Konten dari Pengguna

Mengenal Ahmad Rijal, Sosok Sekretaris Dewan Transportasi Kota Jakarta 2026-2029

Dewan Transportasi Kota Jakarta

Dewan Transportasi Kota Jakartaverified-green

merupakan lembaga merupakan lembaga independen yang berkedudukan di daerah sebagai forum konsultasi dan koordinasi antara masyarakat dan Pemerintah Daerah.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi :  Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi : Pribadi

Jakarta memang butuh sistem transportasi kelas dunia. Namun, lebih dari itu, Jakarta butuh sistem yang memiliki "hati"

Jakarta-Di sebuah ruang pertemuan di Jakarta, sebuah babak baru bagi mobilitas warga Ibu Kota baru saja dimulai. Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) resmi mengumumkan nakhoda barunya untuk periode 2026-2029. Namun, di antara deretan nama yang mengisi kursi kepengurusan, ada satu sosok yang kehadirannya terasa begitu kontras sekaligus memberikan harapan: Ahmad Rijal.

Pria yang akrab disapa "Bombom" ini resmi terpilih secara demokratis sebagai Sekretaris DTKJ, melanjutkan tongkat estafet yang sebelumnya digenggam oleh Adrianus Satrio Adi Nugroho.

Bagi mereka yang terbiasa dengan birokrasi yang kaku, sosok Rijal adalah sebuah anomali yang menyegarkan. Ia bukan sekadar pejabat yang bicara angka dari balik meja kaca. Rijal adalah saksi hidup hiruk-pikuk aspal Jakarta. Ingatannya masih tajam mengenang masa-masa ia berseragam putih-merah, menunggu bus kota di pinggir jalan untuk pulang sekolah—sebuah rutinitas yang ia lakoni secara konsisten hingga menamatkan bangku universitas.

Inilah yang membuat posisinya menjadi strategis. Rijal bukan sedang berteori tentang transportasi; ia sedang membicarakan hidupnya sendiri dan jutaan warga Jakarta lainnya.

"Transportasi itu bukan sekadar memindahkan raga dari titik A ke titik B," ujar Bombom dengan nada bicara yang mantap namun tetap tenang. "Ini tentang martabat, tentang kenyamanan, dan tentang menghargai waktu yang sangat berharga bagi setiap warga Jakarta."

Rekam jejaknya pun tak main-main. Sebagai mantan aktivis mahasiswa yang kerap bergelut dengan isu-isu akar rumput, ia memiliki kematangan organisasi di level nasional yang mumpuni. Kemampuannya bernegosiasi dianggap sebagai modal kuat untuk menjembatani jeritan pengguna transportasi di trotoar dengan dinginnya ruang pengambilan kebijakan di Balai Kota.

Kehadiran Rijal di kursi Sekretaris DTKJ seolah menjadi jawaban atas kritik selama ini. Di tengah ambisi besar Jakarta bertransformasi menjadi Global City, seringkali aspek kemanusiaan terlupakan dalam pembangunan infrastruktur yang megah. Publik kini menanti, apakah di bawah kawalan sosok yang besar di angkutan umum ini, DTKJ mampu melahirkan terobosan yang lebih inklusif.

Jakarta memang butuh sistem transportasi kelas dunia. Namun, lebih dari itu, Jakarta butuh sistem yang memiliki "hati"—yang tahu rasanya menunggu di bawah terik matahari dan paham artinya satu menit keterlambatan bagi seorang pekerja. Di tangan Bombom, harapan itu kini dititipkan.