Burung, Bukan Ular

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: suarakita.org
Bagi kalian para pemburu satwa, atau hanya hobi berburu satwa, sebaiknya anda berhati-hati terhadap tempat dimana anda menangkap satwa buruan anda. Ya meskipun berburu satwa itu sendiri ga bagus juga sih, kasian kan mereka jadi banyak yang punah. Terutama pada tempat-tempat angker, seperti pada pekuburan keramat di kabupaten Ciamis, yang bernama Jambesewu. Seseorang bernama Dariman, warga sekitar pekuburan Jambesewu, pernah mengalami kejadian aneh yang cukup menyeramkan.
Suatu hari, ia pergi ke pekuburan Jambesewu untuk berziarah ke kuburan almarhum Ayahnya. Sesampainya disana, ia berdoa dengan khusyu, dan tak lupa membersihkan kuburan Ayahnya serta mengganti bunga-bunga yang menghiasi gundukan kuburan tersebut. Lepas berziarah dan berdoa, ia segera beranjak pergi untuk pulang ke rumahnya.
Saat hendak keluar dari area pekuburan tersebut, ia menemukan seekor burung pipit sedang terkulai di tanah. Burung itu nampak mengalami cedera di bagian sayap sebelah kirinya, suatu cedera serius yang cukup membuatnya tak dapat terbang. Melihat burung itu, Dariman terketuk hatinya untuk mengambil burung tersebut dan merawatnya di rumahnya. Dariman sendiri sebenarnya merupakan seorang pemburu satwa liar, namun melihat seekor burung pipit yang cedera seperti itu tidak tega dirinya untuk menjual apalagi membunuh burung tersebut.
Akhirnya dibawalah burung tersebut ke rumahnya. Dariman memasukan burung tersebut ke dalam sebuah sangkar burung yang tak terpakai di rumahnya. Burung itu ia obati dan ia beri makan. Kemudian ia taruh di sebuah ruang kecil di bagian belakang rumahnya. Ruangan itu memang jarang sekali dikunjungi, karena debu yang menumpuk beserta perabotan-perabotan bekasnya. Dariman sendiri, di rumah itu hidup bersama istri dan dua anak kembarnya yang masih balita. Namun saat itu, saat Dariman membawa burung tersebut ke rumah, istri dan anak-anaknya sedang berkunjung ke rumah mertuanya yang berjarak 10 menit jalan kaki.
Malamnya, Dariman pergi dari rumahnya untuk berburu satwa liar di hutan. Ia berpamitan pada istri dan anak-anaknya yang telah datang. Baru berjalan beberapa menit, belum sampai di hutan yang biasa Dariman berburu di dalamnya, istrinya menelpon. Istrinya menanyakan dari mana Dariman mendapatkan ular sanca dalam sebuah sangkar burung yang ditaruh di gudang kecil rumah itu.
Mendengar laporan istrinya, ia segera menasehati istrinya untuk kembali ke rumah mertuanya dengan membawa anak-anak, adapun Dariman ia akan segera menyusul ke rumah mertuanya. Istri Dariman terheran-heran dan sempat memaksa untuk menanyakan apa maksud Dariman. Namun Dariman bersikeras dan menyatakan bahwa tak ada waktu untuk menjelaskan.
Istri dan anak-anak Dariman sampai duluan di rumah mertua Dariman. Kepada istrinya, dan juga keluarga mertuanya yang sedang ada di rumah itu, ia menjelaskan bahwa apa yang seharusnya ada di sangkar itu adalah burung, bukan ular. Ia pun menjelaskan apa yang telah ia alami pada saat ia ziarah.
