The Vanishing Middle: Ruang Tengah yang Hilang dari Kelas Kita
Tulisan dari Muhammad Rijal W Muharram tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu jawaban siswa yang sering membuat guru tidak sabar:
“Saya belum yakin, Bu.”
Guru bertanya, siswa diharapkan menjawab.
Benar atau salah.
Bisa atau tidak bisa.
Tahu atau tidak tahu.
Lalu nilai diberikan.
Percakapan selesai.
Kita telah membangun sistem pendidikan yang sangat terampil membedakan jawaban benar dan salah. Tetapi mungkin kita kurang menyediakan tempat bagi sesuatu yang sebenarnya sangat penting dalam proses belajar:
ruang di antara keduanya.
Ruang ketika anak belum tahu, tetapi sedang mencoba memahami.
Ruang ketika ia mempunyai dugaan, tetapi belum mempunyai cukup bukti.
Ruang ketika ia salah, lalu menyadari kesalahannya.
Ruang ketika ia menemukan bahwa jawaban temannya lebih masuk akal.
Ruang ketika ia mengatakan, “Tadi saya berpikir begini, tetapi sekarang saya berubah pikiran.”
Ruang semacam itu semakin penting.
Namun justru itulah yang perlahan menghilang dari kelas kita.
Saya menyebutnya the vanishing middle.
Kelas yang Terlalu Menyukai Kepastian
Perhatikan percakapan sederhana dalam kelas matematika.
Guru bertanya:
“Berapa 3/4 ditambah 1/2?”
Seorang siswa menjawab, “4/6.”
“Salah.”
Siswa lain menjawab, “5/4.”
“Benar.”
Lalu kelas bergerak ke soal berikutnya.
Secara administratif, tidak ada masalah. Guru telah memperoleh jawaban yang benar.
Tetapi secara pedagogis, kita mungkin baru saja melewatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Mengapa anak pertama menjawab 4/6?
Mungkin ia menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut.
Jika demikian, jawabannya memang salah. Tetapi jawabannya memperlihatkan struktur berpikir.
Di sinilah guru menghadapi dua pilihan.
Pilihan pertama:
“Jawabanmu salah.”
Pilihan kedua:
“Menarik. Mengapa kamu berpikir 3/4 + 1/2 menjadi 4/6?”
Kalimat kedua tidak membuat jawaban salah menjadi benar.
Tetapi ia mengubah kesalahan menjadi objek pembelajaran.
Anak kemudian harus menjelaskan pikirannya.
Temannya dapat menanggapi.
Guru dapat memberikan representasi lain.
Mungkin dengan gambar.
Mungkin dengan potongan kertas.
Mungkin dengan garis bilangan.
Sampai akhirnya anak itu sendiri mengatakan:
“Oh, ternyata tidak bisa dijumlahkan begitu.”
Kalimat ternyata sangat penting dalam pendidikan.
Sebab ia menunjukkan sesuatu yang tidak terlihat dari angka nilai:
sebuah pikiran baru saja berubah.
Sekolah Terlalu Cepat Menghapus Kesalahan
Kita sering menganggap pembelajaran berhasil ketika kesalahan menghilang.
Padahal kesalahan tidak selalu merupakan gangguan terhadap pembelajaran.
Dalam kondisi tertentu, kesalahan justru menjadi jalan menuju pembelajaran.
Manu Kapur, melalui gagasan Productive Failure, menunjukkan bahwa pengalaman bergulat dengan persoalan kompleks dan bahkan menghasilkan solusi yang belum benar dapat mempunyai nilai pembelajaran ketika kemudian diikuti dengan konsolidasi dan pengajaran yang tepat.
Kata kuncinya adalah productive.
Tidak semua kegagalan mendidik.
Anak yang dibiarkan frustrasi tanpa dukungan tidak otomatis belajar.
Tetapi anak yang tidak pernah diberi kesempatan salah juga kehilangan sesuatu.
Ia kehilangan kesempatan menguji gagasan.
Membandingkan strategi.
Menyadari kontradiksi.
Dan memperbaiki pikirannya sendiri.
Ironisnya, kita sering terlalu cepat menyelamatkan anak dari pengalaman itu.
Anak salah sedikit, guru membetulkan.
Anak kesulitan, petunjuk diberikan.
Anak diam, jawaban dibisikkan.
Anak belum selesai berpikir, guru sudah menjelaskan.
Niatnya baik.
Kita ingin membantu.
Tetapi bantuan yang datang terlalu cepat dapat mengambil alih bagian paling penting dari belajar:
pergulatan kognitif anak itu sendiri.
Nilai Membutuhkan Cerita
Persoalan lain muncul ketika kemampuan anak diringkas menjadi angka.
85.
86.
87.
Kita membutuhkan nilai. Sekolah dengan ratusan siswa tentu memerlukan sistem asesmen.
Namun masalah muncul ketika angka berubah dari informasi tentang performa menjadi identitas anak.
“Dia anak pintar.”
“Dia biasa saja.”
“Dia lemah matematika.”
Seorang siswa mendapat 55.
Tetapi apa arti 55?
Mungkin ia memahami konsep tetapi melakukan kesalahan prosedural.
Mungkin ia memahami soal ketika menggunakan benda konkret tetapi kesulitan ketika berhadapan dengan simbol.
Mungkin kemampuan menghitungnya baik tetapi ia gagal memahami bahasa soal.
Dua siswa dapat memperoleh nilai 55 melalui proses berpikir yang sama sekali berbeda.
Angkanya sama.
Masalah belajarnya berbeda.
Maka intervensinya pun seharusnya berbeda.
Nilai memberikan hasil.
Tetapi guru membutuhkan cerita di balik hasil.
Ketika angka menjadi satu-satunya bahasa pendidikan, ruang tengah kembali menghilang.
“Seberapa Yakin Kamu?”
Ada eksperimen kecil yang sebenarnya dapat dilakukan hampir setiap guru.
Setelah siswa menjawab sebuah pertanyaan, jangan langsung mengatakan benar atau salah.
Tanyakan:
“Seberapa yakin kamu?”
Sangat yakin?
Cukup yakin?
Atau masih ragu?
Pertanyaan sederhana ini mengubah aktivitas kognitif.
Anak tidak hanya harus mencari jawaban.
Ia harus menilai kualitas jawabannya sendiri.
Inilah wilayah metakognisi.
Apa yang saya ketahui?
Apa yang belum saya ketahui?
Bagian mana yang membuat saya ragu?
Mengapa saya mempercayai jawaban ini?
Flavell sejak lama membahas pentingnya pengetahuan dan pemantauan terhadap proses kognitif sendiri melalui konsep metakognisi.
Namun praktik pendidikan kita terkadang terlalu sibuk mengukur apakah siswa mengetahui jawaban sehingga lupa mengembangkan kemampuan siswa mengetahui seberapa jauh ia mengetahui sesuatu.
Padahal perbedaannya besar.
Siswa pertama menjawab benar dan sangat yakin.
Siswa kedua menjawab benar tetapi sebenarnya menebak.
Di lembar ujian, keduanya memperoleh skor yang sama.
Secara pedagogis, keduanya berada di tempat yang berbeda.
Begitu pula siswa yang salah tetapi berkata:
“Saya tidak terlalu yakin karena bagian ini membingungkan.”
Kesadarannya terhadap kebingungan justru dapat menjadi modal belajar.
Karena itu mungkin kelas membutuhkan pertanyaan baru.
Bukan hanya:
“Apa jawabanmu?”
Tetapi juga:
“Mengapa kamu mempercayai jawaban itu?”
Guru Tidak Harus Selalu Tahu
Ada persoalan yang lebih sensitif.
Sekolah tidak hanya mempunyai budaya siswa harus tahu.
Guru pun sering merasa harus selalu tahu.
Seorang siswa mengajukan pertanyaan.
Guru tidak mengetahui jawabannya.
Situasinya terasa mengancam.
Maka muncul godaan untuk memberikan jawaban seadanya.
Padahal ada kemungkinan respons yang jauh lebih mendidik:
“Ibu belum tahu jawabannya.”
Lalu dilanjutkan:
“Mari kita cari.”
Bayangkan pesan pendidikan yang diterima siswa.
Ia melihat seorang dewasa yang mempunyai otoritas tetapi tidak takut mengakui keterbatasan pengetahuannya.
Guru tidak kehilangan wibawa karena mengatakan “saya tidak tahu”.
Sebaliknya, ia sedang memperlihatkan salah satu etika terpenting dalam ilmu pengetahuan:
jangan berpura-pura mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Inilah intellectual humility.
Kerendahan hati intelektual bukan tidak mempunyai keyakinan.
Ia adalah kemampuan menyadari bahwa pengetahuan kita mempunyai batas dan bahwa keyakinan kita mungkin memerlukan revisi.
Guru yang berani mengatakan “saya keliru” mungkin sedang memberikan pelajaran yang lebih penting daripada materi yang sedang diajarkannya.
Sebab siswa belajar bahwa orang berpengetahuan bukan orang yang tidak pernah salah.
Orang berpengetahuan adalah orang yang tahu apa yang harus dilakukan ketika ternyata ia salah.
Dari Soldier Menjadi Scout
Julia Galef dalam The Scout Mindset menggunakan metafora yang sangat berguna untuk pendidikan.
Ada soldier mindset dan ada scout mindset.
Prajurit mempertahankan wilayah.
Pengintai berusaha melihat medan sebagaimana adanya.
Di kelas, soldier mindset muncul ketika diskusi berubah menjadi perlombaan mempertahankan jawaban.
“Saya harus membuktikan bahwa kelompok saya benar.”
Akibatnya, informasi yang mendukung pendapat dicari.
Informasi yang melemahkannya diabaikan.
Bayangkan jika guru membalik tugas tersebut.
Setelah kelompok menyusun argumen, guru mengatakan:
“Sekarang cari kelemahan argumen kelompok kalian sendiri.”
Atau:
“Temukan bukti yang dapat menunjukkan bahwa kesimpulan kalian salah.”
Tugasnya berubah total.
Siswa tidak lagi sekadar belajar mempertahankan pendapat.
Mereka belajar menguji pendapat.
Jonathan Baron menyebut disposisi semacam ini actively open-minded thinking: kesediaan mencari alternatif, mempertimbangkan bukti yang bertentangan, dan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada kesimpulan yang sudah kita sukai.
Bukankah kemampuan semacam ini justru sangat dibutuhkan anak-anak kita?
Mereka akan hidup dalam dunia ketika informasi yang mendukung hampir semua keyakinan dapat ditemukan dalam beberapa detik.
Kemampuan mencari informasi tidak lagi cukup.
Yang mereka butuhkan adalah kemampuan bertanya:
“Informasi apa yang mungkin membuktikan bahwa saya salah?”
Kelas Bukan Tempat Memenangkan Perdebatan
Karena itu diskusi kelas juga perlu dipikirkan ulang.
Kita sering merasa diskusi berhasil ketika siswa aktif berdebat.
Belum tentu.
Perdebatan dapat menghasilkan pembelajaran.
Tetapi ia juga dapat sekadar melatih anak memenangkan argumentasi.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Tujuan diskusi bukan membuat siswa semakin pandai mengatakan:
“Kamu salah.”
Melainkan semakin mampu mengatakan:
“Saya tidak setuju, karena...”
Lebih jauh lagi:
“Awalnya saya tidak setuju. Tetapi setelah mendengar penjelasanmu, bagian ini masuk akal.”
Kalimat kedua jauh lebih sulit.
Sebab ia membutuhkan keberanian melepaskan posisi.
Ian Leslie dalam Conflicted menunjukkan bahwa ketidaksetujuan tidak harus menjadi sesuatu yang destruktif. Jika dikelola dengan baik, konflik gagasan dapat memperbaiki pemikiran dan keputusan.
Sekolah karena itu bukan tempat menghilangkan perbedaan.
Sekolah harus menjadi laboratorium untuk belajar berbeda pendapat.
Anak perlu mengalami bahwa orang yang berbeda pendapat bukan musuh.
Bahwa kritik terhadap gagasan bukan serangan terhadap harga diri.
Dan bahwa mengubah pikiran setelah mendengar argumen yang lebih baik bukan kekalahan.
Itu justru pembelajaran.
AI Membuat Persoalan Ini Semakin Mendesak
Lalu datanglah kecerdasan artifisial.
Hari ini siswa dapat menanyakan hampir apa saja kepada mesin.
Dalam beberapa detik muncul jawaban yang rapi.
Ada definisi.
Ada penjelasan.
Ada contoh.
Bahkan ada argumentasi.
Ini membawa peluang luar biasa bagi pendidikan.
Tetapi sekaligus sebuah risiko epistemik.
Anak dapat memperoleh jawaban lebih cepat daripada kemampuan menilai jawaban.
Karena itu pertanyaan pendidikan di zaman AI tidak cukup:
“Apakah siswa boleh menggunakan AI?”
Pertanyaan yang lebih penting:
“Apa yang harus mampu dilakukan siswa terhadap jawaban yang diberikan AI?”
Memeriksa.
Membandingkan.
Meminta bukti.
Mencari sumber.
Menemukan asumsi.
Mengidentifikasi kesalahan.
Menanyakan alternatif.
Dan, yang sangat penting:
meragukan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan.
Dalam dunia sebelum AI, kesulitan terbesar siswa mungkin menemukan informasi.
Dalam dunia setelah AI, kesulitannya bergeser menjadi menentukan informasi mana yang layak dipercaya.
Maka sekolah tidak boleh hanya menghasilkan anak yang cepat memperoleh jawaban.
Sekolah harus menghasilkan anak yang mampu berkata:
“Jawaban ini terlihat bagus, tetapi saya belum yakin.”
Jangan Terlalu Cepat Berkata “Benar”
Mungkin karena itu ada satu eksperimen pedagogis lain yang layak dicoba guru.
Sesekali, jangan terlalu cepat mengatakan:
“Benar.”
Seorang siswa memberikan jawaban.
Tanyakan kepada kelas:
“Siapa yang mempunyai cara berbeda?”
“Apakah jawaban ini selalu berlaku?”
“Apa buktinya?”
“Bisakah kalian menemukan contoh yang membuat kesimpulan ini tidak berlaku?”
“Adakah yang tadinya berpikir berbeda?”
Kelas berubah dari tempat mencari persetujuan guru menjadi ruang untuk menguji gagasan.
Guru tidak lagi selalu berdiri sebagai mesin verifikasi:
Benar.
Salah.
Benar.
Salah.
Ia menjadi perancang pengalaman berpikir.
Dan mungkin itulah salah satu transformasi penting profesi guru pada zaman ketika mesin sudah dapat menghasilkan jawaban.
Nilai seorang guru tidak semakin kecil karena AI mengetahui banyak hal.
Justru semakin besar.
Sebab pendidikan bukan hanya persoalan menyediakan jawaban.
Pendidikan adalah seni membentuk cara manusia memperlakukan jawaban.
Selamatkan Ruang “Belum”
Barangkali itulah ruang tengah yang perlu kita selamatkan dari sekolah.
Ruang antara:
tahu dan tidak tahu,
benar dan salah,
bisa dan tidak bisa,
setuju dan menolak.
Sebuah ruang bernama:
“belum.”
Saya belum tahu.
Saya belum memahami.
Saya belum yakin.
Saya belum menemukan bukti yang cukup.
Saya belum bisa menjelaskan mengapa.
Kata belum tidak berarti semua jawaban sama benarnya.
Dua ditambah dua tetap empat.
Fakta tetap dapat diperiksa.
Bukti tetap mempunyai kualitas.
Justru karena itulah anak harus belajar membedakan apa yang diketahui dengan kuat, apa yang masih mungkin, dan apa yang belum diketahui.
Kita tidak sedang mendidik mereka menjadi manusia yang meragukan segala sesuatu.
Kita sedang mengajari mereka menempatkan keyakinan sesuai dengan kekuatan bukti.
Itulah sebabnya pendidikan tidak boleh hanya memberikan keberanian kepada anak untuk mengangkat tangan ketika mengetahui jawaban.
Kita juga perlu memberikan keberanian untuk mengangkat tangan dan berkata:
“Bu, saya tadinya yakin. Tetapi setelah mendengar penjelasan teman saya, sepertinya saya harus mengubah jawaban.”
Jika suatu hari kalimat seperti itu terdengar biasa di kelas-kelas kita, mungkin kita telah mencapai sesuatu yang lebih penting daripada sekadar meningkatkan jumlah jawaban benar.
Kita telah membentuk manusia yang mengerti bahwa belajar bukan proses mempertahankan apa yang sudah ada di kepala.
Belajar adalah kesediaan membiarkan pikiran kita berubah ketika menemukan alasan yang lebih baik.
Dan di tengah pendidikan yang semakin mengejar kepastian, skor, jawaban cepat, dan hasil yang dapat diukur, mungkin salah satu tugas guru yang paling penting justru adalah menjaga sebuah ruang kecil di dalam kelas:
ruang untuk belum tahu, belum yakin, dan masih berpikir.

