Duduk Lama dan Kesehatan Mahasiswa: Belajar Bukan Sekadar Produktif

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Program Studi Fisioterapi
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Fania Keisya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesehatan mahasiswa sering kali kurang diperhatikan di tengah padatnya kegiatan perkuliahan. Mengikuti kelas, mengerjakan tugas, dan belajar di depan laptop membuat mahasiswa menghabiskan banyak waktu untuk duduk. Kebiasaan ini terkadang dianggap wajar karena menjadi bagian dari rutinitas akademik.
Padahal, menjaga postur tubuh dan tetap aktif juga penting untuk mendukung kegiatan belajar. Produktivitas seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya tugas yang diselesaikan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan selama menjalani perkuliahan.
Duduk dalam waktu lama sudah menjadi bagian dari rutinitas mahasiswa, tetapi kebiasaan ini perlu diimbangi dengan gerakan yang cukup. Saat mengerjakan tugas, mahasiswa sering kali terlalu fokus pada layar laptop hingga lupa mengubah posisi tubuh.
Ada pula kebiasaan menundukkan kepala terlalu lama atau duduk dengan punggung membungkuk karena posisi meja dan kursi kurang nyaman. Gao et al. (2023) melalui kajian terhadap berbagai penelitian menemukan bahwa postur duduk yang kurang tepat, kurangnya aktivitas fisik, dan penggunaan perangkat elektronik dalam waktu lama termasuk faktor yang berkaitan dengan nyeri leher pada mahasiswa. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan sehari-hari perlu diperhatikan, meskipun keluhan tubuh tidak selalu disebabkan oleh satu faktor saja. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa kenyamanan tubuh juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar.
Dampak Postur
Postur tubuh bukan sekadar persoalan terlihat tegak atau membungkuk, melainkan juga berkaitan dengan kenyamanan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika mahasiswa mempertahankan posisi yang sama terlalu lama, tubuh dapat terasa kaku, pegal, atau tidak nyaman, terutama pada bagian leher dan punggung.
Penelitian Bayraktar dan Mohammadzadeh (2026) membahas hubungan antara waktu duduk, penggunaan layar, aktivitas fisik, dan keluhan nyeri pada mahasiswa. Temuan seperti ini perlu dipahami secara bijak karena duduk lama tidak selalu menyebabkan nyeri pada setiap orang. Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu diperhatikan, terutama jika disertai kurangnya aktivitas fisik dan posisi belajar yang kurang nyaman.
Keluhan tubuh yang berulang dapat mengganggu kenyamanan ketika mengikuti perkuliahan maupun menyelesaikan tugas. Karena itu, produktivitas sebaiknya tidak hanya dinilai dari lamanya waktu belajar, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan selama menjalani aktivitas tersebut.
Dalam bidang Fisioterapi, gerak tubuh dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Prinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa melalui kebiasaan memperhatikan posisi duduk, mengatur tempat belajar, dan mengubah posisi secara berkala. Menjaga postur bukan berarti harus duduk kaku sepanjang waktu atau memaksakan satu posisi yang dianggap paling sempurna.
Tubuh tetap membutuhkan perubahan posisi dan kesempatan untuk bergerak. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mahasiswa lebih peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Dengan demikian, perhatian terhadap kesehatan tidak hanya dilakukan ketika keluhan muncul, tetapi juga melalui upaya pencegahan dalam rutinitas sehari-hari.
Mulai Bergerak
Menjaga kesehatan tubuh selama kuliah dapat dimulai dari perubahan kecil yang mudah dilakukan. Mahasiswa dapat berdiri sejenak, berjalan ringan, atau melakukan peregangan di sela-sela kegiatan belajar. Posisi laptop juga dapat disesuaikan agar layar mudah dilihat tanpa harus terus menundukkan kepala, sedangkan kursi sebaiknya memberikan dukungan yang nyaman bagi punggung.
Selain itu, aktivitas fisik secara teratur perlu menjadi bagian dari rutinitas, bukan hanya dilakukan ketika memiliki banyak waktu luang. Perubahan ini tidak harus dilakukan secara berlebihan, tetapi perlu diterapkan secara konsisten sesuai dengan kondisi masing-masing. Jika keluhan nyeri berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu aktivitas, mahasiswa sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan daripada hanya mengandalkan peregangan sendiri.
Menjaga kesehatan juga tidak seharusnya menjadi tanggung jawab mahasiswa seorang diri. Lingkungan kampus dapat mendukung kebiasaan sehat dengan menyediakan ruang belajar yang nyaman, fasilitas aktivitas fisik, serta edukasi mengenai kesehatan dan ergonomi. Dosen juga dapat memberikan jeda yang wajar dalam kegiatan belajar yang berlangsung lama.
Sementara itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran untuk menyeimbangkan tuntutan akademik dengan kebutuhan tubuh. Upaya bersama ini penting karena lingkungan yang mendukung dapat mempermudah seseorang menerapkan kebiasaan sehat. Kampus bukan hanya tempat untuk mengembangkan pengetahuan, tetapi juga lingkungan untuk membangun pola hidup yang lebih baik.
Pada akhirnya, duduk lama bukan berarti belajar secara maksimal. Mahasiswa memang perlu tekun menjalani perkuliahan, tetapi ketekunan tersebut sebaiknya disertai perhatian terhadap kesehatan tubuh. Mengubah posisi secara berkala, bergerak di sela-sela kegiatan, memperbaiki kenyamanan tempat belajar, dan beraktivitas fisik secara teratur merupakan langkah sederhana yang dapat diterapkan.
Kebiasaan ini bermanfaat bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat bahwa menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Belajar dengan baik bukan hanya tentang berapa lama seseorang duduk di depan buku atau laptop, melainkan juga tentang bagaimana menjaga tubuh agar tetap nyaman dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari.
