Membaca Nalar Keamanan Negara Lewat Lensa Budaya Strategis

Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aurell Safa Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aurell Safa Salsabila, Universitas Sriwijaya
Artikel ini akan mendiskusikan bagaimana budaya strategis membentuk nalar keamanan negara, dan mempengaruhi respons mereka terhadap ancaman internasional. Isu ini penting karena banyak konflik global dari Laut Cina Selatan hingga invasi Ukraina yang tidak dapat dipahami hanya melalui kalkulasi kekuatan material. Budaya strategis menunjukkan bahwa identitas, memori sejarah, dan pengalaman kolektif turut menentukan pilihan keamanan suatu negara. Penulis memiliki pandangan bahwa keamanan negara tidak dapat dianalisis secara objektif tanpa memahami lensa budaya yang membentuk persepsi ancaman. Untuk itu, penulis memusatkan fokus pada tiga argumen, yaitu: (1) budaya strategis memberi kerangka berpikir yang stabil bagi elite negara; (2) budaya strategis berpengaruh nyata pada respons keamanan negara; dan (3) kegagalan memahami budaya strategis meningkatkan risiko salah kalkulasi dalam politik internasional.
Budaya strategis menyediakan kerangka nilai, dan keyakinan yang relatif stabil bagi elite dalam memutuskan kebijakan keamanan. Konsep budaya strategis pertama kali dipopulerkan oleh Jack Snyder (1977) yang menjelaskan bagaimana keyakinan, nilai historis, dan persepsi elite membentuk doktrin militer suatu negara. Snyder menyebut bahwa setiap negara memiliki “set of general beliefs and assumptions” yang memandu pilihan strategisnya. Jack Snyder juga menjelaskan bahwa setiap negara memiliki seperangkat keyakinan historis yang memandu cara pandang mereka terhadap ancaman.
Konsep ini menjelaskan mengapa negara sering mempertahankan pola perilaku yang sama meskipun lingkungan geo-politiknya berubah. Kerangka ini berfungsi sebagai “filter kognitif” yang membatasi opsi kebijakan yang dianggap sah. Sebagai contoh, Amerika Serikat kerap mempertahankan kecenderungan intervensi militer karena keyakinan historis tentang peran globalnya sebagai penjaga tatanan dunia. Demikian pula Jepang, karena trauma Perang Dunia II, membangun budaya strategis yang berorientasi pada pertahanan minimal dan diplomasi. Pola pikir ini konsisten muncul dalam dokumen Defense of Japan setiap tahun, menunjukkan stabilitas kerangka keamanan yang dibentuk sejarah.
Budaya strategis berpengaruh nyata pada respons negara terhadap ancaman. Pola perilaku dari Tiongkok dalam isu keamanan dipengaruhi oleh memori historis “abad penghinaan”. Ini menjelaskan mengapa isu kedaulatan seperti Taiwan atau Laut Cina Selatan ditanggapi secara keras meskipun secara rasional bisa dinegosiasikan. Di Rusia, budaya strategis kontinental yang menekankan kebutuhan akan strategic depth membuat negara itu sensitif terhadap ekspansi NATO. Hal ini menjadi salah satu akar pembentuk kebijakan luar negeri Rusia yang agresif selama dua dekade terakhir. Dalam banyak kasus, respons negara tampak “tidak rasional” bagi pihak luar. Namun, bila dilihat melalui lensa budaya strategis, tindakan tersebut konsisten dengan identitas strategis yang mereka warisi.
Negara tidak pernah bertindak dalam ruang hampa. Norma, memori historis, dan ideologi nasional membentuk cara elite memahami ancaman. Mengabaikan budaya strategis meningkatkan risiko salah kalkulasi dan kesalahpahaman diplomatik. Banyak konflik terjadi bukan karena niat permusuhan, tetapi karena negara gagal memahami cara pandang lawannya terhadap ancaman. Misalnya, ketegangan antara AS dan Tiongkok sering meningkat karena AS menilai tindakannya sebagai upaya menjaga stabilitas, sementara Tiongkok memahaminya sebagai ancaman terhadap kedaulatan.
Perbedaan persepsi ini muncul karena kedua negara memiliki budaya strategis yang sangat berbeda. Jika setiap aktor memahami budaya strategis satu sama lain, banyak gesekan strategis dapat diredam sebelum menjadi krisis. Dengan kata lain, membaca nalar keamanan melalui budaya strategis adalah kebutuhan, bukan sekadar pilihan akademis.
Ketiga argumen di atas menyatakan bahwa budaya strategis menjadi kerangka pikir stabil, mempengaruhi respons negara, dan mencegah salah kalkulasi yang telah menunjukkan bahwa memahami budaya strategis adalah kunci membaca perilaku keamanan negara. Dengan menghubungkan kembali opini penulis pada isu utama, dapat disimpulkan bahwa politik keamanan global tidak dapat dipahami secara utuh tanpa memperhitungkan faktor budaya yang membentuk perilaku negara.
Memahami budaya strategis berarti memahami nalar keamanan negara. Dan di dunia yang semakin kompetitif, kemampuan membaca nalar inilah yang akan menentukan ketepatan kebijakan luar negeri. Di tengah rivalitas geopolitik yang meningkat, memahami budaya strategis bukan hanya penting bagi diplomat atau pengambil kebijakan, tetapi juga bagi publik yang ingin mengerti arah dunia.
References
Snyder, Jack. (1977). The Soviet Strategic Culture: Implications for Limited Nuclear Operations. RAND Corporation.
Lock, E. (2017). Strategic Culture Theory: What, Why, and How. In W. R. Thompson. Oxford
Research Encyclopedia of Politics. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190228637.013.320.
Baskaran, G. (2025, November 19). What’s in the new U.S.-Saudi minerals agreement?. Center for Strategic and International Studies. https://www.csis.org/
Japan Ministry of Defense. Defense of Japan.
https://www.mod.go.jp/en/publ/w_paper/
Metcalf, M. (2020). The national humiliation narrative: Dealing with the present by fixating on the past. Association for Asian Studies.
Kerrane, E. (2022). Moscow's strategic culture: Russian militarism in an era of great power competition. JAMS, Special Issue, Marine Corps University. https://doi.org/10.21140/mcuj.2022SIstratcul005
