Darah Daging (Part 1)

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....
Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kali ini Mbah kedapatan cerita yang sangat apik dan menarik dari seorang penulis horor senior. Cerita ini sangat panjang akan tetapi mbah yakin bisa bikin bulu kuduk kamu merinding, langsung aja.
-Sudut pandang Kevin-
“Vin, ibu sebenarnya berat harus cerita ini ke kamu, di umur kamu sekarang mungkin kamu tidak akan paham akan keadaan keluarga akhir-akhir ini, tapi kamu sudah dewasa. Bahkan tahun ini keinginan kamu kuliah ibu ragu Vin,” ucap ibu, sambil mengelus kepalaku yang sedang duduk di teras rumah.
“Kevin juga paham Bu, apalagi Ayah akhir-akhir ini terlihat tidak biasanya dan banyak sekali teman-teman ayah yang berkunjung ke rumah ada apa sih bu sebenarnya?” tanyaku.
“Ayah bangkrut, utang ke Bank dari perusahan ayah tidak bisa dibayar lagi, sudah mencari investor ke mana-mana Ayah tidak dapat Vin,” jawab Ibu, sambil meneteskan air mata.
Aku hanya bisa terdiam, baru kali ini selama aku lahir dari rahim yang aku sebut malaikat ini, aku harus melihat air matanya perlahan turun membasahi pipinya.
Tatapannya pada wajahku sangat berat, seolah kalimat yang barusan keluar adalah kalimat yang tidak mau Ibu ucapkan sama sekali.
“Ibu sudah menghubungi sana-sini saudara dari Ayah dan Ibu tapi semuanya tidak bisa bantu, akhirnya bulan ini terpaksa, bulan terakhir kita disini Vin di rumah ini,” ucap Ibu kemudian.
Tidak ada satu ucapan pun yang berani aku keluarkan lewat mulutku ini, seperti tidak menyangka keadaannya jauh berbalik dan serba mendadak. Aku hanya diam, ketika ibu memelukku dan menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini pundakku berguna menjadi sandaran untuk Ibu.
[Cerita ini diadaptasi dari Twitter/qwertyping]
Malam ini, di tahun 2009 adalah malam terberat. Bercampur aduk dengan ambisiku. Cita-citaku, adikku Bayu, keluarga, dan kalimat yang barusan ibu ucapkan tidak ada yang membantu satupun dari saudara.
Hanya pikiran itu yang membuatku melamun, menatap kosong atap kamar. Perlahan air mataku juga menetes dengan sendirinya. Padahal, tujuan universitasku di kota J dan di kota B sudah sangat aku persiapkan segalanya.
Karena tahun ini aku baru saja lulus Sekolah Menengah Kejuruan dengan nilai dan prestasi yang membuat Ayah dan Ibu bangga. Hari-hari selanjutnya di Bulan 5 tahun ini sangat berat, tidak ada lagi yang aku kerjakan, hanya bermain dengan Bayu yang tahun ini juga dia harus masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), hanya bermain Playstation saja, menghabiskan waktu.
“Kak kenapa Ayah di rumah terus yah, biasanya kerja, kerja ketemu bayu malem aja,” tanya Bayu, dengan polos.
“Ibu sudah cerita?, tar tanya aja sama Bayu ke Ibu yah,” jawabku dengan tenang, padahal hati sudah tidak kuat untuk menjelaskan.
Malam ini, setelah Ibu keluar dari kamar Bayu, terdengar suara pintu rumah terbuka, aku lihat Ayah yang berjalan lemas, mendekat padaku, tapi tidak ada suara mobil yang aku dengar.
“Belum tidur kamu Vin?,” tanya Ayah sambil duduk dekatku.
“Belum yah masih main game ini,” ucapku singkat.
“Coba simpan dulu laptopnya, ayah mau bicara sama kamu,” ucap Ayah perlahan.
Tidak lama, Ibu mengantarkan air putih untuk ayah dan ikut duduk di sebelahku.
“Vin anggap aja ayah sedang bicara secara dewasa kepadamu yah, bicara orang dewasa itu harus tegas dan bijaksana, walau ini berat tapi ayah adalah pemimpin di keluarga ini. Kelak kamu juga akan menjadi pemimpin dan kamu sekarang juga pemimpin untuk diri kamu sendiri,” ucap Ayah dengan sangat perlahan.
Walau aku sudah tau apa maksud yang akan dikatakan ayah, pasti sama halnya dengan Ibu.
“Baik yah Kevin paham dan akan bersikap dewasa seperti apa yang barusan ayah katakan,” jawabku, menguatkan hati dan pikiran sekuat mungkin, untuk menerima apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut ayah.
“Bulan ini tinggal 7 hari lagi habis, Ibu sudah ceritakan sama Kevin, perusahaan ayah, yang Ayah bangun dengan 2 rekan bisnis ayah tahun ini harus gulung tikar Vin. Utang yang semakin membengkak harus terpaksa Rumah yang kita tempati sekarang di jual dulu,” ucap Ayah yang kelihatan sekali malu mengatakan hal ini.
Benar sangkaanku sebelumnya, pasti ayah berkata hal ini. Aku tidak menjawab, hanya sesekali menatap wajah ibu, dan ini kali kedua, aku melihat ibu meneteskan air matanya. Kondisi pertama Aku, Ibu dan Ayah mengobrolkan hal ini.
“Minggu depan Ayah dan Ibu juga Bayu akan pulang ke kota J ke rumah Eyang disana, Ibu dan Ayah bisa memulai usaha baru seadanya, sekalian menemani Eyang kamu,” jawab Ayah perlahan.
“Lalu aku yah gimana?” tanyaku heran, karena tidak disebut, dengan apa yang sudah ayah ucapkan.
“Kamu tinggal dulu bersama Nek Fatimah di kampung, Ayah sudah mengubungi mang Darma dan Bi Neneng, mamang kamu itu. Siapa tau nanti Ayah bisa kirim biaya, untuk kamu masuk kuliah di kota B itu, itu cita-cita kamukan?, harus tetap kamu jaga, sekalian temani nenek disana yah,” jawab ayah dengan berat hati menjelaskan pelan.
Aku tidak kaget dan menerima saja ucapan ayah itu, tapi aku merasa ingin menangis disaat kondisi seperti ini, ayah masih saja membuat aku kuat, dengan harus tetap menjaga cita-citaku, walau memang sangat berat menerima keadaan ini.
“Yah padahalkan bisnis ayah itu udah lama kenapa bisa seperti ini?,” tanyaku pelan, tidak bermaksud kurang sopan.
“Sudahlah Vin, kamu nanti juga paham yah, Ibu tau kamu anak yang pintar tapi ini bukan masalah untuk seusia kamu nak,” jawab ibu sambil mengusap kepalaku dengan pelan.
Melihat raut wajah ibu dengan segala kesedihan yang tergambar jelas diantar dua kelopak matanya, membuat aku tidak enak hati dan membenarkan apa yang ibu katakan.
“Sudah bu tidak apa-apa, Kevin sudah aku anggap dewasa dan wajar kalau dia tau kenapa-kenapanya biar dia juga bisa menerima keadaan ini?,” jawab Ayah menjelaskan.
Aku tidak mengerti dengan kondisi seperti ini, benar kata Ibu dan aku tidak menyalahkan apa yang dikatakan Ayah. Memang, untuk sebuah keharmonisan keluarga yang sesungguhnya, masalah memang benar-benar dibutuhkan.
“Keadaanya sangat cepat dan aneh Vin, bahkan ini diluar pemikiran Ayah bahkan rekan bisnis ayah, pak Deni dan pak Santoso juga jadi berbeda kepada Ayah dengan kondisi yang seperti ini sangat tidak masuk diakal, bisnis ayah sudah seusia dua kali lipat usia kamu sekarang,” ucap Ayah penuh heran.
“Tidak masuk diakal seperti apa yah?,” tanyaku, yang merasa heran dengan apa yang dikatakan Ayah.
Bersambung...
