Sumedang 448 Tahun: Refleksi Kemajuan, Wisata Viral, dan Tantangan Pembangunan

Analis kebijakan, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama DPP Ikatan Nasional Analis Kebijakan (INAKI)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dudih Sutrisman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumedang 448 tahun bukan sekadar perayaan, tetapi momentum refleksi atas arah pembangunan daerah yang sedang bergerak cepat. Hari jadi sering kali hanya menjadi seremoni tahunan. Namun, bagi Kabupaten Sumedang, usia ke-448 pada tahun 2026 menghadirkan cerita yang lebih kompleks. Di satu sisi, daerah ini sedang naik daun. Di sisi lain, ada tantangan besar yang tidak bisa diabaikan.
Dalam kurun akhir 2025 hingga awal 2026, Sumedang mencatat berbagai capaian di bidang inovasi pemerintahan, digitalisasi layanan publik, dll. Transformasi ini sejalan dengan dorongan reformasi birokrasi berbasis digital yang dalam literatur disebut sebagai digital governance, yaitu pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan publik (Dunleavy et al., 2006).
Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya tentang capaian. Lebih jauh, apakah kemajuan ini sudah inklusif dan berkelanjutan?
Sumedang 448 Tahun dan Akses yang Makin Terbuka
Perubahan paling terasa datang dari hadirnya Tol Cisumdawu. Infrastruktur ini memangkas waktu tempuh Bandung ke Sumedang secara signifikan, dari sekitar 2 jam menjadi kurang dari 1 jam dalam kondisi normal.
Dampaknya tidak kecil. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa peningkatan konektivitas wilayah berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan mobilitas barang serta jasa (BPS, 2024). Sumedang kini tidak lagi berada di pinggiran, tetapi mulai masuk dalam orbit pertumbuhan kawasan metropolitan.
Wisata Sumedang yang Viral di Era Digital
Fenomena yang paling terlihat adalah meningkatnya kunjungan wisata dengan mulai bermunculannya testimoni wisata viral di media sosial. Destinasi seperti Bendungan Jatigede, kawasan perbukitan, hingga wisata berbasis desa mulai ramai dikunjungi.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebut bahwa tren wisata domestik pascapandemi didorong oleh pengalaman autentik dan eksposur media sosial (Kemenparekraf, 2023). Sumedang memenuhi dua hal itu sekaligus.
Di sektor kuliner, tahu Sumedang tetap menjadi ikon. Namun, kini muncul banyak pelaku UMKM yang memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka. Efeknya, ekonomi lokal bergerak dari bawah.
Meski demikian, ada catatan penting. Tanpa pengelolaan yang baik, lonjakan wisata bisa menimbulkan tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur.
Agro Lokal: Ubi Cilembu dan Peluang Ekonomi
Di sektor pertanian, Ubi Cilembu menjadi contoh bagaimana produk lokal bisa naik kelas. Data Dinas Pertanian Jawa Barat menunjukkan bahwa permintaan ubi cilembu meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik untuk pasar domestik maupun ekspor terbatas.
Namun, dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, peningkatan produksi harus diiringi dengan perlindungan petani dan stabilitas harga. Tanpa itu, nilai tambah justru akan dinikmati oleh pihak di luar daerah.
Identitas Budaya: Puseur Budaya Sunda
Di tengah percepatan pembangunan Sumedang hari ini, Sumedang tetap memiliki identitas kuat sebagai Puseur Budaya Sunda. Warisan Kerajaan Sumedang Larang dan eksistensi Karaton Sumedang Larang menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh memutus akar budaya.
Dalam konsep pembangunan berbasis budaya, identitas lokal justru menjadi modal sosial yang memperkuat daya saing daerah (UNESCO, 2013). Artinya, budaya bukan penghambat modernisasi, tetapi justru fondasi.
Tantangan Pembangunan Sumedang ke Depan
Di balik semua potensi, terdapat berbagai ancaman yang perlu diantisipasi.
Pertama, ketimpangan wilayah masih terjadi. Tidak semua daerah merasakan dampak pembangunan secara merata.
Kedua, tekanan terhadap lingkungan semakin meningkat. Aktivitas galian pasir menjadi salah satu isu krusial. Jika tidak dikendalikan, dampaknya bisa berupa kerusakan lahan, erosi, hingga risiko bencana.
Ketiga, kesiapan sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Menurut teori human capital, kualitas SDM menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan pembangunan (Becker, 1993).
Tanpa SDM yang siap, pembangunan hanya akan dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.
Menjaga Arah di Tengah Percepatan
Apa yang terjadi di Sumedang hari ini menunjukkan satu hal. Daerah ini sedang bergerak cepat.
Namun dalam pembangunan, kecepatan saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah arah.
Konsep good governance menekankan bahwa pembangunan harus akuntabel, partisipatif, dan berkelanjutan (World Bank, 1992). Ini berarti setiap kebijakan harus benar-benar berpihak pada masyarakat, bukan hanya mengejar pertumbuhan angka.
448 Tahun: Momentum Naik Level
Dalam konteks Sumedang 448 tahun, Sumedang memiliki kombinasi yang jarang dimiliki daerah lain. Akses yang terbuka, potensi ekonomi yang berkembang, budaya yang kuat, dan capaian yang mulai terlihat.
Namun, tantangan ke depan juga tidak kecil. Viralitas bisa datang dan pergi. Yang bertahan adalah sistem yang kuat.
Sumedang punya peluang untuk menjadi daerah maju yang tetap berakar pada budaya. Teknologi dan tradisi tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan berdampingan.
Selamat Hari Jadi Sumedang ke-448.
Saatnya bukan hanya tumbuh cepat, tetapi tumbuh dengan arah yang jelas.
