Program Menjadi Potongan
Perubahan lain sedang terjadi pada bentuk tontonan.
Laporan Children's Media Lives 2025 dari Ofcom mencatat pergeseran menarik pada kehidupan media anak. Banyak konsumsi media anak berlangsung di platform sosial, dengan kecenderungan pada video pendek, cepat, keras, penuh potongan, dan sering kehilangan konteks. Bahkan potongan acara televisi dapat dikonsumsi sebagai klip sekitar sepuluh detik di dalam feed.
Ini mengubah cara sebuah cerita dialami.
Film meminta kita mengikuti awal.
Mengenal tokoh.
Memahami konflik.
Menunggu perkembangan.
Mengikuti akhir.
Video pendek tidak selalu membutuhkan semua itu.
Ia harus segera mendapatkan perhatian.
Beberapa detik pertama menjadi menentukan.
Maka lahirlah estetika baru.
Potongan cepat.
Tulisan besar.
Suara keras.
Wajah terkejut.
Zoom.
Musik.
Hook.
Kejutan.
Lalu video berikutnya.
Masalahnya bukan bahwa video pendek selalu buruk.
Video satu menit dapat mengajarkan sesuatu yang luar biasa.
Video satu jam dapat pula berisi omong kosong.
Durasi bukan ukuran kualitas.
Tetapi ada kemampuan mental tertentu yang hanya tumbuh jika manusia sesekali bersedia tinggal cukup lama bersama sesuatu.
Mengikuti argumen.
Membaca cerita panjang.
Mendengarkan orang sampai selesai.
Menunggu konflik berkembang.
Menghadapi beberapa menit yang tidak terlalu menarik sebelum memahami keseluruhan.
Pendidikan membutuhkan kemampuan itu.
Ironi: Televisi Kembali, tetapi Bukan Televisi yang Sama
Yang menarik, televisi sebagai benda ternyata belum mati.
Ofcom melaporkan pada 2025 bahwa YouTube semakin banyak ditonton melalui pesawat televisi. Di Inggris, satu dari lima anak usia 4–15 tahun bahkan langsung menuju YouTube ketika televisi dinyalakan. YouTube telah menjadi salah satu layanan paling banyak ditonton di rumah.
Pada 2026, kecenderungan itu berlanjut: waktu menonton YouTube melalui pesawat televisi meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Ini sebuah ironi.
Layar besar kembali.
Sofa masih ada.
Ruang keluarga masih ada.
Tetapi televisinya telah berubah.
Dulu satu pesawat televisi menerima siaran yang sama bagi siapa pun yang duduk di depannya.
Sekarang televisi dapat menjadi sekadar pintu besar menuju dunia personalisasi.
Karena itu perdebatan “TV versus internet” semakin tidak relevan.
YouTube dapat hadir di TV.
Televisi dapat ditonton melalui ponsel.
Film dapat dipotong menjadi TikTok.
Podcast dapat ditonton seperti acara televisi.
Batas medianya mencair.
Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi:
“Anak menonton lewat perangkat apa?”
Melainkan:
“Logika apa yang mengatur apa yang muncul di hadapannya?”
Jangan Salahkan Algoritma untuk Segalanya
Namun kita juga harus berhati-hati.
Mudah sekali menjadikan algoritma penjahat baru.
Seolah-olah manusia sepenuhnya tidak berdaya dan mesin menentukan seluruh pandangan kita.
Penelitian tidak sesederhana itu.
Studi Ronald Robertson dan kolega yang diterbitkan di Nature pada 2023, misalnya, menemukan dalam konteks Google Search di Amerika Serikat bahwa pilihan pengguna sendiri berperan penting dalam konsumsi berita partisan; pengguna memilih konten yang lebih partisan dibandingkan dengan paparan hasil pencarian yang mereka terima.
Artinya, manusia bukan korban pasif.
Kita juga memilih.
Kita mengklik.
Kita mengikuti.
Kita melewati.
Kita mencari.
Dan pilihan-pilihan itulah yang kemudian menjadi data bagi sistem.
Hubungan manusia dengan algoritma lebih tepat dibayangkan sebagai lingkaran umpan balik.
Kita melatih algoritma dengan perilaku kita.
Algoritma kemudian membentuk lingkungan pilihan kita.
Kita memilih lagi dari lingkungan tersebut.
Sistem belajar lagi.
Karena itu literasi digital tidak cukup jika hanya mengajarkan:
“Jangan percaya hoaks.”
Anak juga perlu memahami:
“Mengapa video ini muncul di layar saya?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin menjadi salah satu pertanyaan literasi terpenting abad ini.
Rumah Membutuhkan Layar yang Bisa Dibicarakan
Maka solusi kita bukan kembali ke televisi tabung.
Bukan pula melarang semua algoritma.
Personalisasi mempunyai banyak manfaat. Anak dapat menemukan tutorial, musik, pengetahuan, komunitas, dan minat yang mungkin tidak pernah tersedia di televisi konvensional.
Yang perlu kita pulihkan adalah sesuatu yang perlahan hilang ketika layar menjadi semakin personal:
pengalaman media sebagai pengalaman sosial.
Sesekali tonton sesuatu bersama anak.
Bukan untuk mengawasi seperti polisi.
Tonton.
Tertawa.
Bertanya.
Tidak setuju.
Berkomentar.
“Menurutmu kenapa dia bilang begitu?”
“Ini iklan atau bukan?”
“Dari mana kita tahu informasi ini benar?”
“Kenapa video seperti ini terus muncul?”
“Kalau kita klik video berbeda, kira-kira rekomendasinya berubah tidak?”
Saat itulah algoritma yang tadinya tidak terlihat menjadi objek pembicaraan.
Anak mulai memahami bahwa feed bukan jendela netral menuju dunia.
Ia adalah hasil seleksi.
Dan setiap seleksi mempunyai logika.
Kita Kehilangan Sesuatu Ketika Semua Menjadi Personal
Generasi televisi mempunyai kekurangannya sendiri.
Pilihan sedikit.
Informasi terbatas.
Penonton relatif pasif.
Stasiun televisi mempunyai kekuasaan besar menentukan apa yang layak dilihat.
Kita tidak perlu kembali ke sana.
Namun era algoritma mempunyai persoalan yang berlawanan.
Pilihan hampir tak terbatas.
Konten tidak pernah selesai.
Setiap orang memperoleh layar yang berbeda.
Dan sistem semakin pintar mempelajari apa yang membuat masing-masing dari kita bertahan.
Dulu satu keluarga memperebutkan remote.
Sekarang setiap orang mempunyai layar sendiri.
Konfliknya selesai.
Tetapi mungkin percakapannya ikut menghilang.
Ayah menonton satu dunia.
Ibu melihat dunia lain.
Anak pertama mempunyai feed-nya.
Anak kedua mempunyai feed-nya sendiri.
Tidak ada yang bertengkar menentukan saluran.
Semuanya damai.
Semuanya diam.
Semuanya menunduk.
Dan barangkali di situlah paradoks terbesar media modern.
Kita berhasil menciptakan teknologi yang semakin sempurna memahami apa yang disukai setiap individu.
Tetapi semakin sedikit alasan bagi individu-individu itu untuk melihat sesuatu yang sama.
Mungkin rumah masa depan tidak membutuhkan lebih banyak layar.
Ia membutuhkan lebih banyak pengalaman ketika sebuah layar menjadi milik bersama.
Bukan agar kita kembali ke masa lalu.
Melainkan agar anak-anak memahami bahwa dunia jauh lebih luas daripada apa yang dipilihkan oleh feed mereka.
Sebab dulu televisi menentukan apa yang kita tonton.
Hari ini kita merasa menentukan sendiri apa yang ingin kita tonton.
Padahal, di antara keduanya telah hadir pihak ketiga yang bekerja tanpa suara: sebuah sistem yang terus belajar dari setiap klik, jeda, like, pencarian, dan guliran kita.
Karena itu tantangan pendidikan media hari ini bukan sekadar mengajari anak memilih tontonan yang baik.
Kita harus mengajari mereka memahami bagaimana tontonan memilih mereka

