Sayang peken sukawati.

matahari itu terang, tapi terlalu silau untuk ditulis.
Tulisan dari Berita Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seluruh masyarakat khususnya di Bali pasti sepakat apabila Gianyar dinobatkan menjadi kota seni. Bagaimana tidak, banyak seniman lahir dan tumbuh di kota tersebut. Contoh saja, seniman di bidang Musik yaitu Balawan, lahir di Gianyar dan mengabdikan hidunya untuk memajukan seni music bernuansa kearifan lokal. Lain lagi I Ketut Budiana, seorang pelukis handal yang namanya sudah harum mewarnai jagad seniman tanah air, beliau juga merupakan tokoh seniman yang juga lahir dan tumbuh di kabupaten Gianyar. Banyak pula museum seni yang berdiri kokoh di wilayah kabupaten Gianyar ini.
Tidak hanya itu, kerajinan tangan dan kesenian juga menjadi komoditi utama bagi wirasuha muda asal Giayar untuk membangun usaha dan menciptakan lapagan pekerjaan yang layak bagi warga sekitarnya. Contoh saja kerajianan tangan berbahan dasar Bambo seerti kursi, meja, aneka jenis mebel, serta souvenir yang banyak di jumpai di kawasan Bona Gianyar, selain itu, ada juga kerajinan tangan dengan bahan emas dan perak yang bisa di jumpai di wilayah desa Celuk Gianyar. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Gianyar menyadari betul bahwa potensi perkembangan ekonomi mereka bisa bergantung pada proses pembuatan bahan kerajinan yang memiliki nilai seni dan daya jual yang tinggi.
Salah satu aspek yang mendukung keberlangsungan usaha tersebut adalah tersedianya wadah bagi para pengrajin untuk memasarkan hasil karya nya. Di Gianyar sendiri, terdapat pasar yang dibangun untuk dijadikan sebagai pusat pemasaran dari berbagai kaya kerajinan masyarakat Gianyar. Pasar tersebut bernama pasar seni Sukawati. Pasar ini terletak di kecamatan Sukawati, letaknya hanya 45 menit dari pusat kota Denpasar. Pasar ini juga banyak menyediakan jenis barang yang dijual, tidak hanya barang-barang kerajinan saja, melainkan aneka jenis pakaian khas Bali, kain khas Bali, lukisan, patung, Topeng, miniatur barong, serta tidak kalah ketinggalan, terdapat pula penjual jasa Tatto Temporari yang berkeliling di sekitar pasar.
Namun belakangan pasar seni Sukawati menjadi sorotan akibat bangunan gedungnya yang sudah mulai banyak kerusakan, belum lagi ditambah dengan sepinya pembeli yang lalu lalang di pasar tersebut diakibatkan oleh menjamurnya toko oleh-oleh Khas Bali yang menawarkan harga yang bisa saja lebih murah dari harga yang di jual di pasar Sukawati. Hal ini tentu mengundang perhatian banyak tokoh. Salah satunya ialah Tjok Raka Kerthyasa.

Tjok Raka Kerthyasa atau lebih akrab di sapa Cok Ibah yang juga merupakan seorag seniman di bidang sastra, lukis, tabuh dan tari mengatakan pendaatnya mengenai eksistensi pasar seni Sukawati. Cok Ibah menuturkan bahwa pasar Ini tempat masyarakat untuk mewadahi karya dan kerajinan yang mereka produksi. “masyarakatlah yang kita ajak melaksanakan adat, agama, dan budaya di Bali. Secara garis besar, pasar ini menyalurkan karya pematung, pemahat, tukang ukir hingga pelukis” tuturnya.
selain sebagai ikon Bali, khususnya Gianyar, Pasar Seni Sukawati juga telah membuka lapangan kerja untuk ratusan warga lokal. Pasar ini dipandang sudah memberi peran besar menyalurkan tenaga kerja. “Selain untuk inovasi seni, juga menciptakan lapangan kerja, sehingga membantu pemerintah mengurangi pengangguran dan juga kan ada pajak masuk ke pemerintah, jadi sumber seperti ini harus diperhatikan betul,” kata calon bupati dari Koalisi Gianyar Bangkit (KGB) ini.
dari itu, penting untuk memberikan perhatian lebih pada keberlangsungan dari pasar Sukawati ini. Demi menyediakan wadah yang ramah bagi para pelaku usaha, maka kebijakan yang tepat harus diambil. “penataan untuk ini (Pasar Seni Sukawati, red) sangat penting, dan ini menjadi tanggung jawab besar pemerintah” ujarnya. (adm)
